Bank Indonesia (BI) memproyeksi perkembangan situasi di Timur Tengah tetap bergerak meski sudah terdapat interim deal antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Untuk itu, BI menilai tetap diperlukan penguatan respons baik dari sisi fiskal maupun moneter.
AS dan Iran resmi menandatangani kesepakatan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Sebuah seremoni dijadwalkan bakal berjalan pada Jumat 19 Juni 2026 untuk menandai dimulainya masa negosiasi selama 60 hari antara kedua negara tersebut.
“Perkembangan negosiasi antara AS dan Iran mengenai kesepakatan penyelesaian bentrok di Timur Tengah diperkirakan tetap bergerak sehingga memerlukan kewaspadaan serta penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada Kamis (18/6).
Perry menilai perang di Timur Tengah sudah menimbulkan gangguan produksi, distribusi, dan rantai pasok perdagangan antarnegara, serta menurunkan prospek perekonomian global.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi bumi tahun ini juga diprediksi tetap tetap pada level 3,0 persen, diikuti naiknya tekanan inflasi menjadi sekitar 4,4 persen. Hal tersebut juga dibarengi langkah beragam bank sentral di bumi nan meningkatkan suku kembang acuan.
“Sejumlah bank sentral mulai meningkatkan suku kembang kebijakannya untuk merespons kenaikan inflasi tersebut. Suku kembang kebijakan moneter AS, Fed Funds Rate, saat ini dipertahankan pada level 3,75 persen dan ke depan terdapat kemungkinan bakal naik seiring dengan prospek inflasi AS nan lebih tinggi,” ujarnya.
Di samping itu, imbal hasil (yield) US Treasury tetap tinggi mencapai 4,49 persen untuk tenor 10 tahun dan 4,18 persen untuk tenor 2 tahun didorong oleh defisit fiskal nan membesar. Selain itu, indeks dolar AS terhadap negara maju (DXY) dan negara berkembang (ADXY) tetap kuat.
“Akibatnya, preferensi penempatan penanammodal dunia ke negara Emerging Markets belum kuat dan beranjak ke aset safe-haven assets di negara maju,” kata Perry.
Pertumbuhan Ekonomi RI Masih Baik
Perry memaparkan pertumbuhan ekonomi domestik tetap terjaga baik. Hal ini ditopang oleh permintaan domestik dan konsumsi pemerintah nan bertumbuh tinggi seiring berlanjutnya program percepatan shopping Pemerintah.
“Terutama pemberian penghasilan ke-13 bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan penyaluran support sosial kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Konsumsi rumah tangga terjaga didorong akibat percepatan konsumsi Pemerintah dan kepercayaan konsumen nan tetap baik,” ujarnya.
Meski demikian, Perry memandang ekspor perlu terus didorong untuk memanfaatkan tingginya nilai komoditas dunia, di tengah melambatnya prospek pertumbuhan ekonomi global.
Ke depan, Perry juga mendorong agar beragam program stimulus pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat, serta penerapan program prioritas terus dioptimalkan untuk mendorong sumber-sumber pertumbuhan ekonomi dari permintaan domestik.
“Sejalan dengan itu, Bank Indonesia terus mengoptimalkan bauran kebijakannya untuk memperkuat stabilitas dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, termasuk melalui penguatan kebijakan makroprudensial lenggang dan kebijakan sistem pembayaran untuk mendukung aktivitas ekonomi digital dan finansial inklusif,” tutur Perry.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·