ilustrasi Biodiversitas Indonesia.(Halodoc)
BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat pengembangan kandidat obat penyakit infeksi berbasis kekayaan hayati Indonesia guna memperkuat ketahanan farmasi nasional.
Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian mengatakan Indonesia tetap menghadapi beragam penyakit jangkitan endemik, seperti malaria, tuberkulosis, demam berdarah, dan amebiasis. Tantangan tersebut semakin kompleks akibat perubahan iklim, globalisasi, serta meningkatnya resistansi patogen.
"Indonesia adalah negara megabiodiversitas dengan potensi besar untuk menemukan senyawa terapeutik baru dari kekayaan sumber daya hayati. Namun, mentranslasikan potensi tersebut menjadi kandidat obat nan layak tetap menjadi tantangan nan perlu dipercepat melalui riset dan pengembangan," ujar Amarulla, Selasa (4/8).
Ia mengungkapkan penguatan kapabilitas riset menjadi bagian krusial untuk mendukung ketahanan farmasi nasional. Saat ini, Indonesia tetap mengimpor lebih dari 90% bahan baku dan bahan aktif farmasi nan digunakan industri farmasi dalam negeri.
Karena itu, BRIN berkomitmen mengoptimalkan pemanfaatan biodiversitas Indonesia sebagai sumber penemuan kesehatan. Menurut Amarulla, pengembangan obat tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga sehingga memerlukan kerjasama lintas disiplin, mulai dari penemuan senyawa, optimasi senyawa unggulan, pengetesan efektivitas in vivo, hingga pertimbangan keamanan praklinis.
"Riset nan kita lakukan kudu bisa menjembatani valley of death melalui riset translasional, optimasi senyawa unggulan, serta pertimbangan keamanan dan efektivitas praklinis nan komprehensif. Kita perlu mentranslasikan biodiversitas lokal dan hasil riset tahap awal menjadi kandidat terapi nan layak bagi penyakit jangkitan endemik sehingga memberikan akibat nyata bagi ketahanan kesehatan nasional," tegasnya.
Senior Representative JICA Indonesia Office Hiroyuki Matsuda mengatakan penyakit jangkitan tetap menjadi tantangan kesehatan global, terutama dengan meningkatnya ancaman resistansi obat.
"Indonesia mempunyai kelebihan sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Tantangannya adalah gimana mengubah sumber daya biologis tersebut menjadi obat nan aman, efektif, dan mudah diakses masyarakat," ujarnya.
Menurut Matsuda, proyek SATREPS nan didukung Japan Agency for Medical Research and Development (AMED) dan JICA telah membangun kemitraan ilmiah jangka panjang antara Indonesia, Jepang, dan Malaysia.
Pada fase pertama, proyek tersebut sukses mengidentifikasi sejumlah senyawa unggulan dari sumber daya hayati Indonesia. Kini, penelitian memasuki tahap optimasi senyawa dan pertimbangan keamanan nonklinis untuk mendukung pengembangan obat.
Sementara itu, Program Officer SATREPS AMED Manabu Ato menilai kerjasama trilateral nan telah melangkah selama satu dasawarsa menunjukkan kemajuan, baik dari sisi capaian ilmiah maupun penguatan kapabilitas sumber daya manusia.
Ia menambahkan, kerja sama Indonesia, Jepang, dan Malaysia berpotensi menjadi fondasi krusial bagi pengembangan riset obat penyakit jangkitan melalui penguatan kapabilitas riset serta penerapan hasil penelitian secara berkelanjutan. (Ata/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·