Bahlil soal Impor Minyak & Gas dari AS-Rusia: Kita Cari yang Lebih Murah

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan impor minyak dan gas baik dari Rusia maupun Amerika Serikat (AS) ditetapkan dengan kebijakan nan memandang semua aspek, terutama anggaran pendapatan dan shopping negara (APBN).

Selain itu, pemerintah bakal memprioritaskan opsi impor dari negara nan bisa memberikan nilai murah demi menjaga APBN.

"Kita cari nan terbaik. Kita cari nan lebih murah mana, itu nan kita bakal beli ya," ujar Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (17/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahlil menjelaskan kepastian pasokan minyak dan gas memang sangat vital untuk menjaga ketahanan daya nasional.

Namun, besaran nilai transaksi dari setiap pembelian juga menjadi kunci agar beban fiskal negara tetap terkendali.

"Pemerintah Indonesia bakal selalu berpikir, bertindak hati-hati dengan mempertimbangkan dan memprioritaskan asas-asas keekonomian. Di samping kepastian, juga asas keekonomian," terang Bahlil.

"Artinya, peralatan ada itu penting, tapi juga kudu ekonomis sehingga tidak membebankan APBN kita dan alias tidak membebankan rakyat kita terhadap nilai daripada apa nan kita bakal beli," sambungnya.

Lebih lanjut, mengenai kelanjutan rencana impor pasokan minyak mentah dari Rusia, Bahlil enggan berkomentar. Namun dia memastikan saat ini ketahanan stok minyak mentah (crude) nasional sudah dalam kondisi aman.

"Saya menyampaikan bahwa kesiapan untuk crude kita Insyaallah aman, termasuk bagian daripada Rusia. Nanti nan teknis lainnya dari Rusia saya bakal menjelaskan pada waktu nan tepat," jelas Bahlil.

Sementara mengenai kelanjutan kesepakatan impor daya dengan AS baik untuk produk LPG, minyak, maupun BBM pemerintah tetap menggunakan asas keekonomian untuk memastikan Indonesia bisa mendapatkan nilai terbaik saat impor dilakukan.

(hns/hns)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance