Bamsoet Luncurkan 2 Buku Terbaru, Rekam Perjalanan Politik & Akademik

Sedang Trending 54 menit yang lalu

Jakarta -

Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar Bambang Soesatyo (Bamsoet) meluncurkan dua kitab terbaru. 2 kitab tersebut merekam perjalanan panjangnya di bumi politik, hukum, ketatanegaraan hingga pendidikan.

Dua kitab tersebut berjudul 'Politik Hukum Konstitusi: Menjembatani Teori Akademis dan Realitas Parlemen' nan merupakan kitab karya Bamsoet ke-38 dengan Prolog dan Epilog dari Prof Dr Jimly Asshiddiqie serta kitab 'Dari Senayan ke Ruang Kuliah: Jejak Kepemimpinan dan Pemikiran' karya wartawan senior wartawan Kompas J. Osdar.

Adapun dua kitab tersebut juga mempunyai nilai krusial lantaran menempatkan pengalaman politik dan perspektif akademik dalam satu ruang bahasan. Buku karya Bamsoet berangkat dari pengalaman langsung sebagai legislator sekaligus dosen, sementara karya J. Osdar memandang gimana pengalaman panjang di parlemen, organisasi, bumi usaha, dan kepemimpinan lembaga negara kemudian ditransformasikan menjadi pengabdian melalui pendidikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kedua kitab ini menegaskan perjalanan politik dan akademik dapat saling memperkaya. Parlemen menyediakan pengalaman empiris tentang gimana keputusan negara dibuat, sedangkan kampus menyediakan ruang untuk menguji pengalaman tersebut melalui teori, riset, dan pemikiran kritis.

"Menulis kitab bagi saya bukan sekadar catatan perjalanan pribadi. Buku menjadi langkah untuk mendokumentasikan gagasan, membuka ruang perdebatan, dan mewariskan pengalaman kepada generasi berikutnya," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Jumat (11/9/2026).

Hal itu dia katakan saat peluncuran kitab 'Politik Hukum Konstitusi: Menjembatani Teori Akademis dan Realitas Parlemen' dan 'Dari Senayan ke Ruang Kuliah: Jejak Kepemimpinan dan Pemikiran', di Parle Senayan Jakarta, Kamis (10/9) malam.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini memaparkan, kitab 'Politik Hukum Konstitusi: Menjembatani Teori Akademis dan Realitas Parlemen' membahas sejumlah persoalan strategis nan relevan dengan perjalanan ketatanegaraan Indonesia.

Mulai dari rekonstruksi tata negara dan hadapan bangsa, proses pembentukan undang-undang, relasi pemerintah dengan DPR, etika politik dan hukum, kedaulatan digital, hingga kepemimpinan strategis Indonesia dalam percaturan internasional.

Ketua MPR RI ke-15 ini menilai, tantangan ketatanegaraan Indonesia semakin kompleks. Perubahan teknologi, transformasi ekonomi digital, kejahatan berbasis artificial intelligence, dinamika geopolitik, serta perubahan pola hubungan antara negara dan masyarakat menuntut norma untuk terus beradaptasi.

Dalam kondisi seperti itu, lanjutnya, norma nan terlalu kaku berisiko tertinggal dari perkembangan masyarakat, sedangkan politik nan melangkah tanpa koridor norma dapat membuka ruang penyalahgunaan kekuasaan.

"Politik tanpa landasan norma nan jelas berisiko melahirkan kesewenang-wenangan. Sebaliknya, pengetahuan norma tata negara nan mengabaikan realita lapangan hanya bakal menjadi pengetahuan nan jauh dari kehidupan dan tidak berguna," kata Bamsoet.

Ketua DPR RI ke-20 ini menuturkan, pengalaman panjang selama empat periode di parlemen memperlihatkan bahwa perbedaan pandangan merupakan bagian krusial dari proses demokrasi.

Perdebatan dalam penyusunan undang-undang tidak semestinya dipandang sebagai halangan selama diarahkan untuk menghasilkan izin nan lebih baik. Tantangannya adalah gimana perbedaan kepentingan dapat dikelola melalui argumentasi, sistem konstitusional, dan kepentingan publik.

"Di kembali setiap undang-undang terdapat proses politik, tarik-menarik kepentingan, tuntutan masyarakat, perkembangan ekonomi dan teknologi, serta kebutuhan negara untuk menemukan titik keseimbangan. Karena itu, pengalaman empiris di parlemen krusial dibawa ke ruang akademik agar teori norma tetap relevan dengan persoalan nyata," ujar Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menjelaskan, kitab 'Dari Senayan ke Ruang Kuliah: Jejak Kepemimpinan dan Pemikiran' karya J. Osdar merekam transformasi perjalanan dirinya dari seorang jurnalis, pengusaha, aktivis organisasi, politisi, ketua lembaga negara, hingga pendidik.

Jika perjalanan Bamsoet sebagai personil DPR RI, Ketua DPR RI, dan Ketua MPR RI telah banyak mendapat sorotan publik, kitab J. Osdar mencoba memandang sisi lain dari perjalanan tersebut, ialah gimana pengalaman politik dan kepemimpinan kemudian dibawa ke lingkungan akademik.

Perjalanan tersebut tercermin dari keterlibatan Bamsoet dalam bumi pendidikan tinggi, termasuk kiprahnya sebagai pendiri Universitas Perwira Purbalingga (Unperba) serta pengajar pascasarjana di sejumlah universitas, ialah Universitas Borobudur, Universitas Pertahanan, Universitas Terbuka dan Universitas Jayabaya.

"Memasuki bumi pendidikan dapat sejalan dengan pengabdian di bumi politik. Pengalaman nan diperoleh dari parlemen, organisasi, bumi usaha, dan kehidupan berbangsa dapat menjadi bahan pembelajaran bagi mahasiswa," jelas Bamsoet.

Bamsoet menilai, pendidikan mempunyai posisi strategis dalam menyiapkan generasi nan bisa memahami persoalan bangsa secara utuh.

Mahasiswa hukum, misalnya, perlu memahami undang-undang dan teori ketatanegaraan, tetapi juga kudu mengerti gimana norma bekerja ketika berhadapan dengan kepentingan politik, ekonomi, masyarakat, teknologi, dan perubahan global.

"Karena itu, pengalaman praktis perlu dihadirkan ke dalam ruang akademik. Sebaliknya, bumi politik juga memerlukan masukan akademik agar setiap kebijakan mempunyai injakan teoritis, konstitusional, dan argumentasi nan kuat," ujar Bamsoet.

Selain itu, peluncuran dua kitab terbaru ini menambah panjang hasil karya Bamsoet di bagian literasi. Dari kitab pertamanya, Rahasia Sukses dan Biografi Pengusaha Indonesia pada 1988, hingga karya terbarunya pada 2026, tema nan diangkat terus berkembang mengikuti perjalanan bangsa dan pengalaman pengarangnya.

Pada periode awal, sekitar 1988-1998, tulisan Bamsoet banyak berangkaian dengan jurnalistik, kepemudaan, mahasiswa, organisasi, bumi usaha, dan ekonomi. Di antaranya HIPMI, Pengusaha Pejuang, Pejuang Pengusaha, Mahasiswa dan Lingkaran Politik, Kelompok Cipayung, Gerakan dan Pemikiran, Mahasiswa & Budaya Kemiskinan di Indonesia, Kelompok Cipayung, Pandangan dan Realita, serta Masa Depan Bisnis Indonesia 2020/Ekonomi Indonesia 2020.

Memasuki periode 2010-an, tema bukunya semakin dekat dengan politik nasional dan parlemen. Skandal Gila Bank Century, Perang-Perangan Melawan Korupsi, Pilpres Abal-Abal Republik Amburadul, Republik Galau: Presiden Bimbang, Negara Terancam Gagal, hingga Ngeri-Ngeri Sedap: Catatan Kritis dan Kumpulan Tulisan Ketua Komisi III DPR RI mencerminkan perhatian Bamsoet terhadap persoalan pemerintahan, hukum, korupsi, dan demokrasi.

Ketika dipercaya memimpin DPR RI dan kemudian MPR RI, tema bukunya bergeser pada persoalan kelembagaan negara, demokrasi, ideologi, hadapan negara, serta masa depan ketatanegaraan Indonesia. Karya seperti DPR Adem di Bawah Bamsoet, Jurus 4 Pilar: Merangkul Milenial Menjaga Suhu Politik, Negara Butuh Haluan, Indonesia Era Disrupsi, Vaksinasi Ideologi, hingga rangkaian lima jilid Bunga Rampai Opini Bambang Soesatyo 2007-2022 lahir dalam periode tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian Bamsoet semakin kuat pada persoalan konstitusi dan kreasi ketatanegaraan. Setelah PPHN Tanpa Amendemen dan Haluan Negara Menuju Indonesia Emas pada 2023, muncul Konstitusi Butuh 'Pintu Darurat' pada 2024, Legacy MPR RI Periode 2019-2024: Pilar Demokrasi dan Landasan Hukum Negara, serta Empat Pilar MPR RI: Strategi Konsensus Kebangsaan Menyongsong Bonus Demografi.

Pada 2025, dia menerbitkan Amendemen ke-5 Konstitusi: Menata Ulang Sistem Ketatanegaraan dan Evaluasi Kritis Pemilihan Umum Langsung: Nomor Piro, Wani Piro - Revitalisasi Ketetapan MPR. Sementara pada 2026, sebelum peluncuran kitab terbarunya, Bamsoet telah melakukan soft launching kitab ke-37 berjudul 1001 Gagasan untuk Golkar: Panduan Eksekusi Strategi Politik, Organisasi, dan Pengabdian.

Selain buku-buku tersebut, Bamsoet juga menerbitkan karya dua bahasa Save People Care For Economy melalui Amazon pada 2020. Di lingkungan akademik, dia menulis kitab ajar Politik Hukum dan Kebijakan Publik serta Pembaruan Hukum pada 2024.

Jejak perjalanan hidupnya juga telah beberapa kali dituangkan oleh kalangan jurnalis. Mulai dari Dari Wartawan ke Senayan pada 2018, 60 Tahun Meniti Buih di Antara Karang pada 2022, Bambang Soesatyo News Maker pada 2023, Biografi Politik Bambang Soesatyo: Pemimpin Adaptif di Era Disrupsi pada 2024, hingga Politik, Pers, dan Jejak Langkah Kebangsaan: Catatan Personal dalam Arus Perubahan pada 2025.

Sebagai informasi, turut datang dalam kesempatan tersebut antara lain Ketua dan Wakil Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin dan Yorrys Raweyai, Menko Polkam Djamari Chaniago, Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra, Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Yandri Susanto, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Menteri Perumahan dan Pemukiman Maruarar Sirait, Wakil Ketua KPK Johanis Tanak, Wakil Jaksa Agung Asep Nana Mulyana, KASAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus Aris Marsudiyanto, serta Wakabareskrim Polri Nunung Syaifuddin.

Turut datang juga Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono, Utusan Khusus Presiden Bidang Pemuda Raffi Ahmad, Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn.) Andika Perkasa, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, Mantan Menkumham Yasona Laoly, Mantan Menteri Perikanan dan Kelautan Sharif Cicip Sutardjo, Mantan Ketua DPR RI Setya Novanto, Mantan Wakapolri Komjen Pol. (Purn.) Nanan Soekarna, Mantan Menteri Tenaga Kerja Bomer Pasaribu, Mantan Menteri Perumahan dan Pemukiman Theo L. Sambuaga, serta Ketua Umum FKPPI Pontjo Sutowo dan mantan Kepala BNPT Boy Rafli Amar.

Selanjutnya, datang pula personil DPR Robert Kardinal, Ahmad Basarah, Aboe Bakar Al Habsyi, Dave Laksono, Aria Bima, Melly Goeslaw, Anto Hoed, Juniver Girsang, Hariman Siregar, Akbar Faisal, E.E. Mangindaan, Murad Ismail, Priyo Budi Santoso, Agus Hermanto, James Riady, Jerry Hermawan Lo, Raja Sapta Oktohari dan Bambang Sutrisno.

(anl/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News