Upaya pemadaman karhutla di Papua.(Dok. Kemenhut)
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura mengeluarkan peringatan awal mengenai potensi kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di Provinsi Papua Selatan. Fenomena ini dipicu oleh musim tandus nan diperparah oleh pengaruh El Nino, sehingga menyebabkan intensitas curah hujan menurun drastis.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jayapura, Sulaiman, mengungkapkan bahwa Provinsi Papua Selatan sebenarnya telah memasuki musim tandus sejak Mei lalu. Namun, kondisi kekeringan diprediksi bakal berjalan lebih lama dan berakibat signifikan pada ekosistem hutan.
"Diprediksi bakal ada spot-spot terjadinya kebakaran rimba alias lahan di Provinsi Papua Selatan," ujar Sulaiman di Jayapura, Kamis (18/6/2026).
Titik Panas di Merauke dan Mappi
Berdasarkan pemetaan prakiraan cuaca BMKG, sejumlah wilayah diidentifikasi mempunyai akibat tinggi munculnya titik panas (hotspot). Wilayah tersebut mencakup dua kabupaten utama, yakni:
- Kabupaten Merauke: Meliputi distrik Merauke, Sota, Wanam, dan Tanah Miring.
- Kabupaten Mappi: Terfokus di sekitar wilayah Keppi.
Kondisi ini menuntut kewaspadaan ekstra dari masyarakat setempat. BMKG mengimbau penduduk untuk tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan di area terbuka, guna mencegah api merambat ke lahan kering di sekitarnya nan dapat memicu kebakaran skala besar.
Musim tandus 2026 di Papua Selatan diprediksi bakal berjalan hingga Desember 2026. Masyarakat diminta menghemat penggunaan air bersih lantaran debit air dipastikan berkurang seiring minimnya curah hujan.
Dampak bagi Sektor Pertanian
Selain ancaman karhutla, sektor pertanian juga menjadi perhatian serius. Berkurangnya kesiapan air akibat tandus panjang mengharuskan para petani melakukan penyesuaian cepat.
Sulaiman menyarankan agar petani mulai menyesuaikan jenis tanaman nan bakal ditanam selama periode tandus ini. Pemilihan varietas nan tahan kekeringan sangat dianjurkan agar hasil panen tetap maksimal meskipun pasokan air terbatas.
"Selama musim tandus diprediksi debit air bakal berkurang lantaran berkurangnya curah hujan. Penyesuaian pola tanam sangat krusial dilakukan sejak dini," pungkasnya.
Pemerintah wilayah dan lembaga mengenai diharapkan segera melakukan langkah mitigasi, termasuk penyediaan sarana pemadaman api di titik-titik rawan serta manajemen pengedaran air bersih bagi penduduk terdampak. (Ant/H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·