Ilustrasi(Dok Magnific )
AKTIFNYA kejadian La Niña lemah nan bertepatan dengan musim hujan pada awal 2026 diperkirakan meningkatkan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
BMKG mengingatkan bahwa kondisi tersebut tidak hanya berpotensi memicu musibah hidrometeorologi seperti banjir dan longsor, tetapi juga meningkatkan akibat demam berdarah dengue (DBD) akibat suhu nan hangat dan kelembapan udara nan mendukung perkembangan nyamuk Aedes aegypti.
La Niña Lemah Tingkatkan Kewaspadaan
BMKG menjelaskan bahwa aktifnya kejadian La Niña lemah nan bertepatan dengan musim hujan pada awal 2026 berpotensi meningkatkan curah hujan di sejumlah wilayah.
Dalam arsip Climate Outlook 2026, BMKG memprediksi suhu udara di sebagian besar wilayah Indonesia berkisar 25–29 derajat Celsius alias sekitar 0,2–0,6 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.
Kombinasi suhu nan lebih hangat, curah hujan, dan kelembapan udara nan tinggi dinilai dapat mendukung perkembangan vektor penular penyakit, termasuk nyamuk Aedes aegypti.
Hujan Dukung Perkembangan nyamuk
Peningkatan curah hujan nan disertai kelembapan udara tinggi menciptakan lingkungan nan sesuai bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak. Kondisi tersebut perlu diwaspadai, terutama di wilayah nan setiap tahun rentan mengalami peningkatan kasus DBD, seperti Provinsi Jakarta dan Bali.
BMKG mencatat bahwa di Jakarta, potensi kecocokan suasana terhadap penyebaran DBD berada pada kategori tinggi. Wilayah Jakarta Utara diprediksi secara konsisten mempunyai Incidence Rate (IR) tertinggi dibandingkan wilayah lainnya, disusul Jakarta Barat dan Jakarta Selatan.
Sementara itu, Jakarta Pusat dan Jakarta Timur diperkirakan mempunyai nomor IR nan lebih rendah. Kondisi serupa juga diprediksi terjadi di Bali, dengan potensi kecocokan suasana untuk DBD berada pada kategori tinggi alias lebih dari 90% selama puncak musim hujan pada Januari–Februari 2026.
Meski secara umum prediksi nomor IR di Bali berada pada kategori rendah alias aman, Gianyar dan Klungkung diperkirakan menjadi wilayah dengan IR tertinggi, ialah mencapai 10 kasus per 100.000 penduduk. Sebaliknya, wilayah Bali bagian barat seperti Jembrana dan Buleleng diprediksi mempunyai tingkat akibat paling rendah.
BMKG juga mengingatkan bahwa kewaspadaan tidak berakhir saat musim hujan berakhir. Dua hingga tiga bulan setelah puncak musim hujan tetap menjadi periode nan perlu diwaspadai lantaran tempat perindukan nyamuk tetap tersedia dan berpotensi meningkatkan penularan DBD kepada manusia.
Karena itu, dinas kesehatan di Jakarta dan Bali didorong menerapkan strategi pencegahan secara komprehensif melalui penguatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) sebagai upaya mengantisipasi lonjakan kasus DBD. (Chatrine Simanjuntak/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·