
Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Selasa (28/4/2026) mengkritik Kanselir Jerman Friedrich Merz mengenai perang di Iran. Kritik ini muncul sehari setelah Merz menyatakan bahwa pihak Iran mempermalukan AS dalam pembicaraan untuk mengakhiri bentrok tersebut.
"Kanselir Jerman Friedrich Merz berpikir tidak apa-apa bagi Iran untuk mempunyai senjata nuklir. Dia tidak tahu apa nan dia bicarakan!" tulis Trump dalam sebuah unggahan di platform Truth Social. Pernyataan tersebut dinilai secara keliru menggambarkan posisi Merz, nan sebelumnya telah menegaskan bahwa Iran tidak boleh mempunyai senjata nuklir.
Sebagaimana diberitakan, pada Senin (27/4/2026), Merz memberikan teguran tajam dengan menyebut kepemimpinan Iran telah mempermalukan Amerika Serikat. Ia mencontohkan para pejabat AS nan kudu melakukan perjalanan ke Pakistan namun akhirnya pergi tanpa hasil.
Merz juga menyatakan bahwa dirinya tidak memandang adanya strategi keluar (exit strategy) nan jelas dari pihak AS dalam perang Iran. Komentar tersebut semakin menggarisbawahi perpecahan mendalam antara Washington dan sekutu NATO di Eropa nan sebelumnya sudah memburuk akibat rumor Ukraina dan persoalan lainnya.
Selain mengkritik Merz, Trump menyatakan bahwa Washington sedang mempertimbangkan untuk mengurangi jumlah pasukan AS di Jerman.
"Amerika Serikat sedang mempelajari dan meninjau kemungkinan pengurangan pasukan di Jerman, dengan keputusan nan bakal dibuat dalam waktu dekat," tulis Trump di media sosial, sebagaimana dilansir dari Reuters.
Sebagai catatan, Amerika Serikat tercatat mempunyai lebih dari 35.000 pasukan di Jerman pada tahun 2024, meskipun jumlah tersebut saat ini diyakini telah mendekati 50.000 personel.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·