Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.(Antara)
MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa realisasi penarikan utang untuk membiayai defisit APBN 2026 telah mencapai Rp305,5 triliun per 30 April 2026. Angka tersebut setara dengan 36,7 persen dari total pagu pembiayaan utang nan ditetapkan dalam APBN 2026 sebesar Rp832,2 triliun.
Di sisi lain, pembiayaan non-utang tercatat berada di nomor minus Rp7 triliun alias sekitar 4,9 persen dari sasaran APBN sebesar Rp143,1 triliun. Menkeu menjelaskan bahwa nomor minus tersebut mengindikasikan pemerintah telah merealisasikan pengeluaran dari skema pembiayaan non-utang.
“Ini pembiayaan terjaga dan terukur. Saya pikir pembiayaan utang sampai dengan April Rp305,5 triliun. Pembiayaan non-utang minus Rp7 triliun, artinya apa tuh? Sudah keluar Rp7 triliun,” ujar Purbaya dalam konvensi pers APBN KiTa jenis April 2026 di Jakarta, Selasa (19/5).
Realisasi Pembiayaan Anggaran Capai 43,3 Persen
Secara kumulatif, realisasi pembiayaan anggaran hingga akhir April 2026 telah menyentuh nomor Rp298,5 triliun. Capaian ini setara dengan 43,3 persen dari sasaran keseluruhan APBN nan dipatok sebesar Rp689,1 triliun. Pemerintah menegaskan bahwa seluruh pengelolaan pembiayaan dilakukan dengan prinsip kehati-hatian guna menjaga stabilitas fiskal dan kondisi kas negara.
Purbaya juga memastikan bahwa pemerintah tidak menemui hambatan berfaedah dalam proses publikasi surat utang. Kepercayaan pasar terhadap manajemen fiskal Indonesia dinilai tetap sangat solid, sehingga kebutuhan pendanaan negara tetap dapat terpenuhi di tengah dinamika pasar global.
Kredibilitas Surat Utang
“Perlu dicatat biaya kita cukup kredibel, kita tidak ada kesulitan untuk menerbitkan surat utang dan kita bakal jaga terus kredibilitas APBN kita,” tegas Menkeu Purbaya.
Pengelolaan Prudent dan Terukur
Ke depan, pemerintah berkomitmen untuk terus mengelola pembiayaan APBN 2026 secara prudent (bijaksana) dan terukur. Fokus utama tetap pada menjaga likuiditas pemerintah, optimasi kondisi kas, serta tetap waspada terhadap dinamika pasar finansial internasional.
Langkah-langkah strategis ini diambil untuk memastikan bahwa APBN tetap menjadi instrumen nan andal dalam menopang perekonomian nasional. “Dan kita bakal jaga terus kredibilitas APBN kita,” pungkasnya. (Ins/I-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·