Bank Raksasa PHK Karyawan Gara-Gara AI, 7.000 Kena

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal kembali mengguncang industri finansial dunia setelah salah satu bank raksasa dunia, Standard Chartered, mengumumkan rencana restrukturisasi besar-besaran. Bank nan berbasis di London tersebut berencana untuk memangkas lebih dari 7.000 pekerjanya dalam kurun waktu empat tahun ke depan. Kebijakan efisiensi ekstrem ini diambil seiring dengan langkah perusahaan nan semakin garang dalam mengangkat teknologi kepintaran buatan (AI) untuk memacu pertumbuhan bisnis.

Mengutip laporan dari Channel News Asia pada Selasa (19/05/2026), manajemen Standard Chartered memproyeksikan pengurangan hingga 15% dari total peran kegunaan korporat mereka hingga tahun 2030 mendatang. Berdasarkan kalkulasi info internal, persentase tersebut setara dengan lebih dari 7.000 posisi nan bakal dirumahkan dari total 52.000 tenaga kerja nan saat ini mengisi pos korporat tersebut. Secara global, bank ini mengelola total staf mencapai nyaris 82.000 orang di beragam bagian dunia.

Langkah efisiensi radikal ini menjadikannya sebagai salah satu lembaga finansial dunia utama pertama nan secara terang-terangan menjabarkan rencana pengurangan ribuan tenaga kerja manusia akibat disrupsi AI. Manajemen berkilah bahwa perombakan struktur ini dilakukan demi memangkas birokrasi operasi nan gemuk, meningkatkan profitabilitas perusahaan, serta memenangkan persaingan pasar nan kian ketat di tengah ketidakpastian ekonomi makro.

Direktur Utama Standard Chartered Bill Winters menegaskan kepada para wartawan bahwa pengurangan jumlah tenaga kerja ini sepenuhnya bakal didorong oleh proses otomatisasi sistem dan mengambil teknologi AI nan masif, sementara beberapa staf lainnya bakal dialihkan untuk menjalani training keahlian baru (reskilling).

"Ini bukan pemotongan biaya. Ini adalah mengganti modal manusia nan berbobot lebih rendah dalam beberapa kasus dengan modal finansial dan modal investasi nan kami tanamkan," ujar Winters kepada wartawan pada Selasa.

Winters menambahkan bahwa area kerja nan paling terdampak oleh kebijakan rasionalisasi ini adalah pusat operasional bagian belakang (back-office) perusahaan nan tersebar di beberapa negara berkembang. Wilayah tersebut mencakup pusat operasional di Chennai dan Bangalore di India, Kuala Lumpur di Malaysia, serta Warsawa di Polandia.

"Tentu saja kami menggunakan AI di sepanjang jalan dan AI bakal menjadi penyedia serta pengaktif nan sangat besar untuk perihal itu," lanjut Winters merujuk pada pembaruan sistem perbankan inti mereka.

Di sisi lain, tantangan geopolitik dunia akibat bentrok Iran nan berkepunahan juga membayangi prospek upaya bank di area Asia Pasifik, di mana kenaikan biaya daya berpotensi meningkatkan akibat angsuran macet. Guna memitigasi akibat tersebut, Standard Chartered apalagi telah menyisihkan biaya persediaan pencegahan sebesar US$ 190 juta (Rp 3,36 triliun) pada kuartal pertama tahun ini nan mengenai langsung dengan akibat bentrok di Timur Tengah.

Terlepas dari tekanan eksternal tersebut, keahlian finansial korporasi dilaporkan tetap menunjukkan tren positif nan solid berkah konsentrasi upaya pada segmen ritel kaya (affluent) serta bagian perbankan korporasi dan investasi. Keberhasilan restrukturisasi jangka panjang ini diklaim bisa membawa perusahaan mencapai sasaran finansial lebih sigap dari nan diproyeksikan semula.

"Kami mencapai sasaran finansial jangka menengah tahun 2026 kami setahun lebih awal dari nan direncanakan," kata Winters dalam sebuah pernyataan resmi.

"Kami sekarang mempunyai organisasi nan lebih terfokus, efisien, dan ramping," pungkas Winters.

(tps/tps)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News