Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, membantah pemadaman listrik bergilir di beberapa wilayah di pulau Jawa bukan disebabkan seretnya pasokan batu bara di pembangkit.
Anggia mengakui terjadi beberapa gangguan teknis, namun bukan lantaran pasokan batu bara. Pemerintah saat ini tengah berkoordinasi dengan PT PLN (Persero).
"Tidak ada batu bara menipis. Memang ada beberapa gangguan mengenai teknis, kita sudah berkomunikasi dengan PLN untuk mengantisipasi agar peristiwa ini tidak berulang," ungkapnya di instansi Kementerian ESDM, Kamis (11/6).
Meski demikian, dia menegaskan tidak ada rencana melakukan pemadaman besar-besaran seperti nan santer diisukan di publik. Pasalnya, pemerintah malah bakal meningkatkan produksi batu bara.
"Kalau ada isu-isu nan bakal ada pemadaman itu tidak benar, dipastikan tidak benar," kata Anggia.
Anggia menjelaskan, bakal terdapat relaksasi Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) produksi batu bara nan sempat dipangkas pada tahun ini untuk meningkatkan harganya nan lesu sepanjang tahun lalu.
"Sejauh ini tidak ada permasalahan, apalagi Pak Menteri (ESDM) juga jelas menyampaikan mengenai RKAB ini kan ada relaksasi berjenjang ya," tuturnya.
"Melihat gimana kebutuhan, tetap mempertimbangkan kebutuhan industri dengan kuota batu bara nan tersedia ke sana. Jadi tidak ada gangguan mengenai dengan pasokan alias suplai daya untuk PLN," tandas Anggia.
Sebelumnya, Institute for Essential Services Reform (IESR) mempertanyakan penjelasan mengenai gangguan sistem kelistrikan nan menyebabkan pemadaman listrik di sejumlah wilayah di Jawa pada 9–10 Juni 2026.
Dalam sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali (Jamali), gangguan pada satu pembangkit alias komponen jaringan semestinya tidak dengan mudah berkembang menjadi pemadaman nan luas selain jika PLN memang melakukan pemadaman untuk mengurangi beban listrik (load curtailment).
“Pemadaman bergilir nan terjadi selama tiga hari terakhir merugikan konsumen secara finansial. Walaupun konsumen berkuasa mendapatkan tukar rugi, tapi nilai tukar rugi tersebut tidak sebanding dengan biaya dan kerugian nan terjadi akibat pemadaman listrik," ujar Chief Executive Officer (CEO) IESR, Fabby Tumiwa, dalam keterangannya.
Menurut Fabby, ada sejumlah aspek nan menjadi aspek penyebab pemadaman listrik, antara lain minimnya persediaan daya, gangguan pasokan bahan bakar, agenda perawatan pembangkit nan tidak sinkron, hingga gangguan transmisi, Investigasi menyeluruh bisa menjawab pemicu dan penyebab utama pemadaman.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·