Jakarta -
Pemerintah berbareng BNPB, BMKG, BRIN, Kementerian Kehutanan, serta Kementerian Pertahanan menerapkan penyemaian dry ice alias es kering melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Upaya ini dilakukan untuk membantu mengurai kabut asap akibat kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan.
Penyemaian dry ice menjadi salah satu langkah taktis untuk mengatasi kondisi atmosfer nan menghalang penyebaran asap. Lantas, gimana langkah kerja metode ini dan apa saja parameter keberhasilannya?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cara Kerja Dry Ice
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa penyemaian dry ice ditujukan untuk mengatasi kondisi atmosfer nan membikin asap karhutla terperangkap di dekat permukaan. Dalam kondisi tertentu, asap pekat dapat tertahan pada ketinggian 6.000-7.000 kaki, apalagi lebih tinggi.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat disebabkan oleh lapisan inversi, ialah lapisan atmosfer nan menghalang pergerakan udara secara vertikal. Untuk mengatasinya, dry ice disemai menggunakan pesawat di atas lapisan tersebut. Proses sublimasi es kering memicu pendinginan nan membantu mengubah kestabilan atmosfer dan membuka kembali aliran konveksi.
"Kondisi ini memungkinkan asap bergerak naik secara vertikal dan terurai ke atmosfer. Selain itu, proses tersebut juga meningkatkan kesempatan pertumbuhan awan nan selanjutnya dapat menjadi sasaran penyemaian dalam OMC," kata Seto, dilansir BMKG, Selasa (20/10/2026).
Seto menegaskan, penyemaian dry ice berbeda dari penyemaian awan untuk memicu hujan. Dalam operasi ini, BMKG menargetkan lapisan inversi nan menahan asap serta mengintervensi lapisan isoterm untuk mengubah kestabilan udara di atmosfer bagian atas. Metode ini menjadi pengganti ketika kondisi langit condong kering dan awan potensial untuk disemai terbatas.
Indikator Keberhasilan
BMKG mengevaluasi keberhasilan intervensi dry ice melalui sejumlah indikator, terutama peningkatan jarak pandang (visibility) dan penurunan konsentrasi partikel polutan PM2.5. Kedua parameter tersebut digunakan untuk menilai perubahan kondisi atmosfer dan kualitas udara di wilayah terdampak, termasuk area sekitar bandar udara.
Menurut Seto, pemantauan selama beberapa hari menunjukkan indikasi perbaikan di sejumlah wilayah, salah satunya Palembang. Meski demikian, BMKG tetap melakukan pemantauan dan kajian info untuk memastikan perkembangan akibat operasi.
"Dalam beberapa hari pelaksanaan, intervensi dry ice menunjukkan indikasi akibat nan cukup baik. Jarak pandang di wilayah terdampak berangsur membaik, seperti nan sempat terjadi di Palembang beberapa hari lalu. Kondisi ini krusial untuk mendukung operasional armada udara satuan tugas (satgas), termasuk helikopter water bombing dan pesawat patroli, sekaligus membantu aktivitas penerbangan sipil kembali melangkah lebih normal sesuai kondisi keselamatan penerbangan," ujarnya.
Peningkatan jarak pandang dapat mendukung kelancaran penanggulangan karhutla melalui udara. Jika kondisi memenuhi standar keselamatan, helikopter dan pesawat dapat menjalankan misi pemadaman serta patroli secara lebih optimal. Namun, efektivitas intervensi dry ice tetap berjuntai pada kondisi atmosfer dan perkembangan kebakaran di lapangan.
(wia/zap)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·