Jakarta, CNBC Indonesia - Kesenjangan antara bumi pendidikan dan kebutuhan industri tetap menjadi persoalan klasik di Indonesia. Tak sedikit lulusan nan kesulitan menembus pasar kerja lantaran kompetensi nan dimiliki belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan bumi usaha. Kondisi ini mendorong pemerintah memperkuat pendidikan vokasi sebagai jembatan untuk menutup celah tersebut.
Kementerian Perindustrian melihat, persoalan ini tidak bisa dibiarkan berlarut lantaran berakibat langsung pada daya saing tenaga kerja nasional. Karena itu, penguatan pendidikan vokasi sekarang ditempatkan sebagai salah satu prioritas.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa pemerintah mau memastikan lulusan pendidikan mempunyai keterkaitan langsung dengan kebutuhan industri, baik di dalam negeri maupun global.
"Bapak Presiden menekankan bahwa pendidikan vokasi kudu menjadi prioritas nasional agar lulusan mempunyai kompetensi nan sesuai dengan kebutuhan bumi kerja, baik di dalam negeri maupun pasar global," ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kemenperin memperkuat peran unit pendidikan vokasi nan dibinanya agar lebih adaptif terhadap perkembangan industri. Kurikulum hingga pola pembelajaran dirancang semakin dekat dengan kebutuhan bumi usaha, sehingga lulusan tidak hanya mempunyai pengetahuan, tetapi juga keahlian nan siap digunakan.
Saat ini, Kemenperin membina 11 politeknik, 2 akademi komunitas, dan 9 SMK vokasi industri nan setiap tahunnya menghasilkan calon tenaga kerja industri nan siap kerja serta mempunyai keterkaitan erat dengan kebutuhan bumi upaya dan bumi industri. Mayoritas lulusan unit pendidikan tersebut telah terserap di industri, sementara sisanya memperoleh pekerjaan paling lama enam bulan setelah kelulusan.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Doddy Rahadi menyebut bahwa pendekatan ini mulai menunjukkan hasil, terlihat dari tingkat penyerapan lulusan nan cukup tinggi.
"Tingkat serapan lulusan ke industri pada tahun 2025 mencapai 68 persen sesaat setelah lulus, dan diproyeksikan mencapai 100 persen dalam waktu enam bulan setelah kelulusan," ungkap Doddy.
Dari info pada Jalur Penerimaan Vokasi Industri (JARVIS) tahun 2025, tercatat sebanyak 82,8 ribu pendaftar untuk politeknik dan akademi komunitas, serta 28,8 ribu pendaftar untuk SMK. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan tahun 2024 nan mencatat sekitar 60 ribu pendaftar politeknik dan akademi organisasi serta 23,5 ribu pendaftar SMK.
(hoi/hoi)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·