Jakarta -
Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (Setjen DPD RI) menjadikan kesehatan pegawai sebagai bagian krusial dari investasi lembaga dalam membangun sumber daya manusia nan sehat, produktif, dan berkinerja optimal. Upaya tersebut diwujudkan melalui Health Talk & Sharing Session bertema 'Menjaga Kesehatan Liver Demi Hidup Lebih Sehat' nan menghadirkan master ahli penyakit dalam Eka Hospital Depok, Gerry Permadi, di Lobi Gedung DPD RI, Jakarta, hari ini.
Sekretaris Jenderal DPD RI M. Iqbal menegaskan bahwa kesehatan pegawai tidak dapat dipisahkan dari kekuatan dan produktivitas organisasi. Karena itu, Setjen DPD RI mendorong pendekatan nan lebih preventif dengan meningkatkan kesadaran pegawai terhadap aspek akibat kesehatan, termasuk obesitas dan fatty liver.
Hal tersebut disampaikan Iqbal di sela-sela peresmian Poliklinik DPD RI menuju Klinik Prima nan sesuai standar. Peningkatan Klinik Pratama DPD RI tersebut dilakukan di tengah tuntutan pemenuhan izin Kementerian Kesehatan nan mensyaratkan setiap akomodasi pelayanan kesehatan memenuhi standar akreditasi. Upaya pemenuhan standar tersebut dilakukan melalui pembenahan sarana dan prasarana serta beragam persiapan lainnya agar Klinik Pratama DPD RI bisa memberikan pelayanan kesehatan nan semakin berkualitas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya memandang kesehatan pegawai sebagai bagian dari investasi institusi. Fatty liver berbanding lurus dengan makan banyak dan kemauan untuk tidak bergerak. Karena itu, saya menitipkan agar setiap unit kerja melakukan pendataan, terutama bagi pegawai nan masuk kategori obesitas, untuk kemudian diberikan pengarahan dan didorong mengikuti aktivitas olahraga demi kebaikan kesehatan pegawai," ujar M. Iqbal dalam keterangan tertulis, Rabu (2/9/2026).
Arahan tersebut menjadi bagian dari upaya Setjen DPD RI membangun budaya hidup sehat nan tidak berakhir pada edukasi, tetapi diterjemahkan ke dalam langkah nyata di lingkungan kerja. Pendekatan preventif dipandang krusial agar pegawai mempunyai kesadaran lebih baik terhadap kondisi tubuhnya dan terdorong melakukan perubahan style hidup sebelum muncul persoalan kesehatan nan lebih serius.
Bagi Setjen DPD RI pembangunan budaya hidup sehat merupakan bagian dari strategi jangka panjang dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia. M. Iqbal menilai lingkungan kerja nan sehat bakal memberikan akibat positif terhadap produktivitas dan kualitas penyelenggaraan tugas kelembagaan.
"Kita mau pegawai Setjen DPD RI tidak hanya sehat saat bekerja, tetapi mempunyai kesadaran untuk menjaga kesehatan sebagai bagian dari style hidup. SDM nan sehat adalah kekuatan institusi, dan lantaran itu upaya seperti ini kudu terus kita dorong," kata M. Iqbal.
Sementera itu, Gerry Permadi menjelaskan bahwa fatty liver berangkaian dengan penumpukan lemak pada liver dan mempunyai hubungan erat dengan obesitas serta gangguan metabolik. Kondisi ini perlu mendapat perhatian lantaran dapat berjalan dengan indikasi nan minim pada tahap awal.
"Fatty liver tidak hanya berangkaian dengan apa nan kita makan, tetapi juga dengan seberapa aktif kita bergerak. Menjaga berat badan, menerapkan pola makan sehat, rutin berolahraga, menjaga kadar kolesterol, dan menghindari alkohol merupakan bagian krusial untuk menjaga kesehatan liver," kata Gerry.
Dalam sesi tersebut, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai keterkaitan fatty liver dan glukosuria nan dapat saling memperberat kondisi metabolik. Gerry menekankan bahwa akibat tersebut dapat dicegah dan dikendalikan melalui penemuan awal serta perbaikan pola hidup nan dilakukan secara konsisten.
"Pencegahan selalu menjadi langkah nan penting. Jangan menunggu sampai muncul keluhan untuk mulai menjaga kesehatan. Dengan mengenali aspek akibat dan melakukan perubahan style hidup sejak dini, kita dapat menjaga kesehatan liver sekaligus meningkatkan kualitas hidup," ungkap Gerry.
Sementara itu, Kepala Klinik Pratama DPD RI Emirianti mengatakan aktivitas tersebut menjadi bagian dari komitmen lembaga untuk memperluas akses terhadap edukasi kesehatan sekaligus memperkuat upaya pencegahan. Menurutnya, persoalan kesehatan metabolik seringkali luput dari perhatian lantaran minimnya indikasi pada tahap awal.
"Deteksi dan penanganan sejak awal sangat krusial melalui pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan radiologis seperti USG dan Fibroscan, serta pemeriksaan lanjutan sesuai kondisi pasien," ujar Emirianti.
Emirianti menjelaskan upaya menjaga kesehatan metabolik perlu dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan, terutama melalui pengendalian berat badan, penerapan pola makan sehat, dan aktivitas bentuk secara rutin.
"Penurunan berat badan nan ideal juga dapat memberikan faedah dalam memperbaiki beragam aspek akibat metabolik nan berangkaian dengan kesehatan liver," tutupnya.
(ega/ega)
37 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·