Jakarta, CNN Indonesia --
Bareskrim Polri dan FBI mengaku tengah memburu ribuan pembeli perangkat phising alias peretasan buatan tersangka GWL dan FYTP nan merupakan pasangan sejoli asal Nusa Tenggara Timur (NTT).
Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Himawan Bayu Aji mengatakan saat ini proses identifikasi tetap terus didalami oleh interogator terhadap 2.400 pembeli perangkat phising tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini sedang diidentifikasi mendalam anggota. Sehingga ini kredensialnya diketahui dari mana saja, siapa, itu bisa ketahuan kelak dari 2.400 (pembeli)," ujarnya kepada wartawan, Kamis (23/4).
"Karena ini belum selesai 2.400 ini. Ini tetap ada proses pendalaman. Sehingga kelak tetap terus dilakukan pendalaman," imbuhnya.
Oleh karenanya, kata dia, kerjasama dengan FBI tetap terus dilakukan lantaran para pembeli perangkat phising tersebut bisa berada di negara mana saja. Termasuk pihak-pihak nan menjadi korban phising tidak hanya dari satu negara saja.
"Ini adalah aktivitas transnasional di mana pelaku bisa ada di satu negara, tetapi korban ada di beragam negara. Tadi contohnya ada di Amerika, kemudian di Moldova itu bagian daripada korban. Sehingga itu bisa terjadi," tuturnya.
Ia menjelaskan kerjasama awal dilakukan untuk mendata keberadaan para pelaku serta korban phising dengan perangkat buatan sejoli NTT tersebut.
"Kita kerja sama dengan beragam pihak, stakeholder baik eh internasional maupun eh nasional. Salah satunya dengan FBI, ini dalam rangka melakukan supporting info kepada kami, untuk kami bisa memandang sebetulnya korban-korbannya," ujarnya.
Sebelumnya Himawan menyebut total ada 2.440 pelaku kejahatan nan membeli perangkat phising milik GWL selama periode 2019 sampai dengan 2024. Seluruh transaksi telah dikonfirmasi menggunakan aset mata uang digital nan tercatat dalam riwayat pembelian.
Selama periode itu, kata dia, terdapat sekitar 34.000 korban nan teridentifikasi pada periode Januari 2023 hingga April 2024. Dari jumlah tersebut, sebanyak 17.000 korban alias kurang lebih 50% persen nan terkonfirmasi mengalami peretasan alias account compromise.
"Termasuk keberhasilan skrip dalam melewati sistem pengamanan berlapis alias Multi-Factor Authentication," tuturnya.
Ia menambahkan dari hasil kajian terhadap 157 korban, sebanyak 53 persen berasal dari Amerika Serikat. Selain itu, Himawan menyebut ada 9 entitas perusahaan dari Indonesia nan menjadi korban.
"Estimasi kerugian para korban nan ditimbulkan dari penggunaan skrip nan dijual oleh tersangka, periode Januari 2023 hingga April 2024, diperkirakan mencapai sekitar 20 juta USD alias sekitar Rp350 miliar," tuturnya.
(fra/tfq/fra)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·