Bukan Hanya Kejar Poin Olimpiade, Indonesia Open Momentum PBTI Bangun Warisan Taekwondo Indonesia

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Ramdani Bur , Jurnalis-Jum'at, 31 Juli 2026 |19:51 WIB

Bukan Hanya Kejar Poin Olimpiade, Indonesia Open Momentum PBTI Bangun Warisan Taekwondo Indonesia

PBTI berambisi membangkitkan prestasi atlet taekwondo Indonesia. (Foto: PBTI)

DI kembali penyelenggaraan 8th Asian Taekwondo Indonesia Open Championships 2026, Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) tengah mengusung misi nan jauh lebih besar daripada sekadar menjadi tuan rumah kejuaraan internasional. Bagi Ketua Umum PBTI Letjen TNI Richard Tampubolon, Indonesia Open merupakan bagian dari fondasi untuk membangun legacy taekwondo Indonesia demi membuka kembali jalan menuju panggung Olimpiade.

Sebanyak 478 taekwondoin dari 36 negara bakal bertanding di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, pada 1–5 Agustus 2026 dalam turnamen berstatus World Taekwondo G2 nan menjadi salah satu pengumpulan poin ranking bumi menuju Olimpiade Los Angeles 2028. Namun bagi PBTI, nilai terbesar kejuaraan ini bukan hanya terletak pada perebutan lencana maupun poin ranking dunia, melainkan pada kesempatan membangun ekosistem taekwondo nan semakin kompetitif dan berstandar internasional.

 PBTI) Atlet Taekwondo Indonesia berlatih serius jelang tampil di dua event besar. (Foto: PBTI)

“Kalau berbincang target, tentu Indonesia kudu naik podium. Namun nan sedang kami bangun jauh lebih besar lantaran prestasi tidak lahir dalam semalam. Prestasi lahir dari sistem nan kuat, kejuaraan nan berkelanjutan, pembinaan nan terarah, dan keberanian mengukur keahlian di level dunia,” kata Richard.

1. Misi Kembalikan Taekwondo Indonesia ke Olimpiade

Sejak dipercaya memimpin PBTI pada September 2023, Richard membawa visi besar untuk mengembalikan taekwondo Indonesia ke panggung Olimpiade nan sudah tidakhadir di lima Olimpiade terakhir.

Untuk mewujudkan sasaran tersebut, PBTI melakukan pembenahan secara menyeluruh terhadap sistem pelatnas. PBTI sekarang menerapkan sistem pelatnas berjenjang nan melibatkan atlet senior dan atlet muda sebagai bagian dari regenerasi menuju siklus Olimpiade berikutnya.

Penjaringan atlet pelatnas juga dilakukan secara objective. PBTI mulai membangun jalur pembinaan nan lebih terstruktur, seperti Ksatria Nusantara Series sebagai sistem seleksi nasional. PBTI juga menunjuk pembimbing asal Iran untuk menangani disiplin kyorugi untuk menggantikan pembimbing sebelumnya nan berasal dari Korea Selatan sebagai bagian dari peningkatan kualitas kepelatihan nasional.

“Legacy nan mau kami tinggalkan bukan hanya medali. Legacy itu adalah sistem nan terus berjalan, nan bisa melahirkan juara-juara baru, apalagi ketika kepengurusan ini sudah selesai,” ujar Richard.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com