Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihari Pujowaskito(Dok Istimewa)
BPJS Kesehatan secara resmi meluncurkan program Menabung Demi Iuran JKN alias NADI JKN. Melalui program ini, peserta BPJS Kesehatan dapat melakukan angsuran untuk membayarkan iuran JKN mereka.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihari Pujowaskito, mengatakan bahwa program ini terwujud untuk memperkecil defisit BPJS Kesehatan dan mendorong keaktifan masyarakat untuk menjadi peserta JKN.
“Defisit menyebabkan kita konsentrasi sebanyak mungkin meningkatkan keaktifan masyarakat sebagai peserta BPJS Kesehatan. Karena 54 juta nan tidak aktif ini untuk nan kelas 3 saja bisa mencapai Rp2 triliun per bulan. Kita juga menghadapi masyarakat alias peserta nan mempunyai ilmu jiwa jika enggak sakit dia enggak iuran. Kita juga menghadapi banyak masyarakat nan sudah sadar bahwa cakupan perlindungan kesehatan ini sangat penting. Dia sudah mengerti dan memahami tapi penghasilannya harian dan kadang-kadang pas. Oleh lantaran itu BPJS Kesehatan perlu mencari beragam macam langkah untuk mengumpulkan iuran itu seaman mungkin, secepat mungkin dari para peserta BPJS Kesehatan,” ungkapnya dalam Peluncuran Program NADI JKN (Menabung Demi Iuran JKN), Selasa (4/8).
Lebih lanjut, dia menambahkan bahwa kepesertaan aktif JKN menjadi sasaran RPJMN di mana sebanyak 83,5% masyarakat diharapkan aktif menjadi peserta dengan membayarkan iuran.
“Tapi untuk mencari 1% saja kita perlu effort nan luar biasa. Sehingga dengan beragam macam langkah ini kita bakal berupaya memenuhi target-target tersebut,” tegasnya.
Ke depan, BPJS Kesehatan bakal melebarkan program ini ke seluruh segmen kalangan masyarakat. “Jadi bukan hanya ojek online, kelak kita bakal lanjut ke segmen lain baik itu nelayan, petani lewat Koperasi Merah Putih semuanya bisa kita lakukan lewat NADI JKN,” lanjutnya.
Di tempat nan sama, Anggota Dewan Pengawas BPJS Kesehatan, Lula Kamal, berterima kasih dan mengapresiasi hadirnya program NADI JKN dari BPJS Kesehatan ini.
“Saya adalah orang nan bawel bercerita bahwa orang-orang nan pekerjaannya harian dan dapat upahnya harian, mereka bakal susah menabung untuk bayar bulanan. Sebenarnya simpel hanya Rp35 ribu. Mungkin itu bagi sebagian orang mini tapi buat teman-teman itu belum tentu kecil. Jadi harusnya mesti ada cerita nan upahnya harian bisa iuran untuk JKN ini,” ujarnya.
NADI JKN dikatakan menjadi satu langkah baru bagi Indonesia nan nantinya bakal memudahkan masyarakat Indonesia untuk aktif dalam program BPJS Kesehatan.
“Kalau nomor kepesertaannya super sudah di atas 98% tapi nomor keaktifannya tetap di nomor 79%. Sayang sekali tetap ada 20% lebih masyarakat kita nan belum bisa aktif. Kalau kemudian NADI ini kita luncurkan, ini bakal membikin keaktifan tersebut bisa didongkrak naik lagi,” ucap Lula.
Di lain pihak, Chief of Public Affairs, Policy & Government Relations PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, Dyan Shinto Ekopuri, mengatakan sebanyak 3.147 mitra Gojek nan berasosiasi di BPJS Kesehatan melalui program NADI JKN ini.
“Ini juga bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk family mereka, sehingga nan terproteksi bukan hanya driver sendiri tapi juga keluarga. Menyambut program NADI JKN, kami bakal melakukan sosialisasi masif di aplikasi sehingga teman-teman lebih mudah lagi untuk mengikuti program JKN,” kata Shinto.
Ke depan, dia berambisi peluncuran NADI JKN dapat menjadi awal dari tambahan program lain nan dapat dilakukan untuk pengemudi ojek online.
“Sangat krusial bagi kami ke depannya memastikan teman-teman kami ketika mereka di jalan tetap sehat, terlindungi, dan tidak perlu cemas ketika di jalan terjadi musibah lantaran kita sudah sedia payung sebelum hujan,” tuturnya.
Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, menambahkan bahwa program ini menjadi penemuan nan sangat krusial dalam mendukung keberlanjutan peningkatan kepesertaan JKN.
“NADI JKN menunjukkan kesungguhan dari BPJS Kesehatan dalam menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat dalam mengatasi beragam tantangan kesehatan. Dengan program ini masyarakat nan belum terdaftar diharapkan dapat membayarkan iuran melalui skema cicil dengan terencana dan lebih meringankan sehingga tidak terkendala pembayaran serta kepesertaan mereka tetap aktif,” jelas Raffi.
Sementara itu, Ketua Komisi Kebijakan Umum DJSN, Royanto Purba, mengapresiasi langkah nan dilakukan oleh BPJS Kesehatan dengan peluncuran NADI JKN ini untuk meningkatkan keaktifan kepesertaan JKN.
“Karena sebenarnya kita dalam melaksanakan agunan kesehatan tidak bisa hanya konsentrasi pada coverage. Tetapi lebih kepada kualitas keberlanjutan. Nanti ini kudu diperluas agar lebih berkelanjutan. Kami juga tentu bakal memandang penerapan dan keefektifan dari program ini. Jangan sampai program ini nantinya sia-sia,” pungkasnya. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·