Bank Indonesia-Pemerintah Luncurkan PINISI, Genjot Kredit ke Sektor Produktif

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Menko Perekonomian Airlangga kick off PINISI. Dok. Ave Airiza/kumparan

Pemerintah berbareng Bank Indonesia (BI) resmi meluncurkan PINISI (Percepatan Intermediasi Indonesia) sebagai langkah mempercepat penyaluran pembiayaan ke sektor produktif. Inisiatif ini diharapkan menjadi jalur sigap untuk mengatasi halangan intermediasi nan selama ini menahan laju ekonomi, sekaligus mendorong pencapaian sasaran pertumbuhan di kisaran 5,4-5,5 persen.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menekankan bahwa intermediasi menjadi kunci krusial dalam menggerakkan sektor riil. Terutama untuk memperkuat UMKM, investasi, dan pembuatan lapangan kerja. Di tengah ketidakpastian global, pemerintah menilai ekonomi domestik tetap mempunyai ruang tumbuh nan kuat.

“Di tengah tantangan ekonomi global, walaupun perang belum selesai, dan juga Indonesia tetap mempunyai resiliensi nan kuat dan ruang untuk tumbuh tetap tinggi dan beberapa lembaga menilai probabiliti resesi Indonesia di bawah 5 persen,” ujar Airlangga dalam Kick Off PINISI di Kantor Pusat BI, Senin (27/4).

Ia memaparkan sejumlah parameter ekonomi nan tetap solid, mulai dari pertumbuhan ekonomi tahun lampau sebesar 5,11 persen hingga inflasi nan terkendali. Konsumsi domestik juga tetap menjadi penopang utama dengan kontribusi sekitar 54 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Meski demikian, pemerintah memandang tetap ada tantangan dalam penyaluran kredit, khususnya untuk sektor produktif. Hingga 31 Maret, realisasi angsuran program pemerintah baru mencapai Rp 78,39 triliun alias sekitar 25 persen dari sasaran tahun 2026. Kondisi ini menjadi salah satu argumen utama diluncurkannya PINISI.

Airlangga menegaskan, percepatan intermediasi dibutuhkan agar pembiayaan dapat mengalir lebih lancar ke sektor-sektor prioritas seperti hilirisasi, ketahanan pangan, manufaktur, hingga ekonomi digital.

8 Fokus Sinergi PINISI

Untuk memastikan penerapan melangkah konkret, pemerintah dan BI menetapkan delapan konsentrasi utama dalam program PINISI. Delapan konsentrasi ini dirancang tidak hanya memperkuat pembiayaan, tetapi juga menyelesaikan halangan struktural nan selama ini dihadapi bumi usaha.

Pertama, PINISI bakal menjadi forum strategis untuk membangun kepercayaan (building confidence) pelaku upaya dalam mendorong perekonomian nasional. Kedua, dilakukan pengharmonisan kebijakan dan program strategis antar kementerian dan lembaga agar selaras dengan kebijakan pembiayaan nasional.

Ketiga, program ini juga diarahkan untuk mengatasi halangan (debottlenecking) intermediasi struktural melalui fasilitasi jumpa upaya (business matching) antara pelaku usaha. Keempat, PINISI memberikan support pembiayaan bagi pembangunan ekonomi dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian.

Kelima, penguatan finansial inklusif menjadi bagian krusial guna mendorong ekonomi kerakyatan. Keenam, pertukaran serta pemanfaatan info intermediasi bakal diperkuat sebagai dasar perumusan kebijakan ekonomi nasional.

Ketujuh, penemuan digital didorong untuk mempercepat intermediasi sekaligus mendukung digitalisasi ekonomi. Kedelapan, peningkatan kualitas sumber daya manusia dilakukan melalui kerjasama antara akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah.

video story embed

Optimisme di Tengah Ancaman Global

Di sisi lain, Gubernur BI Perry Warjiyo mengingatkan bahwa kondisi dunia saat ini tetap penuh ketidakpastian. Tekanan berasal dari kebijakan suku kembang tinggi di Amerika Serikat hingga bentrok geopolitik nan belum mereda.

“Dunia sering kita katakan tidak baik-baik saja dan apalagi semakin tidak pasti,” kata Perry.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memicu arus keluar modal serta menekan ketahanan eksternal Indonesia. Karena itu, sinergi kebijakan antara pemerintah, BI, dan pemangku kepentingan lain menjadi krusial untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan.

Perry menekankan pentingnya membangun kepercayaan pelaku upaya sebagai fondasi utama dalam memperkuat intermediasi. PINISI diharapkan menjadi wadah strategis untuk mempertemukan kebutuhan pembiayaan dengan proyek-proyek prioritas nasional.

Ia menyebut, tantangan utama saat ini adalah memastikan pembiayaan betul-betul tersalurkan ke sektor nan membutuhkan, sekaligus mendorong investasi agar terus meningkat.

BI menegaskan PINISI tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi kudu menghasilkan realisasi konkret di lapangan. Mulai dari kesepakatan pembiayaan hingga penerapan proyek nan berakibat langsung pada perekonomian. “PINISI tidak berakhir pada diskusi,” tegas Perry.

Dengan kerjasama lintas lembaga, pemerintah berambisi PINISI bisa mempercepat aliran pembiayaan, mengatasi halangan struktural, dan pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi nan lebih inklusif dan berkelanjutan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan