BMKG Catat 235 Kali Aktivitas Gempa Susulan di NTT

Sedang Trending 58 menit yang lalu
BMKG Catat 235 Kali Aktivitas Gempa Susulan di NTT Ilustrasi(Dok BPBD Kabupaten Manggarai)

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 235 kali aktivitas gempa bumi susulan (aftershocks) hingga pukul 14.00 WIB pascagempa tektonik utama di utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Aktivitas gempa susulan tersebut terdistribusi di sebelah utara Pulau Flores dengan kisaran magnitudo M2,5 hingga M6,2.

Grafik pemantauan mengindikasikan bahwa tren rekaman gempa susulan saat ini belum mengalami peluruhan nan signifikan. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengonfirmasi bahwa BMKG terus memantau pergerakan sesar secara real-time. Berdasarkan riwayat dan karakter wilayah tersebut, proses stabilisasi sesar memerlukan interval waktu tertentu sebelum aktivitas seismik betul-betul kembali normal. 

“BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya,” kata Teuku Faisal dalam Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana Gempa Bumi Provinsi NTT di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Sabtu (15/8).

Sebelumnya, BMKG mengonfirmasi pemutakhiran info gempa bumi tektonik dangkal tersebut menjadi M7,7 dengan kedalaman 15 km. Sistem pemantauan gempa BMKG merespons kejadian secara sigap dengan mengeluarkan peringatan awal tsunami hanya dalam waktu 2 menit 16 detik pasca gempa utama. 

Petugas pemantau kemudian memutakhirkan peringatan awal tsunami setelah parameter gempa stabil dan presisi 10 menit setelahnya. Guncangan gempa tersebut sempat memicu gelombang tsunami nan menerjang beberapa area pesisir. 

BMKG menguji sistem running model multi-skenario dan membagi status ancaman ke dalam kategori Siaga (potensi tinggi 0,5 meter hingga 3 meter) serta Waspada (ketinggian di bawah 0,5 meter).

Jaringan observasi muka air laut mencatat gelombang tsunami tiba di Reo Manggarai dan Manggarai Timur dengan ketinggian puncak mencapai 1,61 meter, Maurole Ende setinggi 0,94 meter, serta Bulukumba dan Sape Bima melampaui 0,5 meter. BMKG resmi mengakhiri seluruh Peringatan Dini Tsunami pada pukul 07.30 WIB setelah pemantauan muka laut mengonfirmasi kondisi air laut telah kondusif kembali.

"Gempa bumi ini tergolong jenis gempa bumi dangkal nan timbul akibat aktivitas sesar naik busur belakang Flores (Flores Back Arc Thrust)," ungkapnya. 

Secara histori, struktur Flores Back Arc Thrust menyimpan rekam jejak gempa merusak nan panjang, termasuk gempa M7,8 pada kedalaman 28 km nan melanda area tersebut pada tahun 1992. 

Perbedaan pada gempa kali ini berpusat pada kedalaman nan jauh lebih dangkal (15 km), sehingga menimbulkan akibat kerusakan bentuk nan relatif berat pada gedung prasarana serta memicu tsunami nan terobservasi hingga pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

Berdasarkan peta intensitas guncangan (intensity map), BMKG mencatat guncangan terbesar mencapai skala VII MMI di wilayah Aesesa (Kabupaten Nagekeo), Riung (Kabupaten Ngada), Kota Ambai, serta hasil observasi langsung mikro di area Manggarai dan Ruteng. Skala VI MMI terukur di Wolowae (Nagekeo) dan Kota Bajawa, sementara skala V MMI dirasakan di sejumlah area sekitarnya.

Guna mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana, BMKG menerjunkan tim mahir untuk mengelola survei pemetaan mikrozonasi dan makroanalisis. Tim BMKG Pusat berbareng 14 Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG se-NTT menyisir wilayah Ngada, Nagekeo, dan titik-titik rawan lainnya di Pulau Flores. 

Survei mikro-analisis ini bermaksud mengukur jenis tanah dan respons terhadap gempa bumi. BMKG bakal langsung menyerahkan hasil kajian lapangan tersebut kepada stakeholder sebagai rujukan teknis utama dalam meletakkan dasar rekonstruksi maupun retrofitting (penguatan) struktur gedung tahan gempa. 

"BMKG mengimbau masyarakat untuk senantiasa mempercayai info rujukan resmi nan berasal dari jaringan nasional nan ditopang oleh lebih dari 2.000 sensor kegempaan, termasuk 553 sensor seismograf unik di seluruh Indonesia," pungkasnya. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia