Belajar Bertanya dari Rasulullah di Era AI

Sedang Trending 52 menit yang lalu
Ilustrasi AI. Foto: Digineer Station/Shutterstock

Ketika seorang anak dapat memperoleh jawaban dari kepintaran buatan dalam hitungan detik, pertanyaan paling krusial dalam pendidikan bukan lagi seberapa sigap pembimbing memberikan jawaban. Pertanyaannya adalah: apakah sekolah tetap mengajarkan anak gimana berpikir?

Pertanyaan itu menjadi semakin mendesak ketika kita memandang hasil PISA 2022. Skor Indonesia hanya 359 untuk membaca, 366 untuk matematika, dan 383 untuk sains — jauh di bawah rata-rata dunia masing-masing 476, 472, dan 485. Hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia mencapai kompetensi minimum (Level 2) dalam membaca, 18 persen dalam matematika, dan 34 persen dalam sains.

Angka tersebut tidak semestinya hanya menjadi bahan untuk menyalahkan pembimbing alias siswa. Ia perlu menjadi cermin bagi sistem pendidikan kita. Di tengah bumi nan semakin dipenuhi info dan teknologi, apakah pembelajaran di sekolah sudah cukup melatih anak untuk memahami informasi, menguji kebenarannya, menyusun alasan, dan mengambil keputusan?

Pada titik inilah kita dapat memandang kembali langkah Rasulullah Muhammad SAW mendidik. Bukan dengan memaksakan teori pendidikan modern ke dalam praktik pendidikan Rasulullah, tetapi dengan menemukan prinsip-prinsip pendidikan nan tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman.

Salah satu contohnya adalah langkah Rasulullah menggunakan pertanyaan. Dalam sabda tentang orang nan bangkrut, Rasulullah bertanya kepada para sahabat, "Tahukah kalian siapa orang nan bangkrut?" Para sahabat menjawab berasas pemahaman mereka. Setelah itu Rasulullah menjelaskan makna kebangkrutan nan lebih mendalam. Proses tersebut menunjukkan bahwa pertanyaan dapat menjadi pintu untuk membangunkan pikiran sebelum pembimbing memberikan jawaban.

Prinsip ini sangat relevan dengan kondisi anak hari ini. Mereka tidak kekurangan jawaban. Google, YouTube, media sosial, dan AI menyediakan jawaban dalam jumlah nan nyaris tidak terbatas. Persoalannya justru terletak pada keahlian menentukan apakah jawaban itu benar.

Bayangkan pembimbing sedang mengajarkan literasi digital. Guru dapat mengatakan, "Jangan percaya hoaks." Namun pembelajaran bakal jauh lebih berarti jika pembimbing bertanya, "Kalau info ini dikirim oleh orang nan kita percaya, apakah otomatis benar? Apa buktinya? Siapa nan membikin info ini? Apa kepentingannya? Apa hasilnya jika kita menyebarkannya dan rupanya salah?" Anak kemudian tidak hanya belajar tentang hoaks. Ia belajar langkah berpikir.

Di sinilah peran pembimbing mengalami perubahan besar. Ketika info tersedia di mana-mana, nilai seorang pembimbing justru semakin besar dalam membantu siswa memahami, menguji, menghubungkan, dan menggunakan pengetahuan. AI dapat membantu siswa membikin rangkuman, mencari informasi, menulis teks, apalagi menghasilkan gambar dan video. Guru tidak perlu bersaing dengan mesin dalam menghasilkan informasi. nan perlu dilakukan adalah mengajarkan keahlian nan tidak boleh lenyap ketika teknologi semakin pintar: bertanya, memverifikasi, menilai, berargumentasi, berempati, dan bertanggung jawab.

Rasulullah menggunakan perumpamaan dan perangkat bantu konkret dalam menjelaskan sesuatu, dalam beberapa riwayat menggunakan garis alias gambar di tanah untuk membantu sahabat memahami konsep tertentu. Prinsipnya sederhana: sesuatu nan absurd sering kali lebih mudah dipahami ketika dapat dilihat, dibayangkan, alias dikaitkan dengan pengalaman nyata. Matematika tidak kudu selalu datang sebagai nomor di papan tulis; dia dapat dihubungkan dengan persoalan finansial sehari-hari. Sains dapat dipelajari melalui eksperimen. Pendidikan kepercayaan dapat membahas dilema moral nan betul-betul dihadapi anak.

Rasulullah juga menunjukkan pentingnya mendidik manusia secara berjenjang sesuai kondisi dan kemampuannya, anak usia awal memerlukan pengalaman dan rasa aman, anak nan lebih besar memerlukan pembiasaan dan tanggung jawab, remaja memerlukan ruang perbincangan dan kepercayaan. Masalahnya, perubahan anak sering kali jauh lebih sigap daripada perubahan langkah kita mengajar. Mereka hidup dalam ekosistem digital, sementara sebagian pembelajaran tetap berpusat pada pola pembimbing menjelaskan, siswa mencatat, menghafal, lampau diuji. Pola tersebut tidak selalu salah, tetapi tidak cukup untuk menghadapi bumi nan memerlukan keahlian memecahkan masalah dan mengambil keputusan.

Namun perubahan pendidikan juga tidak boleh seluruhnya dibebankan kepada guru. Guru memerlukan support sistem: kesempatan belajar, kolaborasi, kepemimpinan sekolah nan baik, perlindungan profesional, dan ruang untuk bereksperimen. Ketika pembimbing terus dibebani pekerjaan administratif tanpa support nan memadai, susah berambisi mereka dapat sepenuhnya datang sebagai penyedia pembelajaran. Karena itu, reformasi pendidikan Indonesia semestinya tidak berakhir pada pergantian kurikulum alias pengadaan teknologi. Kita perlu memperkuat manusia nan menjalankan pendidikan.

Di era ketika mesin semakin sigap memberikan jawaban, sekolah justru kudu semakin serius mengajarkan anak untuk bertanya. Sebab manusia masa depan tidak cukup hanya bisa mengetahui banyak hal. Ia kudu bisa membedakan nan betul dan nan salah, memahami akibat pilihannya, menghargai manusia lain, dan menggunakan pengetahuannya untuk kebaikan. Pendidikan nan sukses bukan hanya melahirkan manusia nan bisa menjawab soal, melainkan manusia nan bisa menjawab tantangan era tanpa kehilangan logika sehat, karakter, dan empatinya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan