BI Optimalkan Instrumen Kebijakan Jaga Stabilitas Rupiah

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
BI Optimalkan Instrumen Kebijakan Jaga Stabilitas Rupiah Ilustrasi.(Magnific)

BANK Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika pasar finansial dunia dan domestik. Berbagai instrumen kebijakan moneter dan pasar finansial bakal terus dioptimalkan guna memastikan sistem pasar melangkah baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan BI bakal terus mencermati perkembangan ekonomi dan pasar keuangan, baik dunia maupun domestik, serta datang di pasar dengan langkah-langkah nan konsisten dan terukur.

"Bank Indonesia bakal terus mencermati perkembangan pasar finansial dunia dan domestik serta senantiasa datang di pasar dengan mengambil langkah-langkah nan diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal," ucap Ramdan dikutip dari keterangan tertulis nan diterima, Rabu (3/6).

Menurutnya, bank sentral bakal terus mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan nan dimiliki untuk menjaga kecukupan likuiditas kurs asing (valas) dan mendukung stabilitas pasar keuangan. Langkah tersebut dilakukan agar sistem pasar tetap melangkah secara efisien dan bisa meredam gejolak nan berpotensi muncul akibat perkembangan eksternal.

Selain intervensi pasar dan pengelolaan likuiditas, BI menerapkan kebijakan baru mengenai transaksi kurs asing. Sejak 2 Juni 2026, Bank Indonesia memberlakukan ketentuan pemisah (threshold) pembelian kurs asing terhadap rupiah tanpa arsip pendukung (underlying) menjadi sebesar US$25.000 per pelaku per bulan.

Kebijakan tersebut diharapkan dapat mendukung pendalaman pasar valas domestik sekaligus menjaga keseimbangan permintaan dan penawaran kurs asing di dalam negeri.

Di sisi lain, BI terus memperluas penggunaan mata duit lokal dalam transaksi lintas negara melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Upaya tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat sekaligus memitigasi akibat nan timbul akibat volatilitas nilai tukar global.

Saat ini kerja sama LCT Indonesia telah terjalin dengan sejumlah negara mitra, ialah Tiongkok, Japan, Malaysia, Tailan, Korea Selatan, dan Emirat Arab.

Ramdan menegaskan bahwa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tidak dapat dilakukan oleh Bank Indonesia sendiri. Dibutuhkan sinergi dan koordinasi nan erat antara beragam pemangku kepentingan untuk memastikan ketahanan eksternal ekonomi nasional tetap terjaga.

Karena itu, BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, otoritas sektor keuangan, industri perbankan, bumi usaha, dan pelaku pasar guna memastikan sistem pasar melangkah dengan baik serta mendukung stabilitas sistem finansial secara keseluruhan.

"Bank Indonesia memandang bahwa stabilitas nilai tukar rupiah memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan. Untuk itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, bumi usaha, dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya sistem pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional," pungkasnya. (I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia