Bareskrim Bongkar 5 Merek Beras Fortifikasi Bodong, Raup Untung Rp69 M

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Bareskrim Polri membongkar peredaran lima merek beras fortifikasi bodong di pasaran nan tidak sesuai standar mutu dan kualitas.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Kombes Suhasto mengatakan pihaknya telah menemukan perangkat bukti nan cukup mengenai tindakan kecurangan tersebut.

Ia menyebut kasus ini juga telah ditingkatkan statusnya ke tahap penyidikan. Suhasto menuturkan dalam waktu dekat pihaknya bakal segera menetapkan tersangka untuk dimintai pertanggungjawaban.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Berdasarkan hasil penyelidikan, pemeriksaan saksi-saksi, keterangan ahli, hasil lab, telah ditemukan minimal dua perangkat bukti dan interogator telah meningkatkan status perkara ini dari tahap penyelidikan ke tahap penyidikan," ujarnya dalam konvensi pers, Rabu (21/10).

Suhasto menjelaskan kelima merk beras fortifikasi nan tidak sesuai mutu dan kualitasnya ialah Idola Hijau, Idola Merah, Dewa Tunggal Raja Lele, Cantik Manis dan Wijaya Kusuma.

Ia mengatakan kelima merk tersebut terbukti tidak mempunyai kandungan vitamin tambahan seperti nan diwajibkan bagi beras fortifikasi.

Suhasto menjelaskan pemeriksaan dilakukan oleh Satgas Pangan berbareng Bapanas terhadap beras di pasaran dengan uji laboratorium di PT Saraswanti Indo Genetech (SIG).

"Dilakukan pengetesan laboratorium dengan hasil bahwa kelima merek tersebut mutu dan kandungan gizinya tidak sesuai dengan label pada kemasan," tuturnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan kelima merek itu diproduksi oleh satu perusahaan berinisial PT DTA nan beraksi di area Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur.

Dalam kasus ini, kata dia, interogator juga telah memeriksa Direktur beserta Kepala Operasional PT DTA. Suhasto menambahkan interogator juga bakal segera memanggil keduanya dalam proses penyidikan.

"Penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap 12 saksi nan terdiri dari Pelapor, ialah pihak dari Bapanas RI; Kemudian Direktur PT DTA dan Kepala Produksi PT DTA," ujarnya.

Suhasto menambahkan selama periode April hingga Agustus 2026, PT DTA telah memproduksi sebanyak kurang lebih 2.500 ton beras fortifikasi dengan dugaan nilai jual rata-rata Rp18.100 hingga Rp27.998 per kilo.

"Nilai ekonomis produksi tersebut bisa diperkirakan mencapai Rp69,995 miliar," tuturnya.

Dalam kasus ini, dia mengatakan interogator telah menyita sejumlah peralatan bukti berupa 6,4 ton beras senilai ratusan juta rupiah hingga mesin penggiling senilai Rp1 miliar.

"Barang bukti nan telah disita dalam perkara ini berupa 1.194 bungkusan beras dengan berat total keseluruhan adalah 6.405 kilogram dengan perkiraan nilai sebesar Rp 155.260.000, dan satu lini rangkaian mesin rice milling unit dengan perkiraan nilai sebesar Rp 1 miliar," ungkap Suhasto.

Beras medium diberi label fortifikasi

Dalam kesempatan nan sama, Kasubdit I Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Kombes Dery Agung Wijaya menjelaskan PT DTA menggunakan beras medium untuk dikemas ulang sebagai beras fortifikasi.

Ia menyebut nilai beras medium di pasaran dijual dengan nilai Rp13.500 per kilogram. Sementara, kata dia, setelah dikemas ulang sebagai beras fortifikasi dijual dengan untung mencapai Rp37.500 kilogram.

"Sehingga di dalam satu bungkusan bisa dapat untung antara Rp23.000 sampai Rp37.500. Itu perumpamaan," tuturnya.

Sebagai informasi, beras fortifikasi adalah beras nan ditambahkan unsur gizi tertentu untuk meningkatkan kandungan mikronutriennya.

Bapanas mendefinisikan beras fortifikasi sebagai beras nan ditambahkan kernel beras fortifikan guna memperoleh komposisi unsur gizi tertentu nan diharapkan.

Kernel sendiri merupakan butiran beras nan telah diperkaya alias ditambahkan unsur gizi, nan kemudian dicampurkan dengan beras biasa.

Dalam pembuatannya, terdapat proses penambahan unsur gizi dan serangkaian standar ketat nan wajib dipenuhi. Oleh lantaran itu, pemerintah telah menerbitkan izin khusus, ialah Standar Nasional Indonesia (SNI) 9372:2025 tentang Beras Fortifikasi.

(tfq/isn)

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional
↑