Buah dari Kompetisi yang Sehat

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Buah dari Kompetisi nan Sehat Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

ASTON Villa mengangkat Piala UEFA setelah mengandaskan Freiburg 3-0 di Istanbul, Turki, Rabu malam. Kesuksesan Villa tidak hanya membawa mereka kembali menjadi klub terbaik di Eropa setelah 1996, tetapi juga mengukuhkan sepak bola Inggris sebagai nan terbaik di Eropa.

Apabila 31 Mei kelak di Budapest, Hungaria, Arsenal bisa merebut Piala Champions, pengukuhan itu bakal semakin lengkap. Inggris berada di puncak pembinaan sepak bola mereka.

Hingga awal 2000-an sepak bola Inggris belum dikenal sebagai kejuaraan nan menarik untuk ditonton. Pada masa itu Seri A Italia jauh lebih menyedot perhatian lantaran semua pemain terbaik bumi berkompetensi di sana.

Football Association melakukan pembenahan pada kejuaraan mereka. Para ahli diundang untuk mengelola kejuaraan di sana. Investasi asing dipersilakan untuk mengambil alih kepemilikan dan pengelolaan klub nan usang serta feodal.

Inggris menyadari bahwa sepak bola mereka tertinggal jauh. Pesepak bola terbaik bumi bukanlah pemain Inggris. Pemain-pemain asing diundang untuk masuk dan nama besar seperti Juergen Klinsmann dan Eric Cantona meramaikan kejuaraan di Inggris.

Perlahan pemain-pemain muda Inggris bermunculan. Dimulai oleh revolusi sepak bola nan dilakukan Sir Alex Ferguson dengan memunculkan pemain muda seperti David Beckham, Ryan Giggs, Gary Neville, dan Paul Scholes untuk 'dimatangkan' berbareng Cantona di Manchester United.

Kesuksesan 'Setan Merah' dengan skuad mudanya membikin klub-klub lain melakukan perombakan radikal. Pemain-pemain senior Inggris nan lebih banyak mabuk-mabukan diganti pemain-pemain muda nan penuh semangat.

Tidak ada pembinaan nan instan, tidak ada pengelolaan sepak bola nan mudah. Konsistensi nan dilakukan Inggris dalam mentransformasi sepak bola mereka, kejuaraan mereka, membikin kualitas sepak bola mereka secara perlahan meningkat.

Sekarang ini Liga Primer merupakan kejuaraan terbaik dan paling kompetitif di dunia. Liga Primer lebih menarik jika dibandingkan dengan La Liga Spanyol, Seri A Italia, Bundesliga Jerman, dan Seri A Brasil.

ATURAN TEGAS 

Profesionalisme menjadi pilar paling utama transformasi nan dilakukan Badan Liga Primer (PLB). Pemimpin PLB nan sekarang adalah seorang perempuan, Alison Jane Brittain, dengan latar belakang bankir dan chief executive officer perusahaan hotel dan restoran multinasional.

Brittain bekerja sama dengan Richard Parry nan menjadi Chairman Liga Sepak Bola Inggris (EFL) nan mengurusi kejuaraan sepak bola di bawah Liga Primer. Kerja sama itu menjadi krusial lantaran ada promosi dan degradasi nan setiap tahun terjadi antara Liga Primer dan EFL.

Kedua organisasi bisa bekerja sama dengan baik lantaran Parry sebelum menjabat posisi nan sekarang diisi Brittain. Mereka mempunyai tanggung jawab untuk terciptanya kejuaraan nan sehat agar bisa mendukung pembinaan sepak bola Inggris.

Penerapan peraturan nan tegas membikin semua kejuaraan di Inggris melangkah dengan baik. Sanksi keras langsung dijatuhkan kepada klub nan tidak menghormati fair play dan mencederai sportivitas.

Southampton nan sedang berjuang untuk promosi ke Liga Primer, misalnya, dicoret untuk tampil di final pertandingan promosi melawan Hull City di Stadion Wembley, Sabtu besok. 'The Saints' dijatuhi balasan lantaran terbukti melakukan tindakan mata-mata terhadap Oxford United, Ipswich Town, dan Middlesbrough dalam perjalanan mereka menuju final promosi EFL.

Kompetisi EFL musim ini sudah meloloskan dua klub teratas ke Liga Primer musim mendatang, ialah Coventry City dan Ipswich. Satu tempat tersisa diperebutkan empat klub ranking ketiga sampai keenam, ialah Millwall, Southampton, Middlesbrough, dan Hull. Mereka memainkan pertandingan play-off dengan Millwall berjumpa Hull dan Southampton berhadapan dengan Middlesbrough.

Boro mengadu kepada pihak Komisi Disiplin EFL bahwa asisten pembimbing 'the Saints' William Salt memata-matai latihan nan dilakukan timnya di Kim Hellberg. Salt ketahuan berlindung di atas pohon untuk merekam latihan nan sedang dilakukan para pemain Boro.

Ternyata tindakan asisten pembimbing Southampton itu tidak hanya dilakukan sekali. Sebelumnya pada Desember dia memata-matai latihan tim Oxford dan pada April mengintip latihan Ipswich.

Atas tindakan nan tidak sportif itu, Komisi Disiplin EFL langsung mendiskualifikasi 'the Saints' untuk tampil di final. Middlesbrough nan mereka kalahkan di semifinal menggantikan untuk menghadapi Hull di final pertandingan promosi EFL.

Pihak Southampton mencoba untuk melakukan banding dan berambisi hukumannya tidak sekeras itu. Namun, pihak EFL menolak banding nan dilakukan dan apalagi menghukum pengurangan empat poin atas tindakan nan tidak sportif itu.

SAMPAI AKHIR

Kompetisi sepak bola Inggris berjalan seru sampai saat-saat terakhir. Arsenal, nan menjadi juara baru Liga Primer, baru bisa memastikan diri pada pertandingan ke-37.

Penantian 22 tahun nan dijalani 'the Gunners' baru bisa dipastikan setelah saingan terdekat mereka, Manchester City, dipaksa bermain seri 1-1 oleh Bournemouth, Rabu lalu. Dengan empat poin perbedaan di antara keduanya, Arsenal tidak mungkin tergoyahkan meski kalah di pertandingan terakhir Minggu nanti.

Namun, Arsenal pasti tidak mau sekadar tampil seadanya di pertandingan 'final' melawan tuan rumah Crystal Palace di Selhurst Park. Tim didikan Mikel Arteta mau menutup musim kejuaraan dengan gemilang sebagai pelengkap pesta besar nan dipersiapkan pendukung 'the Gunners'.

Formasi terbaik Arsenal bakal diturunkan untuk menghibur pendukung mereka nan sudah begitu lama menunggu juara. Tiga musim terakhir mereka hanya bisa menjadi tim nomor dua di Liga Primer.

Perjalanan sekitar 1,5 jam dari Selhurst Park ke Stadion Emirates bakal sangat ingar-bingar Minggu nanti. Rabu malam lalu, mereka mau menunggu hingga tengah malam untuk memastikan nasib juara mereka. Pesta kembang api langsung terjadi begitu pertandingan di Bournemouth berakhir.

Kehadiran Eberechi Eze dari Palace, Declan Rice dari West Ham, dan Viktor Gyokeres dari Sporting Lisbon membawa perubahan besar di Arsenal. 'The Gunners' menjadi klub nan paling sedikit kebobolan dan nan paling produktif kedua mencetak gol setelah 'the Citizens'.

Mantan kapten Arsenal Patrick Vieira merasa yakin, kesuksesan itu bakal menjadi pembuka kesuksesan berikutnya. “Berbeda dengan masa saya ketika Arsenal kudu bersaing dengan Manchester United, Chelsea, dan Liverpool, sekarang ini hanya Manchester City nan menjadi saingan terberat. Saya percaya setelah ini Arsenal bakal bisa juara satu-dua musim ke depan,” ujar gelandang asal Prancis itu.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia