Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, Budiman Sudjatmiko menanggapi kejadian nan terjadi saat obrolan berbareng mahasiswa di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Saat itu, sejumlah mahasiswa menggeruduk aktivitas obrolan nan dihadiri Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, dan Budiman Sudjatmiko. Dalam video nan beredar, massa mahasiswa meneriakkan kata "revolusi" hingga menggebrak-gebrak mobil.
Budiman mengaku dirinya dalam kondisi kondusif setelah menghadiri forum nan awalnya dirancang sebagai ruang perbincangan antara pemerintah dan mahasiswa.
Menurut Budiman, sekitar 45 hingga 50 menit pertama aktivitas berjalan lancar. Ia mengatakan ratusan mahasiswa datang secara tertib dan siap menyampaikan kritik maupun pertanyaan kepada para narasumber.
Dia menjelaskan obrolan dibuka Sudaryono nan menjelaskan kebijakan pemerintah mengenai ekspor satu pintu bahan-bahan mineral hingga program pengentasan kemiskinan. Selanjutnya, Nusron menjelaskan kehadiran di UGM adalah untuk berdialog, berdebat, dikritik, dikecam secara langsung oleh para mahasiswa.
"Dan kebanyakan dari mereka juga para demonstran lantaran sudah ditanya sebelumnya oleh panitia bahwa mereka para demonstran dan mereka siap menunggu kotak forum tanya jawab," kata Budiman dalam keterangannya, Rabu (17/6).
"Dan juga saya menjelaskan, menjawab pertanyaan moderator tentang riwayat saya sebagai demonstran dulu bagaimana, apakah saya anti perbedaan pendapat, apakah saya biasa mengusir orang nan berbeda pendapat," tambahnya.
Namun situasi berubah ketika sekelompok massa memasuki ruang obrolan dan meminta para pejabat pemerintah meninggalkan lokasi.
"Nah, pada saat kami menjelaskan itu semua, tiba-tiba dari arah belakang menyeruak rombongan puluhan orang merangsek membawa toa, poster, spanduk, merangsek ke panggung dan mengepung kami dan meminta kami untuk segera keluar dari ruangan obrolan itu. Kemudian memaki-maki kami, presiden, dan seluruh kabinet sebagai pembohong, saya sebagai pengkhianat reformasi tidak memperhatikan rakyat miskin, segala macam, kira-kira begitu," kata dia.
Budiman mengatakan pihaknya semula berambisi forum tersebut menjadi ruang berganti pendapat mengenai beragam program pemerintah, termasuk upaya pengentasan kemiskinan. Namun perbincangan tidak dapat dilanjutkan lantaran situasi semakin tidak kondusif.
"Padahal nan kami mau sampaikan dalam perbincangan itu nantinya adalah gimana sebenarnya program-program pengentasan kemiskinan dan apa nan kurang, apa nan salah, apa nan keliru," kata eks politikus PDIP itu.
Klaim Ada Kekerasan Fisik
Ia apalagi menyatakan terdapat tindakan kekerasan bentuk dalam kejadian tersebut.
"Kami menunggu masukan dari mahasiswa, tapi perbincangan itu ditutup sampai kemudian ada beberapa tindakan nan secara bentuk membahayakan. Ada pukulan juga terhadap Wakil Menteri Pertanian Bapak Sudaryono dan juga ada upaya memukul saya tapi kemudian dihalangi oleh ajudan saya sehingga pukulan itu mengenai kepalanya," katanya.
"Dan ketika dianggap situasi sudah tidak kondusif, sudah ada lempar-lemparan botol kepada kami, kemudian kami sebenarnya mau memperkuat di situ lantaran kami tidak boleh pergi dari situ jika bukan pihak panitia dan bukan pihak kampus nan mengusir kami, ya, nan mengusir kami," jelasnya.
Meski demikian, Budiman menegaskan dirinya tetap berupaya berbincang dengan sejumlah mahasiswa nan berada di dekatnya. Ia mengaku menjelaskan argumen dirinya masuk ke pemerintahan meskipun dulu dikenal sebagai aktivis.
"Beberapa di antara mahasiswa itu nan tepat berdiri depan saya mengatakan, ‘Pak Budiman, saya dulu mengidolakan Anda tapi Anda sekarang mengingkari rakyat, Anda masuk dalam kekuasaan.’ Saya bilang, ya saya masuk dalam kekuasaan lantaran saya mau membawa idealisme saya sebagai aktivis dulu. Tidak tabu bahwa aktivis masuk ke kekuasaan dan selagi tidak korupsi nggak ada masalah," ucapnya.
Menurut Budiman, dirinya akhirnya dievakuasi petugas keamanan setelah muncul indikasi kekerasan bentuk dan situasi semakin tegang. Sementara itu, Nusron Wahid dan Sudaryono sempat mencoba melanjutkan perbincangan di luar gedung.
"Tapi tidak terjadi diskusi, ada penghakiman dan mereka diminta mengaku merasa bersalah. Tidak terjadi obrolan lantaran situasi juga tidak makin kondusif tapi malah makin tegang sehingga Pak Nusron dan Pak Sudaryono, Menteri ATR/BPN dan Bapak Wakil Menteri Pertanian memutuskan nggak bisa diteruskan," katanya.
"Tidak lagi kondusif, memang bukan obrolan nan terjadi, bukan obrolan padahal kami maunya diskusi, maunya berdebat, kami maunya dikritik, kami mau mendengarkan, ya kami mau mendengarkan bukan situasi chaotic dan bukan penggagalan," tambah Budiman.
Lebih lanjut, dia berambisi kejadian tersebut tidak mengurangi ruang perbincangan antara pemerintah dan mahasiswa. Ia menegaskan pemerintah tetap terbuka terhadap kritik dan masukan.
"Jadi saya kira ini tidak surut kami pemerintah tetap dalam keadaan apa pun kami kudu menjelaskan dan kami kudu mendengarkan bukan hanya kami mau didengarkan kami juga kudu mendengarkan dan kami juga bersedia untuk dikritik," pungkasnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·