Bahlil Buka-Bukaan Masa Kejayaan Lifting Minyak RI

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan kondisi sektor daya nasional dengan menyoroti kejayaan industri minyak nasional di era 1990-an.

Menurut dia, pada periode 1996-1997, lifting minyak Indonesia mencapai sekitar 1,5 juta hingga 1,6 juta barel per hari (bph). Saat itu, industri migas menjadi tulang punggung perekonomian nasional dengan kontribusi mencapai sekitar 43% terhadap APBN.

"Dalam kondisi itu saya mau menjelaskan posisi daya kita. Kalau tidak salah dikerjakan, kita punya lifting sekarang tahun 96-97 itu kurang lebih 1,5 1,6 juta barel per day, ini puncak keemasan sektor daya itu dan 43% APBN kita di tahun 96-97 itu dari sektor migas ini puncak-puncaknya," kata Bahlil saat berbincang di Energy Forum CNBC Indonesia, Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Namun, kondisi tersebut berubah setelah krisis ekonomi. Bahlil mengatakan lifting minyak nasional terus mengalami penurunan sejak saat itu. Ia lantas menyinggung keterlibatan IMF pada masa krisis.

Menurutnya, Indonesia saat itu menerima paket rekomendasi kebijakan ekonomi sebagai syarat memperoleh pinjaman, nan di antaranya mencakup rekomendasi mengenai sektor migas, termasuk penyusunan Undang-Undang Migas. Namun perihal itu malah membikin lifting minyak semakin menurun.

"Apa nan terjadi lifting kita turun terus, dan lifting kita dalam 10 tahun tidak pernah mencapai sasaran APBN, baru 2025 lifting kita mencapai sasaran APBN," katanya.

Bahlil menyebut, saat ini pihaknya tengah berupaya untuk menggenjot produksi minyak nasional. Setidaknya hingga akhir 2026, lifting minyak ditargetkan berada di kisaran 610 ribu barel per hari (bph).

"Kondisi 96-97 terbalik 100% dari konsumsi 1,5-1,6 lifting kita hanya 600 ribu barel. Jadi impor kita 1 juta barel. Ini lah gara-gara ini geopolitik akhirnya kena kita di sini," ujarnya.

(ven)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News