Badan Kehormatan (BK) DPD RI bakal memanggil senator asal Bali I Gusti Ngurah Arya Wedakarna buntut menghadiri kontes transgender Miss Equality World 2026 di Bangkok, Thailand. Pemeriksaan bakal digelar pada pekan depan.
"(pemanggilan) Kamis alias Jumat mungkin ya," kata Ketua Badan Kehormatan DPD RI, Hasby Yusuf saat dihubungi, Sabtu (5/9/2026).
Hasby menjelaskan, BK DPD bakal menjelaskan pernyataan Arya nan sebelumnya mengaku tak tahu aktivitas itu mengusung rumor transgender. Pihaknya juga bakal mendalami pengakuan Arya nan datang ke aktivitas itu sebagai Presiden Hindu Center of Indonesia, bukan sebagai personil DPD.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena dalam pernyataan dia beberapa waktu itu kan... bahwa dia diundang, dia tidak tahu persis nan mengundangnya siapa. Lembaga ini eh bukan persis sebagai lembaga nan ini, hanya hanya promosi pariwisata. Terus kemudian, statement dia kan mengenai dengan dia mewakili orang Hindu, orang Hindu Bali, kan," jelasnya.
Meski membantah datang sebagai personil DPD, namun Arya datang berbareng pengawalan personil TNI. Hasby menyebut pihaknya juga bakal mendalami perihal itu.
"Kemudian, dia kemudian berangkat ini katanya kan pribadi, tapi kan ada pengawalan. Sama dalam aktivitas itu ada julukan Senator Indonesia, gitu," kata dia.
"Prinsipnya BK bakal bekerja sesuai dengan mekanisme, prosedur, tata tertib, kode etik di BK. Termasuk juga mengenai dengan hak-hak protokoleran nan melekat pada personil DPD," imbuhnya.
Klarifikasi Arya Wedarkna
Arya Wedakarna sendiri sudah memberikan penjelasan mengenai kehadirannya di kontes kecantikan transgender, Miss Equality World 2026. Ia menegaskan kehadirannya di aktivitas nan digelar di Bangkok, Thailand, itu bukan sebagai personil DPD perwakilan dari Bali.
Awalnya Arya mengaku mendapatkan undangan dari sebuah organisasi nan disebut kerap melakukan aktivitas amal. Menurut Arya, dirinya diberi tahu bahwa Bali mendapat penghargaan atas pariwisatanya. Kehadirannya di sana, kata dia, sebagai tokoh wisata.
"Jadi kronologisnya, pertengahan tahun ini ya, Juni ya. Itu, saya bertempat di istana saya di Jembrana. Mewakili pribadi ya dan juga sebagai tokoh budaya Hindu. Kita menerima panitia, namanya MS Organization. Jadi mereka berjaringan di 15 negara dan mereka ini sudah sering mengadakan aktivitas charity di Bali. Kegiatan sosial, begitu. Nah, jadi namanya tamu kan kita terima," kata Arya kepada wartawan, Rabu (2/9).
Arya mengatakan kehadiran di Miss Equality World sebagai Presiden Hindu Center of Indonesia, bukan mewakili DPD RI. Ia menyebut ada sejumlah aktivitas nan dilakukan di sana, dari kunjungan ke vihara hingga pameran.
Adapun puncak acaranya pada 30 Agustus adalah pemberian penghargaan. Arya pun ikut datang dalam aktivitas itu, nan kemudian foto-fotonya tersebar di media sosial.
"Dan di sana rangkaian acaranya banyak. Jadi saya sempat keliling ke sana juga, ke Vihara Buddha, ada juga ke kuil-kuil Hindu. Kemudian ada juga, apa, pameran-pameran ya. Macam-macam, aktivitas diskusi. Nah, malam puncaknya itu kan ada penghargaan, salah satu kegiatannya adalah memberikan penghargaan kepada lima tokoh," kata dia.
"Nah,tim mereka itu juga membikin video tentang Bali, pariwisata Bali. Jadi nan di mana saya datang untuk mewakili Bali, lantaran menerima apa, video itu ya tentang pariwisata Bali nan dianggap berhasil. Ya udah itu aja. Tanpa pidato, menerima, ya sudah, selesai gitu aja, pamit, begitu," ungkapnya.
Ia mengatakan datang di sana atas nama pribadi. Arya mengaku tak mengetahui aktivitas tersebut mengusung rumor transpuan.
"Nggak. Kan kita kan secara, saya nggak tahu. nan kedua kan kita kan tidak etis dong nanya-nanya tentang gender, ya. Kita kan tahu Thailand. Thailand kan di sana kan gendernya banyak. Nggak, nggak (perwakilan DPD) saya sebagai pribadi. Makanya saya pakai baju budaya Bali," ungkapnya.
Ia pun menjelaskan laki-laki berseragam nan yang ada di sampingnya dalam aktivitas itu. Arya mengatakan orang itu merupakan ajudan nan melekat untuk pengamanan.
"Memang kita kan lihat di Thailand tuh kan lagi, lagi rawan ya. Kemarin tetap ada perang, perang antara Thailand, Myanmar, Kamboja," kata Arya.
"Kemudian kemarin tuh ada, di sana kan sering ada ledakan peledak dan juga ada penembakan. Jadi memang melekat aja, memang tugasnya mengawal saya, nggak ada hubungannya," imbuhnya.
(wnv/idn)
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·