Warga Murka 'Tanah Airnya' Dijadikan Karantina AS: Demo Rusuh-1 Tewas

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Aparat kepolisian Kenya menembak meninggal seorang demonstran di tengah gelombang tindakan unjuk rasa masif nan melanda kota Nanyuki awal pekan ini. Kerusuhan berdarah ini meletus setelah ratusan penduduk turun ke jalan untuk menentang keras proyek pembangunan pusat karantina Ebola milik Amerika Serikat nan ditempatkan di pangkalan angkatan udara Kenya.

Mengutip CNBC International, Kamis (11/6/2026), sejumlah saksi mata dan pemimpin tindakan menyatakan korban tewas seketika di letak kejadian akibat menderita luka tembak nan sangat parah di bagian kepala. Pihak Komisi Hak Asasi Manusia Kenya alias KHRC melaporkan bahwa abdi negara keamanan kepolisian nan menggunakan penutup wajah sengaja melepaskan tembakan peluru tajam ke arah kerumunan massa serta melakukan penangkapan secara sewenang-wenang terhadap belasan demonstran.

"Petugas kepolisian berkerudung... menembakkan peluru tajam dan menangkap secara sewenang-wenang 19 pengunjuk rasa," tegas pihak KHRC melalui pernyataan tertulis resmi mereka di media sosial X mengenai tindakan represif abdi negara keamanan di lapangan.

Rencana pembangunan akomodasi karantina berkapasitas 50 tempat tidur di Pangkalan Udara Laikipia tersebut telah memicu kemarahan besar dari masyarakat Kenya. Warga menuduh pemerintah Amerika Serikat sengaja memindahkan akibat penyebaran pandemi mematikan itu ke wilayah mereka. Penolakan ini mencuat setelah pandemi Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda dilaporkan telah menembus 500 kasus konfirmasi dengan korban meninggal bumi mencapai 100 orang.

Tindakan sadis abdi negara dalam membubarkan massa nan membawa bendera Kenya dan simbol penolakan Ebola tersebut langsung memicu ketegangan politik nan dahsyat di dalam negeri. Para demonstran melayangkan protes keras lantaran keberadaan pusat karantina ini dinilai telah menghancurkan sektor pariwisata lokal di sekitar area Gunung Kenya.

"Pesan saya adalah ini: Laikipia bukanlah tempat pembuangan sampah dan bunyi kami kudu didengar," ketus salah satu demonstran wanita berjulukan Priscilla Imani dengan penuh kemarahan.

Aksi penolakan ini juga didukung oleh keputusan norma di mana seorang pengadil pengadilan tinggi setempat sebenarnya telah dua kali mengeluarkan perintah resmi untuk membekukan proyek tersebut. Pengadilan apalagi memberikan tenggat waktu satu minggu bagi pemerintah Kenya untuk membuka seluruh draf perjanjian dan protokol operasional karantina dengan pihak Amerika Serikat namun petunjuk tersebut diabaikan.

Data satelit dan laporan diplomatik justru menunjukkan pesawat-pesawat militer Amerika Serikat tetap aktif menerbangkan personel serta logistik ke dalam pangkalan udara. Rangkaian tenda putih berukuran besar dilaporkan terus dibangun di atas lahan seluas 4,5 hektare di dalam area militer tersebut.

Langkah sepihak ini diambil setelah pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan kebijakan sangat ketat nan melarang keras seluruh pasien terindikasi Ebola untuk memasuki wilayah teritorial negaranya. Fasilitas di Kenya ini sengaja dipersiapkan unik untuk mengisolasi penduduk negara Amerika Serikat nan telah terpapar virus Ebola di Afrika Tengah sebelum mereka menunjukkan indikasi klinis.

Gelombang kemarahan masyarakat di jalanan akhirnya berbalik menyasar kepemimpinan politik di dalam negeri. Massa nan mengamuk mulai meneriakkan semboyan untuk melengserkan Presiden Kenya William Ruto lantaran dinilai telah mengorbankan keselamatan rakyatnya sendiri demi kepentingan politik luar negeri berbareng Washington.

(tps/sef/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News