Anggota Korlantas Polri Briptu Ananda Rafi punya langkah tersendiri dalam menikmati daging kurban nan diterimanya. Ia memilih memasak sendiri daging kurban itu lampau membagikannya ke masyarakat.
Keinginan berbagi itu muncul saat Rafi kerap memandang orang kurang bisa tidur di pinggir jalan dengan kondisi memprihatinkan. Ia kemudian tergerak dan memasak sendiri daging itu.
“Saya bisa saja memasak dan memakannya sendiri. Tapi saat patroli, saya sering memandang masyarakat nan tidur di jalan. Tidak jarang ketika disamperin dan ditanya, mereka belum makan. Itu nan membikin hati saya tersentuh,” kata Rafi kepada kumparan, Selasa (16/6).
Ia mengaku memahami betul gimana rasanya menahan lapar. Rafi mengatakan dirinya bukan berasal dari family berada dan pernah merasakan sulitnya memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
“Saya tahu seperti apa rasanya lapar. Saya tahu rasanya mau makan makanan lezat seperti daging nan mungkin mahal dan eksklusif bagi sebagian orang saat ini,” ujarnya.
Berangkat dari pengalaman itulah, dia memutuskan mengolah daging kurban menjadi makanan siap santap untuk dibagikan kepada masyarakat nan tetap berjuang mencari nafkah di jalan.
Menurut Rafi, berbagi bukan hanya soal memberikan makanan. Momen itu juga menjadi kesempatan untuk mendengar cerita dan keluh kesah masyarakat nan ditemuinya.
“Saya sadar tangan saya terlalu mini untuk membantu semua orang. Tapi perihal besar berasal dari perihal kecil,” tuturnya.
Masak Sendiri hingga Jadi 34 Kotak Nasi
Sebelum dibagikan, Rafi menyiapkan sendiri seluruh proses memasak. Ia berbelanja beragam ramuan pendukung ke pedagang sayur, lampau memarinasi daging kurban menggunakan lada hitam agar cita rasanya lebih meresap.
Proses memasak itu juga direkam menggunakan tripod nan biasa digunakannya membikin konten. Setelah matang, makanan kemudian dikemas menjadi 34 kotak nasi dan dibawa menggunakan box motor patroli pengawalan (patwal).
Tidak ada rute unik dalam pembagian makanan tersebut. Saat bekerja patroli, Rafi membagikan makanan kepada siapa saja nan ditemuinya dan dinilai memerlukan bantuan.
“Untuk pengedaran makanan sendiri tidak saya targetkan. Ketemu masyarakat di jalan secara random saya bagikan. Berkeliling sembari patroli, mengedukasi masyarakat nan belum tertib di jalan, ketika menemukan masyarakat nan memerlukan saya bagikan,” katanya.
Kisah Driver Ojol Tak Pernah Dilupakannya
Di kembali rutinnya berbagi makanan, ada satu peristiwa nan hingga sekarang paling membekas di ingatan Rafi.
Beberapa bulan lalu, dia menemukan seorang pengemudi ojek online nan tertidur di atas sepeda motornya. Setelah dihampiri, dia mengetahui bahwa pengemudi tersebut kelelahan dan belum makan berbareng istri serta anaknya.
Saat itu, orderan sedang sepi. Pengemudi tersebut apalagi kebingungan mencari duit untuk menutupi biaya sewa motor nan digunakannya bekerja.
“Cerita itu membikin saya betul-betul tidak bisa menahan air mata. Saya betul-betul tahu seperti apa rasa sakitnya lapar itu,” ujar Rafi.
Pertemuan tersebut menjadi titik awal nan semakin menguatkan niatnya untuk rutin berbagi kepada masyarakat. Baginya, langkah mini itu merupakan salah satu corak kehadiran polisi di tengah masyarakat.
Aksi berbagi makanan tersebut rupanya bukan pertama kali dilakukan Rafi. Ia mengaku aktivitas serupa telah rutin dijalankan sejak Februari 2026 melalui program infak Jumat dan infak subuh.
“Berbagi ini alhamdulillah sudah rutin sejak bulan Februari. Ada infak Jumat dan infak subuh,” kata Rafi.
Menurut dia, aktivitas tersebut menjadi langkah sederhana untuk membantu masyarakat nan ditemuinya saat bekerja di lapangan. Selain memberikan makanan, dia juga kerap menyempatkan diri berbincang dan mendengarkan cerita mereka di jalanan.
9 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·