Bicara Ketahanan Energi di Unmul, Eddy Tekankan Akses Merata

Sedang Trending 19 jam yang lalu

Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menilai ketahanan daya nasional tak cukup hanya menjamin kesiapan pasokan. Menurutnya, daya juga kudu bisa diakses masyarakat dengan nilai terjangkau dan pengedaran nan merata.

Hal itu disampaikan Eddy saat menghadiri MPR Goes to Campus ke-52 di Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda, Kalimantan Timur. Acara ini dihadiri Rektor Unmul Prof. Dr. Ir. H. Abdunnur berbareng Wakil Rektor Kemahasiswaan Prof. Dr. Bahzar. Jajaran civitas academica kampus Unmul juga turut datang meramaikan aktivitas ini.

"Makna ketahanan daya bukan hanya keahlian negara menyediakan pasokan energi, tetapi juga memastikan daya dapat diakses masyarakat dengan nilai nan terjangkau dan pengedaran nan merata untuk seluruh masyarakat," ujar Eddy dalam keterangan tertulis, Kamis (3/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Eddy, daya merupakan kebutuhan esensial masyarakat sekaligus salah satu penentu daya saing ekonomi. Ketika nilai daya meningkat alias pasokannya terganggu, dampaknya bakal dirasakan secara luas oleh masyarakat melalui kenaikan biaya transportasi, logistik, produksi, hingga nilai kebutuhan pokok.

"Ketahanan daya pada akhirnya kudu bermuara pada kesejahteraan rakyat. Energi kudu tersedia ketika dibutuhkan, harganya terjangkau, dan aksesnya merata. Jangan sampai ada masyarakat nan bisa mendapatkan daya dengan mudah, sementara masyarakat di wilayah lain kudu bayar jauh lebih mahal," tutur Eddy.

Eddy menilai persoalan ketahanan daya semakin krusial di tengah meningkatnya kebutuhan daya nasional. Pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, urbanisasi, serta perkembangan teknologi bakal mendorong kebutuhan daya nan semakin besar.

Oleh lantaran itu, Indonesia kudu mempunyai sistem daya nan tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga tahan terhadap gejolak global, gangguan rantai pasok, perubahan nilai komoditas, dan perubahan geopolitik dunia.

"Kita merasakan hari ini disrupsi daya terjadi ketika bentrok di Selat Hormuz belum juga mereda. Pasokan minyak bumi terganggu, negara saling berebut pasokan lantaran jumlahnya nan terbatas. Efeknya, nilai daya menjadi naik dan berakibat pada inflasi," ungkap Eddy.

Selain itu, Eddy juga mengingatkan bahwa tantangan ketahanan daya Indonesia bukan hanya soal ketersediaan, tetapi juga pemerataan akses. Infrastruktur daya dan pengedaran kudu terus diperkuat agar masyarakat di seluruh wilayah Indonesia mendapatkan akses daya nan setara.

Eddy berpandangan bahwa Indonesia perlu membangun ketahanan daya dengan memperkuat sumber daya domestik sekaligus mempercepat diversifikasi energi. Pengembangan daya terbarukan menjadi bagian krusial agar Indonesia mempunyai sumber daya nan lebih beragam, berkelanjutan, dan tidak terlalu berjuntai pada sumber daya fosil maupun impor.

"Kita kudu membangun daya Indonesia dengan prinsip diversifikasi. Energi fosil tetap kita kelola untuk memenuhi kebutuhan transisi, tetapi daya terbarukan kudu terus kita akselerasi. Semakin beragam sumber daya kita, semakin kuat pula ketahanan daya kita," jelas Eddy.

Menurut Eddy, pengelolaan sektor daya memegang peranan krusial arah pembangunan negara. Penguatan di bagian ini dipandang sebagai kunci utama dalam menjaga kemandirian bangsa.

"Energi adalah urat nadi perekonomian. Kalau daya kita kuat, ekonomi kita kuat. Kalau daya kita berdaulat, kita mempunyai ruang nan lebih besar untuk menentukan masa depan bangsa sendiri," pungkasnya.

(akn/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News