Bima Arya Bongkar Kunci Bertahan Hadapi Tekanan Politik

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menilai seorang pemimpin kudu mempunyai injakan ideologis dan keberanian mengambil akibat dalam setiap keputusan. Menurutnya, nilai keberpihakan kepada masyarakat menjadi pegangan krusial agar pemimpin tidak mudah terpengaruh tekanan golongan tertentu.

"Jadi pemimpin itu seringkali dihadapkan pada pilihan nan sulit, kita bisa memilih nyaman alias berisiko, tapi saya ambil akibat itu ketika saya meyakini nilai-nilai keberpihakan tersebut," ujar Bima dalam aktivitas Bedah Buku "Babad Alas" di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah, Selasa (12/5/2026).

Bima mengatakan, pengalaman memimpin Kota Bogor selama 10 tahun memberinya banyak pelajaran tentang pentingnya konsisten memegang nilai dan ideologi. Menurut dia, keteguhan itu menjadi modal utama dalam menghadapi persoalan birokrasi maupun dinamika sosial di masyarakat.

Dia mencontohkan kebijakannya membatasi izin penjualan alkohol di tempat intermezo malam demi melindungi generasi muda. Keputusan tersebut, kata dia, diambil meski kudu menghadapi tekanan dari sejumlah pihak.

Selain itu, prinsip inklusivitas juga disebut menjadi dasar dalam menyelesaikan bentrok pendirian rumah ibadah nan sempat berjalan bertahun-tahun di Kota Bogor.

Menurut Bima, ideologi dan keberpihakan saja tidak cukup tanpa strategi membangun angan publik serta membentuk tim birokrasi nan solid. Karena itu, dalam memilih pejabat, dia lebih mengutamakan karakter dibanding keahlian teknis semata.

"Jadi ketika memilih kepala dinas bagi saya karakter kompetensi karakter itu nomor satu. Adab itu nomor satu. Nomor selanjutnya baru kompetensi dan lain-lain," jelasnya.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita