Biang Kerok IHSG Tiba-tiba Keok ke 5.900

Sedang Trending 6 jam yang lalu

Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ambruk nyaris 5% pada perdagangan Rabu (3/6). Pelemahan pasar saham ini dipicu oleh tekanan terhadap nilai tukar rupiah serta sejumlah parameter ekonomi Indonesia nan menunjukkan perlambatan.

Berdasarkan info perdagangan RTI Business, IHSG melemah 4,11% ke level 5.941,06 hingga penutupan perdagangan Rabu. Indeks saham juga sempat melemah lebih dari 5% ke level terendah pada posisi 5.841,99 di tengah sesi II perdagangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Imbas Rupiah & Saham Konglo

Sementara itu, info Bloomberg mencatat kondisi nilai tukar rupiah nan terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata duit Paman Sam itu menguat 0,71% ke level Rp 17.966,5 hingga penutupan perdagangan.

"Kami perkirakan koreksi nan terjadi di JCI saat ini disebabkan oleh adanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS," jelas Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, kepada detikcom, Rabu (3/6/2026).

Di sisi lain, IHSG juga dibebani oleh emiten-emiten konglomerasi nan kompak melemah hari ini. Pada perdagangan sebelumnya, saham-saham ini diketahui naik signifikan hingga auto reject atas (ARA).

Herditya mengatakan, IHSG tetap berada pada fase penurunan. Dalam waktu dekat apalagi dia menyebut belum ada sinyal penguatan nyata untuk indeks saham indonesia tersebut.

"Pergerakan IHSG dibebani oleh emiten-emiten konglomerasi nan selama dua hari belakangan ini bergerak menguat signifikan, apalagi mengalami auto reject atas. Dari sisi teknikal, pergerakan JCI tetap berada di fase downtrendnya dan belum menunjukkan adanya tanda-tanda pembalikan arah nan valid," jelasnya.

Perlambatan Ekonomi & Sentimen Geopolitik

Dihubungi terpisah, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan mobilitas IHSG menyusul turunnya surplus neraca jual beli Indonesia pada April 2026. Menurutnya, capaian ini menjadi nan terendah sejak enam tahun terakhir.

"Penyusutan surplus neraca perdagangan per April 2026 pada US$ 89,1 juta sebagai level terendah dalam enam tahun terakhir, menunjukkan adanya perlambatan dari kontribusi sektor eksternal dan menjadi penahan laju penguatan IHSG," terangnya kepada detikcom.

Di sisi lain, para pelaku pasar disebut tengah mencermati dan bersiap menghadapi volatilitas baru imbas penyesuaian indeks saham RI dalam indeks dunia FTSE Russell. Diketahui, penyesuaian indeks ini bakal dilakukan pada 22 Juni mendatang.

Sementara dari sisi global, ketegangan antara Washington dan Teheran serta operasi militer Israel di Lebanon menambah ketidakpastian global. Di sisi lain, penanammodal juga tengah mencermati rilis info US Nonfarm Payrolls per Mei pada akhir pekan ini.

"Perilisan US Nonfarm Payrolls per Mei pada akhir pekan ini juga dinantikan lantaran bakal mempengaruhi ekspektasi arah suku kembang The Fed kedepannya," pungkasnya.

(ahi/ara)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance