Warga memakai masker lantaran peduli kesehatan melewati polusi asap nan menyelimuti jalan Merdeka, Kota Lhokseumawe, Aceh(ANTARA FOTO/Rahmad/pd.)
PAPARAN kabut asap akibat kebakaran rimba dan lahan (karhutla) menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama golongan rentan seperti anak-anak. Dokter ahli anak, dr. Eriska Ayu Wirindri, Sp.A, mengingatkan bahwa paparan asap nan berjalan berulang alias dalam konsentrasi tinggi dapat merusak saluran pernapasan anak secara signifikan.
"Partikel lembut dari asap dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memicu peradangan. Anak bisa mengalami batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, mengi hingga sesak napas," ujar dr. Eriska nan berpraktik di Kota Mataram dan RSUD Lombok Utara, Jumat (28/8).
Ancaman Partikel PM2.5
Salah satu komponen asap nan paling rawan adalah particulate matter berukuran 2,5 mikrometer alias PM2.5. Karena ukurannya nan sangat kecil, partikel ini bisa menembus jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai bagian terdalam paru-paru (alveoli).
Kondisi ini sangat berisiko bagi anak-anak lantaran beberapa argumen medis:
- Tahap Perkembangan: Paru-paru dan saluran pernapasan anak tetap dalam masa pertumbuhan.
- Frekuensi Napas: Anak mempunyai gelombang napas nan lebih sigap dibandingkan orang dewasa, sehingga jumlah polutan nan terhirup relatif lebih banyak berasas berat badan mereka.
- Kondisi Penyerta: Paparan asap dapat memperburuk kondisi anak nan mempunyai riwayat asma alias penyakit paru sebelumnya, memicu kekambuhan nan lebih sering dan berat.
Kelompok Paling Rentan: Bayi, balita, serta anak dengan penyakit paru kronis memerlukan perhatian ekstra selama periode kabut asap berlangsung.
Langkah Perlindungan di Rumah dan Luar Ruangan
Untuk meminimalisasi akibat buruk, dr. Eriska mengimbau orang tua melakukan langkah-langkah preventif berikut:
- Batasi Aktivitas Luar Ruang: Kurangi aktivitas di luar rumah, terutama olahraga alias aktivitas bentuk berat nan membikin anak bernapas lebih cepat.
- Proteksi Dalam Ruangan: Tutup pintu dan jendela saat konsentrasi asap di luar meningkat. Hindari sumber polusi tambahan di dalam rumah seperti asap rokok alias pembakaran sampah.
- Penggunaan Masker: Jika terpaksa keluar rumah, gunakan masker alias respirator nan bisa menyaring partikel lembut dengan posisi nan pas (terpasang baik). Namun, bayi dan anak mini nan belum bisa menggunakan masker dengan kondusif sebaiknya tetap berada di dalam ruangan.
- Teknologi Penyaring Udara: Penggunaan pembersih udara (air purifier) dengan filter HEPA sangat dianjurkan untuk membantu mengurangi konsentrasi partikel lembut di dalam ruangan.
Orang tua diminta tidak menunda pemeriksaan medis jika anak menunjukkan indikasi gangguan pernapasan. Segera bawa anak ke akomodasi kesehatan andaikan ditemukan tanda-tanda darurat sebagai berikut:
- Sesak alias kesulitan bernapas.
- Napas tampak sigap alias terdapat tarikan pada tembok dada.
- Suara mengi nan semakin berat.
- Anak kesulitan makan, minum, alias berbincang akibat sesak.
- Anak tampak sangat lemas, mengantuk, alias bibir dan wajah terlihat kebiruan.
"Jangan menunggu sampai anak mengalami sesak berat untuk mencari pertolongan. Kurangi paparannya, jaga kualitas udara di rumah, dan segera cari pertolongan medis jika muncul tanda gangguan pernapasan," pungkas dr. Eriska. (Ant/H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·