Dari "Inggih" ke "Mengapa?": Budaya Sendiko Dawuh dalam Pendidikan Modern

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi Sendiko Dawuh "ketaatan dan penghormatan". Foto: Dokumentasi pribadi

Pendidikan tidak hanya berfaedah sebagai tempat untuk memperoleh pengetahuan pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang bagi peserta didik untuk mempelajari nilai, norma, dan budaya nan bertindak dalam masyarakat. Melalui pendidikan, siswa tidak hanya belajar matematika, bahasa, alias pengetahuan pengetahuan lainnya, tetapi juga belajar gimana bersikap, berinteraksi, dan memandang bumi di sekitarnya. Oleh lantaran itu, pendidikan mempunyai peran krusial dalam membentuk karakter dan pola pikir seseorang.

Dalam masyarakat Jawa, terdapat nilai budaya nan dikenal dengan istilah sendiko dawuh. Istilah ini menggambarkan sikap alim dan hormat kepada orang nan mempunyai otoritas, seperti orang tua, guru, maupun pemimpin. Nilai tersebut telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Jawa. Dalam lingkungan sekolah, budaya ini sering terlihat ketika siswa mengikuti pengarahan pembimbing tanpa banyak bertanya alias membantah.

Di sisi lain, pendidikan modern menuntut peserta didik untuk mempunyai keahlian berpikir kritis, kreatif, dan bisa menyampaikan pendapat secara terbuka. Siswa tidak lagi hanya diharapkan menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi perseorangan nan bisa menganalisis, mempertanyakan, dan mencari solusi atas beragam persoalan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan menarik: apakah budaya sendiko dawuh masih relevan dalam pendidikan modern nan menekankan pentingnya berpikir kritis?

Memahami Budaya Sendiko Dawuh dalam Tradisi Jawa

Sendiko dawuh berasal dari bahasa Jawa nan secara sederhana dapat diartikan sebagai kesediaan untuk menaati alias menjalankan perintah nan diberikan oleh seseorang nan dihormati. Nilai ini berakar kuat dalam budaya Jawa nan menjunjung tinggi rasa hormat, kesopanan, dan keselarasan sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, sikap sendiko dawuh tercermin melalui perilaku menghargai orang tua, mendengarkan nasihat guru, serta mematuhi patokan nan bertindak dalam masyarakat.

Dalam bumi pendidikan, budaya ini sering terlihat melalui hubungan antara pembimbing dan siswa. Guru dipandang sebagai sosok nan mempunyai pengetahuan dan pengalaman sehingga layak dihormati dan diikuti arahannya. Tidak jarang siswa merasa bahwa membantah alias mempertanyakan pendapat pembimbing merupakan tindakan nan kurang sopan. Akibatnya, sikap alim menjadi salah satu karakter nan dianggap baik dalam lingkungan sekolah.

Seorang anak mencium tanganorang tua dalam sebuah pedesaan tradisional, nan menggambarkan rasa hormat budaya. Foto: Daniel lee/Pexels

Pada dasarnya, sendiko dawuh mempunyai nilai positif lantaran mengajarkan pentingnya menghormati orang lain, menjaga etika, dan membangun kedisiplinan. Namun, ketika nilai tersebut dipahami secara berlebihan, muncul kemungkinan bahwa siswa menjadi terlalu pasif dan enggan menyampaikan pendapatnya. Di sinilah muncul tantangan bagi pendidikan modern nan menuntut keseimbangan antara sikap hormat dan keahlian berpikir kritis.

Hidden Curriculum dalam Praktik Pendidikan

Ketika membahas pendidikan, banyak orang hanya berfokus pada kurikulum umum nan berisi mata pelajaran, materi pembelajaran, dan tujuan pendidikan. Padahal, di kembali kurikulum umum terdapat hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi. Hidden curriculum merupakan nilai, norma, dan kebiasaan nan dipelajari siswa secara tidak langsung melalui kehidupan sehari-hari di sekolah.

Contoh hidden curriculum dapat ditemukan dalam beragam aktivitas sekolah. Siswa diajarkan untuk datang tepat waktu, mematuhi patokan sekolah, menghormati guru, dan menjaga ketertiban kelas. Nilai-nilai tersebut memang tidak selalu tertulis dalam kitab pelajaran, tetapi terus diajarkan melalui praktik dan budaya sekolah.

Budaya sendiko dawuh dapat dipahami sebagai bagian dari hidden curriculum. Melalui hubungan sehari-hari, siswa belajar bahwa pembimbing adalah sosok nan kudu dihormati dan ditaati. Mereka terbiasa mendengarkan pengarahan guru, mengikuti petunjuk tanpa banyak bertanya, dan menganggap kepatuhan sebagai perilaku nan baik. Dengan demikian, sekolah secara tidak langsung menjadi ruang nan mereproduksi nilai-nilai budaya nan hidup dalam masyarakat.

Walaupun mempunyai tujuan positif, hidden curriculum juga dapat menghasilkan akibat nan tidak disadari. Ketika kepatuhan lebih dihargai dibandingkan keberanian bertanya, siswa mungkin merasa ragu untuk mengemukakan pendapat alias mempertanyakan info nan diterimanya. Akibatnya, proses belajar menjadi kurang dialogis dan condong melangkah satu arah.

Dari "Inggih" ke "Mengapa?": Perspektif Critical Pedagogy

Berbeda dengan pendekatan pendidikan nan menekankan kepatuhan, critical pedagogy alias pedagogi kritis menempatkan peserta didik sebagai subjek nan aktif dalam proses pembelajaran. Tokoh nan paling dikenal dalam pendekatan ini adalah Paulo Freire, seorang ahli filsafat pendidikan asal Brasil nan mengkritik model pendidikan tradisional nan hanya menjadikan siswa sebagai penerima informasi.

Menurut Freire, pendidikan semestinya membantu peserta didik mengembangkan kesadaran kritis terhadap realitas sosial nan mereka hadapi. Siswa perlu diberi ruang untuk berdialog, bertanya, dan mengemukakan pendapat sehingga mereka tidak hanya menerima pengetahuan secara pasif. Pendidikan nan baik bukanlah pendidikan nan membikin siswa sekadar menghafal, melainkan pendidikan nan mendorong mereka untuk memahami dan merefleksikan beragam persoalan dalam kehidupan.

Dalam konteks budaya sendiko dawuh, pedagogi kritis membujuk kita untuk memandang bahwa sikap hormat kepada pembimbing tidak kudu menghilangkan keberanian untuk bertanya. Seorang siswa dapat tetap menghormati gurunya sembari mengusulkan pertanyaan, berdiskusi, alias menyampaikan pandangan nan berbeda secara santun. Dengan kata lain, kata "inggih"yang melambangkan kepatuhan perlu melangkah berdampingan dengan kata "mengapa" nan mencerminkan rasa mau tahu dan pemikiran kritis.

Dilema antara Kepatuhan dan Berpikir Kritis dalam Pendidikan Modern

Salah satu tantangan terbesar dalam pendidikan saat ini adalah menemukan keseimbangan antara membangun karakter nan santun dan mengembangkan keahlian berpikir kritis. Di satu sisi, budaya sendiko dawuh memiliki banyak manfaat. Sikap hormat kepada pembimbing dapat menciptakan lingkungan belajar nan tertib dan kondusif. Selain itu, nilai ini juga membantu siswa memahami pentingnya etika dalam kehidupan sosial.

Namun, di sisi lain, budaya kepatuhan nan terlalu kuat dapat menimbulkan beberapa persoalan. Banyak siswa merasa takut bertanya lantaran cemas dianggap tidak sopan alias menentang guru. Tidak sedikit pula siswa nan memilih tak bersuara meskipun belum memahami materi nan diajarkan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghalang perkembangan keahlian berpikir kritis dan produktivitas peserta didik.

Fenomena tersebut tetap dapat ditemukan di beragam sekolah. Ketika pembimbing mengusulkan pertanyaan kepada siswa, suasana kelas sering kali menjadi hening lantaran siswa takut memberikan jawaban nan salah. Sebaliknya, ketika pembimbing menjelaskan materi, hanya sedikit siswa nan berani mengusulkan pertanyaan. Hal ini menunjukkan bahwa budaya kepatuhan tetap mempunyai pengaruh nan cukup kuat dalam praktik pendidikan.

Pendidikan modern sebenarnya memerlukan siswa nan bisa berpikir mandiri, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah. Oleh lantaran itu, sekolah perlu menciptakan ruang belajar nan tidak hanya menghargai kepatuhan, tetapi juga menghargai keberanian untuk bertanya dan berpendapat.

Ilustrasi anak belajar bertanya. Foto: Nasirun/Pexels

Relevansi Budaya Sendiko Dawuh di Era Pendidikan Modern

Perkembangan era tidak berfaedah bahwa budaya sendiko dawuh harus ditinggalkan. Nilai-nilai seperti rasa hormat, kesopanan, dan penghargaan terhadap pembimbing tetap krusial untuk dipertahankan dalam bumi pendidikan. Namun, nilai tersebut perlu dipahami secara lebih elastis agar tidak menghalang perkembangan keahlian berpikir kritis peserta didik.

Dalam konteks pendidikan modern, pembimbing tidak lagi diposisikan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Guru berkedudukan sebagai penyedia nan membantu siswa menemukan dan membangun pengetahuannya sendiri. Oleh lantaran itu, hubungan antara pembimbing dan siswa perlu dibangun melalui komunikasi nan lebih dialogis.

Budaya sendiko dawuh dapat tetap relevan andaikan dimaknai sebagai sikap hormat nan tidak menghilangkan ruang untuk berdiskusi. Dengan demikian, siswa dapat tetap menjaga etika dalam berinteraksi dengan pembimbing sekaligus berani mengusulkan pertanyaan, memberikan pendapat, dan berpikir secara kritis. Pendidikan nan ideal bukanlah pendidikan nan hanya menghasilkan siswa nan patuh, tetapi juga siswa nan bisa memahami, menganalisis, dan merespons beragam tantangan sosial secara bijaksana.

Pada akhirnya, budaya sendiko dawuh tidak dapat dipandang hanya sebagai corak kepatuhan semata. Nilai ini merupakan bagian dari warisan budaya Jawa nan mengajarkan pentingnya menghormati orang lain, menjaga sopan santun, dan membangun hubungan sosial nan harmonis. Dalam lingkungan pendidikan, nilai-nilai tersebut sering kali datang melalui beragam kebiasaan dan praktik sehari-hari nan secara tidak langsung membentuk sikap peserta didik.

Namun, di tengah tuntutan pendidikan modern nan semakin menekankan keahlian berpikir kritis, budaya kepatuhan juga perlu dimaknai secara lebih terbuka. Menghormati pembimbing bukan berfaedah kudu menerima semua perihal tanpa mempertanyakannya. Justru, proses belajar nan baik adalah ketika siswa bisa berdialog, mengemukakan pendapat, dan mengusulkan pertanyaan dengan tetap menjunjung sikap santun.

Oleh lantaran itu, tantangan pendidikan saat ini bukanlah memilih antara kepatuhan alias pemikiran kritis, melainkan gimana keduanya dapat melangkah beriringan. Siswa tetap dapat memegang nilai sendiko dawuh sebagai corak penghormatan kepada guru, sembari mengembangkan keberanian untuk bertanya, berdiskusi, dan berpikir secara reflektif. Dengan begitu, pendidikan tidak hanya melahirkan generasi nan tahu langkah berbicara "inggih", tetapi juga generasi nan berani bertanya "mengapa" demi memahami bumi secara lebih mendalam.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan