ilustrasi.(MI)
BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat kerjasama riset internasional dengan Jepang dan Malaysia untuk mempercepat penemuan serta pengembangan kandidat obat penyakit jangkitan berbasis kekayaan hayati Indonesia. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat kemandirian farmasi nasional sekaligus mendorong hasil riset menuju tahap praklinis hingga kemitraan dengan industri.
Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN sekaligus Project Director Agus Haryono mengatakan penyakit jangkitan tetap menjadi tantangan besar kesehatan global. Ancaman tersebut semakin meningkat seiring munculnya mikroorganisme nan resisten terhadap obat, termasuk resistensi antimikroba, Plasmodium, dan Mycobacterium tuberculosis.
"Indonesia tetap menghadapi tantangan dalam kemandirian industri farmasi lantaran lebih dari 90 persen bahan baku obat dan bahan aktif farmasi tetap berjuntai pada impor. Padahal, Indonesia mempunyai keanekaragaman hayati nan sangat besar, baik dari tumbuhan maupun mikroorganisme darat dan laut, nan berpotensi menjadi sumber senyawa obat," kata Agus dalam keterangan resmi, Rabu (5/8).
Menurutnya, banyak penelitian sukses mengisolasi dan mengidentifikasi senyawa aktif dari bahan alam, tetapi hanya sedikit nan berkembang menjadi kandidat obat. Hal itu disebabkan keterbatasan kapabilitas pada tahap awal pengembangan, mulai dari optimasi struktur kimia, kajian farmakokinetik, hingga pertimbangan keamanan praklinis.
"Tanpa keahlian translasi nan memadai, banyak hasil riset berpotensi berakhir pada tahap awal alias berada di valley of death dalam proses penemuan obat," ujarnya.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, BRIN berbareng mitra dari Jepang dan Malaysia menjalankan proyek Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (SATREPS) nan didukung Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Japan Agency for Medical Research and Development (AMED). Program ini dirancang menjembatani riset dasar berbasis produk alami menuju pengembangan kandidat obat nan siap memasuki tahapan penelitian berikutnya.
Sejak memasuki fase kedua pada 2021, para peneliti Indonesia mengikuti beragam program peningkatan kapasitas, seperti high-throughput screening, pengembangan platform uji, pemurnian dan identifikasi struktur senyawa, optimasi struktur kimia, hingga pertimbangan keamanan dan efektivitas praklinis melalui pengetesan in vitro maupun in vivo. Program tersebut juga diperkuat melalui pertukaran peneliti ke laboratorium di Jepang dan training teknis berbareng master internasional.
Agus mengungkapkan kerjasama itu telah menghasilkan sejumlah kandidat senyawa potensial untuk penyakit nan disebabkan virus dengue, Mycobacterium tuberculosis, Entamoeba histolytica, dan Plasmodium falciparum. Sejumlah turunan senyawa juga menunjukkan aktivitas biologis nan lebih baik setelah melalui optimasi struktur.
"Ke depan, BRIN bakal terus mendorong penguatan jalur pengembangan kandidat obat menuju tahapan praklinis, pertimbangan klinis, hingga kemitraan dengan industri," tegasnya.
Selain mengembangkan kandidat obat, BRIN juga berupaya memperluas jejaring SATREPS di Asia Tenggara dengan meningkatkan sinergi riset antara Indonesia, Malaysia, Jepang, dan negara lain untuk menghadapi tantangan penyakit infeksi.
Sementara itu, Project Director University of Malaya Yeun-Mun Choo mengatakan penyakit jangkitan dan meningkatnya resistensi antimikroba hanya dapat diatasi melalui kerjasama lintas disiplin, lembaga, dan negara.
"Pengembangan obat merupakan proses panjang dan kompleks sehingga diperlukan fondasi ilmiah nan kuat, pemanfaatan teknologi terbaru, serta kemitraan internasional nan berkelanjutan," ujarnya.
Ia menambahkan simposium tersebut menjadi wadah bagi para peneliti untuk berbagi pengetahuan, mempresentasikan perkembangan riset terkini, sekaligus membangun kerjasama baru guna mempercepat lahirnya terapi inovatif bagi penyakit infeksi. (Ata/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·