Baru Setahun, RUPTL 2025-2034 Bakal Direvisi

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana merevisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 nan baru diluncurkan tahun lalu.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan saat ini pemerintah tengah melakukan pembahasan mengenai sejumlah penyesuaian dalam RUPTL tersebut.

"Ada beberapa memang untuk RUPTL itu nan memang ada koreksilah kira-kira seperti itu. Nah kita lakukan pembahasan," kata Tri di gedung DPR RI, Rabu (15/4/2026).

Tri menambahkan pada prinsipnya revisi ini dilakukan untuk membikin perencanaan kelistrikan nasional lebih adaptif terhadap dinamika kebutuhan dan perubahan regulasi.

"Yang jelas nan seperti saya sampaikan tadi bahwa setiap izin kita buat agar gimana caranya izin lebih adaptif lah kira-kira begitu," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia resmi meluncurkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) untuk periode 2025-2034.

Menurut Bahlil proses penyusunan RUPTL 2025-2034 sendiri melalui proses obrolan nan cukup panjang dan dikaji dengan sungguh-sungguh. Ia pun berambisi agar hasilnya presisi dan sesuai kebutuhan.

"Jadi RUPTL kita sudah sesuai dengan RUKN dan KEN ini semacam RUKN UU nya, PP nya itu KEN, rohnya itu RUPTL nya. Ini adalah pohon rujukan lahirlah RUPTL agar kita gak keluar dari bingkai," ujar Bahlil dalam Konferensi Pers di Gedung Kementerian ESDM, Senin (26/5/2025).

Di dalam RUPTL tersebut, penambahan kapabilitas pembangkit listrik ditargetkan dapat mencapai 69,5 Gigawatt (GW). Terdiri dari 42,6 GW bakal berasal dari pembangkit daya baru dan terbarukan (EBT).

Kemudian 10,3 GW nan bakal berasal dari sistem penyimpanan daya (storage), sedangkan 16,6 GW bakal berasal dari pembangkit berbasis daya fosil.

Adapun rinciannya untuk kapabilitas pembangkit EBT adalah sebagai berikut ialah Surya sebesar 17,1 GW, Air sebesar 11,7 GW, Angin sebesar 7,2 GW, Panas bumi sebesar 5,2 GW, Bioenergi sebesar 0,9 GW, dan Nuklir sebesar 0,5 GW.

Sementara itu, untuk kapabilitas sistem penyimpanan daya mencakup PLTA pumped storage sebesar 4,3 GW dan baterai 6,0 GW. Kemudian, untuk pembangkit fosil tetap bakal dibangun sebesar 16,6 GW, terdiri dari gas 10,3 GW dan batubara 6,3 GW.

(pgr/pgr)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News