BGN: 39 Ribu Siswa Dicoret dari Penerima MBG, Anggaran Dialihkan ke Wilayah 3T

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Petugas menyiapkan paket Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk didistribusikan ke sekolah di SPPG Tubo Ternate, Maluku Utara, Kamis (30/10/2025). Foto: Andri Saputra/ANTARA FOTO

Badan Gizi Nasional (BGN) mulai melakukan refocusing penerima faedah Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga Kamis (18/6), BGN telah mengidentifikasi 76 sekolah di Pulau Jawa dengan total 39.352 siswa nan dinilai bisa memenuhi kebutuhan gizi secara berdikari sehingga tidak lagi menjadi prioritas penerima program.

Wakil Kepala BGN nan juga sebagai Juru Bicara, Agustina Arumsari, mengatakan pengalihan sasaran penerima faedah dilakukan agar anggaran MBG dapat difokuskan kepada golongan nan lebih memerlukan intervensi gizi dari pemerintah.

“Sampai dengan hari ini (Kamis, 18 Juni 2026) kami sudah melakukan pendataan dan sudah teridentifikasi 76 sekolah di Pulau Jawa sementara ini, dengan jumlah penerima faedah 39.352 siswa," kata Sari kepada wartawan di Kantor Pusat BGN, Jakarta Pusat, Kamis (18/6).

"Itu juga bakal kami efisienkan dengan memfokuskan nantinya anggaran nan tadinya untuk di situ, kita bakal memfokuskan untuk program MBG kepada anak-anak nan memerlukan intervensi pemenuhan gizi,” tambah dia.

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) sekaligus Juru Bicara Agustina Arumsari memaparkan materi pada konvensi pers di Kantor Badan Gizi Nasional, Jakarta, Kamis (18/6/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Menurut Sari, sekolah-sekolah tersebut dipilih berasas sejumlah parameter nan menunjukkan para siswanya tidak lagi memerlukan support pemenuhan gizi dari pemerintah.

Lebih lanjut dia mengatakan bakal mengalihkan anggaran nan sebelumnya diperuntukkan bagi sekolah-sekolah tersebut ke golongan penerima nan dinilai lebih rentan, termasuk anak-anak di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), ibu hamil, ibu menyusui, serta balita.

“Nah, pemerintah mengalihkan ke sekolah lain, ke tempat lain, ke wilayah 3T, ke ibu hamil, ibu menyusui, dan balita,” kata Agustina.

Ia menjelaskan, pendataan tetap terus berjalan sehingga jumlah sekolah maupun siswa nan bakal dikeluarkan dari daftar penerima faedah MBG tetap berpotensi bertambah.

Sari menegaskan, refocusing dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah indikator, seperti tingkat kerentanan gizi, kondisi sosial ekonomi keluarga, hingga akses terhadap pemenuhan gizi.

“Kami tetap terus bekerja untuk memperbaharui kualitas data, lantaran info itu sangat krusial untuk menjadi dasar bagi kami membikin kebijakan tentang refocusing penerima manfaat,” tuturnya.

Menurut dia, program MBG kudu diarahkan kepada golongan nan betul-betul memerlukan support negara dalam pemenuhan gizi sehari-hari.

“Bagi nan secara berdikari bisa memenuhi gizinya, lantaran kondisi-kondisi nan tadi mungkin secara ekonomi berada di desil nan tinggi, maka tidak bakal diberikan program Makan Bergizi Gratis ini,” ujar Sari.

Ia menambahkan, langkah tersebut dilakukan agar program MBG lebih efektif dan tepat sasaran, sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan anggaran negara.

“Hasil akhirnya kelak kami betul-betul bisa melakukan refocusing penerima faedah kepada anak-anak Indonesia nan betul-betul memerlukan intervensi gizi dari pemerintah,” pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan