CEO SiCepat Ekspres, Barry Lim.(Dok. SiCepat Ekspres)
BIAYA logistik Indonesia nan tetap berada di kisaran 14% menunjukkan besarnya ruang untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok nasional. Pelaku industri menilai penurunan biaya logistik menjadi salah satu aspek krusial dalam meningkatkan daya saing bumi upaya sekaligus membuka kesempatan pertumbuhan bagi sektor logistik.
Commercial & External Affairs Director SiCepat, Imam Sedayu mengatakan sasaran penurunan biaya logistik menjadi sekitar 8% merupakan kesempatan bagi perusahaan logistik untuk menghadirkan jasa nan lebih efisien dan efektif.
“Kalau memandang nomor 14% biaya logistik nan ditargetkan ke 8%, artinya setiap ada kesempatan untuk industri lebih efisien, di situ ada kesempatan kami untuk bisa berkontribusi. Berkontribusi untuk memberikan akibat efisiensi dan efektivitas operasional upaya proses kami ke market,” ujar Imam dalam konvensi pers di Jakarta, Selasa (28/7).
Selain persoalan biaya, menurut Imam, industri logistik tetap menghadapi sejumlah tantangan dalam menjaga kelancaran pengedaran barang. Tantangan tersebut tidak hanya berasal dari cuaca ekstrem, tetapi juga keterbatasan kapabilitas transportasi pada periode tertentu, seperti saat arus mudik Lebaran.
Ia mengatakan perusahaan perlu menyiapkan kapabilitas armada nan memadai agar pengedaran tetap melangkah ketika permintaan pengiriman meningkat.
“Kalau saat peak season, kami menyiapkan kapabilitas sendiri. Penambahan armada menjadi salah satu strategi untuk menjamin kapabilitas pengiriman tetap tersedia,” katanya.
Di sisi lain, Imam menilai prospek industri logistik pada paruh kedua tahun ini tetap positif. Aktivitas pengedaran diperkirakan meningkat seiring dengan beragam momentum shopping pada semester kedua, mulai dari promosi Hari Kemerdekaan, 9.9, dan 10.10 hingga puncaknya pada 12.12.
Secara historis, kata Imam, semester kedua dapat menyumbang sekitar dua pertiga dari total pendapatan tahunan industri pengiriman. Hal itu didorong oleh meningkatnya aktivitas perdagangan dan pengedaran barang.
Imam juga optimistis penerapan kebijakan Zero Over Dimension Over Loading (ODOL) tidak bakal berakibat signifikan terhadap operasional perusahaan. Menurut dia, kebanyakan peralatan nan ditangani SiCepat berasal dari sektor fast-moving consumer goods (FMCG) serta tetap sesuai dengan dimensi dan kapabilitas kendaraan angkut.
“Komoditas nan kami bawa saat ini tidak bakal terdampak ODOL, sehingga kami cukup optimistis izin tersebut tidak bakal terlalu banyak berpengaruh terhadap upaya kami,” ujarnya.
Dalam kesempatan nan sama, SiCepat memperkenalkan SiCepat Logistik, jasa logistik business-to-business (B2B) nan melengkapi upaya pengiriman ekspres perusahaan. Layanan tersebut menyasar perusahaan manufaktur, pemilik merek, distributor, peritel, dan pelaku upaya dengan mengintegrasikan proses pengedaran ke dalam satu sistem.
SiCepat Logistik untuk menjawab beragam hambatan nan dihadapi perusahaan dalam mengelola pengedaran barang. Layanan tersebut menyasar perusahaan manufaktur, pemilik merek, distributor, hingga peritel.
Layanan nan ditawarkan mencakup Full Truckload (FTL), Less Than Truckload (LTL), pergudangan, freight forwarding, custom logistics, layanan ekspor-impor dan kepabeanan, serta pengedaran antarpulau melalui SiCepat Fast Lane.
CEO SiCepat Ekspres, Barry Lim, mengatakan pelaku upaya kerap menghadapi kompleksitas dalam mengelola banyak penyedia jasa logistik atau multi-vendor. Kondisi itu dapat menimbulkan perbedaan standar layanan, keterbatasan visibilitas pengiriman, lemahnya akuntabilitas, serta terbatasnya jangkauan distribusi.
Menurut Barry, SiCepat Logistik dirancang dengan mengintegrasikan jasa logistik dari hulu hingga hilir dalam satu sistem. Konsep tersebut dirangkum dalam filosofi jasa “One Partner, One System, One Accountability”.
“Yang membedakan SiCepat Logistik bukan sekadar ragam jasa nan kami tawarkan, tetapi gimana seluruh jasa itu melangkah dalam satu sistem nan sama,” ujar Barry.
Melalui sistem terintegrasi tersebut, pengguna tidak perlu lagi mengelola banyak penyedia jasa logistik dengan standar dan tingkat visibilitas nan berbeda.
“Customer kami tidak perlu lagi mengelola banyak vendor dengan standar dan visibilitas nan berbeda-beda. Cukup satu mitra, satu sistem, dan satu akuntabilitas, dari penyimpanan hingga ke tangan pengguna akhir,” katanya.
Kehadiran SiCepat Logistik diharapkan dapat membantu pelaku upaya menyederhanakan proses pengedaran sekaligus meningkatkan visibilitas dan akuntabilitas pengiriman. Integrasi tersebut juga memungkinkan perusahaan mengelola kebutuhan logistik melalui satu mitra dengan cakupan jasa nan lebih luas. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·