Bukan Gas Alam, Tim UGM Ungkap Pemicu Api Misterius di Rumah Fia DIY

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Yogyakarta, CNN Indonesia --

Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM memastikan pemicu kejadian api misterius di kediaman Mutfiana namalain Fia, wilayah Seyegan, Sleman, DIY bukanlah gas alam.

PKPE mengungkap bahwa pemicu kebakaran spontan di rumah Fia bukan gas hidrogen (H2) alias gas fosfin (PH3) seperti konklusi sementara mereka sebelumnya.

Koordinator PKPE, Alva Edy Tontowi menuturkan, berasas hasil penelitian timnya dan merujuk pada prinsip teori segitiga api, pihaknya menyimpulkan bahwa medan elektromagnetik terukur pada level aman.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang berfaedah bukan pemantik nyala api; sumber api bukan dari rembesan gas alam dari bawah permukaan (lantai); tidak ada anomali termal dan tidak ditemukan gas nan dapat menyala sendiri secara alami (self-ignition) pada suhu kamar," kata Alva membacakan konklusi hasil penelitian PKPE di Fakultas Teknik UGM, Sleman, DIY, Sabtu (13/6).

Menurut Alva, tim menemukan info lanjutan bahwa api nan membakar material di rumah Fia kemungkinan berasosiasi dengan adanya resin poly vinyl chloride.

"Resin poly vinyl chloride nan mudah terbakar jika berjumpa sumber api (ignition). Resin ini telah ditemukan pada residu pembakaran berasas pengetesan metoda FTIR," jelas Alva.

Alva menjelaskan, bahwa pada Jumat (12/6) lalu, tim melakukan pengambilan sampel dari residu kebakaran nan ada di permukaan tembok keramik maupun kayu alias tripleks di rumah FIA. Mereka lantas menganalisis menggunakan metode FTIR.

Hasil kajian FTIR ini menunjukkan bahwa sampel-sampel tersebut menunjukkan kandungan poly vinyl chloride (PVC) nan tidak umum dijumpai pada permukaan tembok keramik maupun kayu alias tripleks.

Alva menerangkan, ketika PVC terbakar maka bakal muncul gas Hidrogen Klorida. Gas tersebut bisa terbaca sebagai gas hidrogen oleh detektor gas nan mempunyai sensor membran H2 dan kejadian ini disebut cross sensitivity.

Alva bilang, gas hidrogen klorida nan mempunyai atom hidrogen di dalam molekulnya bakal membikin elektroda sensor hidrogen bereaksi dan perangkat seolah membaca ada gas hidrogen.

Dengan adanya konklusi ini, lanjut Alva menuturkan, tim PKPE menyatakan bahwa penelitian kejadian api nan mereka lakukan sudah tuntas. Selanjutnya, tim menyerahkan hasil penelitian ini kepada BPBD Sleman.

Teror api misterius di rumah Fia sendiri dilaporkan tetap terjadi hingga Kamis (11/6) kemarin. Fia bilang pada saat itu kejadian kebakaran berulang telah muncul 125 kali sejak pertama kali muncul 21 hari sebelumnya.

Para peneliti dari UGM, UPN 'Veteran' Yogyakarta hingga Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah turun tangan menginvestigasi pemicu kejadian ini. Tiga senyawa nan sempat diduga sebagai penyebabnya, antara lain gas metana (CH4), gas hidrogen (H2) dan gas fosfin (PH3).

Tim UGM telah mengerahkan unit georadar dan mendeteksi sejumlah retakan nan diduga jadi jalur senyawa pemicu kemunculan api. Metode geolistrik juga sudah dikerahkan.

Tim peneliti UPN juga sudah melakukan penelitian geomagnetik guna mencari jenis batuan ultrabasa dan vulkanik nan bisa membentuk gas hidrogen.

Survei geolistrik di sekitar rumah Fia juga telah diterapkan demi memetakan lapisan batuan di bawah tanah dan mendeteksi struktur alias rongga nan menjadi jalur keluarnya gas pemicu api.

(kum/agt)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional