Buka Rakernis Densus 88, Kapolri Minta Antisipasi Ancaman di Ruang Siber

Sedang Trending 53 menit yang lalu

Jakarta - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo membuka Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Densus 88 Antiteror (AT) Polri 2026. Dalam kesempatan itu, Kapolri menekankan mengenai transformasi ancaman terorisme yang sekarang memanfaatkan teknologi kepintaran buatan alias Artificial Intelligence (AI) untuk menyasar generasi muda.

Rakernis digelar pada 18-20 Mei 2026. Dalam Rakernis tahun ini Densus 88 AT Polri mengusung tema strategi kolaboratif presisi dalam penanggulangan ekstremisme berbasis kekerasan dan terorisme guna menjaga stabilitas kamtibmas nasional.

"Densus 88 AT Polri kudu terus memperkuat keahlian intelijen teknologi dan intelijen manusia guna mengantisipasi transformasi ancaman nan bergerak sigap di ruang siber," kata Juru Bicara Densus 88 AT Polri Kombes Mayndra Eka Wardhana menyampaikan pengarahan Kapolri, Selasa (19/5/2026).

Jenderal Sigit menyoroti golongan ekstremis sekarang menggunakan AI untuk melakukan radikalisasi otomatis. Selain itu, kata dia, muncul kejadian kekerasan melalui platform permainan daring alias gamifikasi serta penyebaran salad bar ideology nan susah dideteksi secara konvensional.

Di sisi lain, Jenderal Sigit memberikan apresiasi kepada jejeran Densus 88 AT Polri nan sukses mempertahankan status zero terrorist attack alias nol serangan teror selama nyaris tiga tahun berturut sejak 2023-2025.

Menurutnya, keberhasilan ini berakibat langsung pada stabilitas nasional dan suasana investasi di Indonesia. Namun, dia mengingatkan agar Densus tidak lengah terhadap ancaman nan sekarang bergeser ke ranah siber.

"Keberhasilan tersebut tentu saja sangat mendukung stabilitas nasional, meningkatkan kepercayaan publik kepada Polri, serta memberikan akibat positif terhadap suasana investasi dan agenda strategis nasional maupun internasional," tutur Mayndra.

Mayndra mengungkap, hingga pertengahan 2026 tercatat 132 anak terpapar radikalisme di beberapa provinsi, sementara 115 anak lainnya terpapar mengerti kekerasan.

"Dan telah diintervensi oleh Densus 88 berbareng Polda dan Pemerintah Daerah beserta stakeholder terkait," ujar Mayndra.

Dia menyebut bahwa media sosial dan organisasi digital, seperti True Crime Community (TCC), sekarang menjadi pintu masuk rekrutmen dan penyebaran mengerti kekerasan.

"Fenomena ekstremisme saat ini telah berkembang dari pola ideologis konvensional menuju corak baru. Media sosial, platform digital, hingga game online sekarang dimanfaatkan sebagai sarana rekrutmen, grooming, serta penyebaran kekerasan," jelas Mayndra.

Dalam pembukaan Rakernis tersebut, Jenderal Sigit juga meninjau Milestone Wall nan menampilkan sejarah panjang penanggulangan terorisme di Indonesia, mulai dari era DI/TII, Bom Bali hingga penanganan Jemaah Islamiyah.

Sebagai corak apresiasi terhadap kerjasama internasional dan masyarakat sipil, Kapolri turut menyerahkan penghargaan kepada 12 tokoh dan mitra dari negara sahabat, akademisi, hingga psikolog nan dinilai berkontribusi besar dalam upaya pencegahan terorisme di tanah air. (ond/dwr)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News