Badai Besar Baru Dimulai, Waspada Ri Cs Kejatuhan "Petaka" Kedua

Sedang Trending 49 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang akibat perang Iran menghantam perekonomian Asia lebih dalam setelah langkah-langkah darurat nan sebelumnya diambil banyak negara untuk menahan krisis daya sekarang mulai kehabisan daya tahan. Kenaikan nilai minyak, terganggunya pasokan energi, hingga lonjakan biaya transportasi dan listrik mulai menekan pertumbuhan ekonomi kawasan.

Ketika perang pecah dan Selat Hormuz nan menjadi jalur vital pengiriman minyak dan gas bumi terganggu, pemerintah di Asia sempat bergerak sigap dengan mengambil beragam langkah penghematan energi. Namun, strategi itu dirancang dengan dugaan bentrok hanya berjalan singkat dan arus daya bakal segera pulih.

Kini, setelah perang berjalan berkepanjangan tanpa kepastian akhir, dampaknya mulai merambat ke beragam sektor ekonomi. Tarif penerbangan meningkat, ongkos pengiriman melonjak, dan tagihan daya masyarakat ikut membengkak.

Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) memperkirakan sekitar 8,8 juta orang berisiko jatuh ke lembah kemiskinan akibat dampak bentrok tersebut. Kerugian ekonomi di area Asia-Pasifik apalagi diproyeksikan mencapai US$299 miliar.

"Negara-negara nan mempunyai sumber daya paling sedikit untuk merespons, alias konsumen nan paling tidak bisa membayar, adalah pihak nan pertama kali merasakan semuanya," kata Samantha Gross dari lembaga think tank Brookings Institution di Amerika Serikat, dilansir The Associated Press, Selasa (12/5/2026).

Lonjakan nilai minyak menjadi salah satu pemicu utama tekanan ekonomi. Banyak negara Asia sebelumnya menyusun anggaran dengan dugaan nilai minyak berada di kisaran US$70 per barel. Namun perang mendorong nilai minyak Brent melonjak hingga mendekati US$120 per barel.

Situasi tersebut memaksa pemerintah menghadapi pilihan sulit: mempertahankan subsidi daya nan mahal dan membebani fiskal negara, alias memangkas subsidi dengan akibat kemarahan publik akibat kenaikan nilai bahan bakar.

"Begitu subsidi lenyap dan inflasi mulai naik, negara-negara bisa menghadapi apa nan saya sebut sebagai 'bom waktu fiskal'," ujar analis daya independen berbasis di Kuala Lumpur, Ahmad Rafdi Endut.

India menjadi salah satu negara nan mulai merasakan akibat berlapis dari krisis daya tersebut. Pemerintah sebelumnya mengalihkan pasokan bahan bakar untuk kebutuhan gas rumah tangga bagi sekitar 330 juta keluarga. Namun kebijakan itu mengurangi pasokan untuk pabrik pupuk.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran baru di tengah kenaikan nilai pupuk dan ancaman cuaca kering akibat kejadian El Niño, terutama bagi India nan merupakan eksportir beras terbesar dunia.

Perdana Menteri India Narendra Modi apalagi menyerukan penghematan nasional. Ia meminta penduduk membeli produk lokal, mengurangi perjalanan ke luar negeri, bekerja dari rumah, menggunakan transportasi umum, hingga meminta petani mengurangi penggunaan pupuk hingga separuh.

Filipina juga mengambil langkah ekstrem dengan menerapkan sistem kerja empat hari dalam seminggu untuk menghemat konsumsi bahan bakar. Pemerintah turut memberikan subsidi unik bagi rumah tangga miskin.

Namun lembaga pemeringkat Fitch Ratings mencatat sebagian besar masyarakat Filipina tetap kudu menanggung biaya daya nan lebih tinggi, sehingga aktivitas upaya di kota-kota besar seperti Manila mulai melambat.

Thailand mengalami tekanan serupa. Negara itu menghentikan kebijakan pemisah nilai solar kurang dari sebulan setelah perang dimulai lantaran biaya subsidi habis. Pemerintah sekarang memangkas pengeluaran lain demi menjaga stabilitas anggaran di tengah kenaikan nilai minyak.

Sementara itu, Vietnam memperpanjang kebijakan pembebasan pajak bahan bakar untuk meredam kenaikan nilai domestik. Meski demikian, kekurangan bahan bakar pesawat telah memaksa pengurangan sejumlah penerbangan.

Padahal sektor pariwisata menyumbang nyaris 8% terhadap produk domestik bruto Vietnam.

"Bisnis sedang tidak bagus sekarang," kata pemandu wisata asal Hanoi, Nguyen Manh Thang. "Turis sudah mulai berkurang."

Negara-negara dengan kondisi fiskal lemah seperti Pakistan dan Bangladesh menghadapi tekanan nan lebih berat. Mereka sekarang kudu membeli minyak dan gas dengan nilai pasar nan jauh lebih mahal dan naik turun dibanding perjanjian jangka panjang sebelumnya.

Akibatnya, biaya impor meningkat dan persediaan devisa mereka semakin tertekan.

Menurut Ahmad Rafdi Endut, pemerintah di Asia pada akhirnya kudu memilih antara memangkas anggaran sosial demi mempertahankan subsidi daya alias menambah utang dengan akibat inflasi nan lebih tinggi.

Meski perang suatu saat berakhir, para analis memperingatkan pemulihan tidak bakal terjadi secara instan.

Samantha Gross mengatakan perdagangan minyak dan gas dunia tidak bakal langsung kembali normal lantaran prasarana nan rusak memerlukan waktu berminggu-minggu apalagi berbulan-bulan untuk diperbaiki.

"Situasi kekurangan bahan bakar ini bakal menjadi lebih buruk," ujar Henning Gloystein dari firma konsultan Eurasia Group.

Ia menyebut Asia Tenggara saat ini menjadi area nan paling terpukul oleh gangguan daya global.

Selain Asia, tekanan serupa mulai dirasakan di Afrika hingga Amerika Latin akibat lonjakan biaya daya dan terganggunya rantai pasok global.

CEO perusahaan akibat rantai pasok Interos.ai, Ted Krantz, memperingatkan bahwa gangguan kompleks dalam pengedaran dunia bakal terus memunculkan akibat lanjutan di beragam sektor ekonomi dunia.

Peneliti ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura, Maria Monica Wihardja, menilai krisis ini juga memperlihatkan rapuhnya kelas menengah Asia nan selama ini tumbuh pesat.

Menurut dia, banyak masyarakat sekarang berada di periode kembali jatuh ke kemiskinan akibat tekanan biaya hidup.

Dalam jangka panjang, perang Iran diperkirakan bakal mengubah arah kebijakan daya Asia Tenggara. Sejumlah negara mulai mempercepat diversifikasi pemasok daya fosil, pengembangan daya nuklir, hingga memperluas investasi daya terbarukan seperti tenaga surya.

Ekonom Asian Development Bank, Albert Park, mengatakan akibat geopolitik sekarang menjadi aspek utama nan langsung mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara.

"Makin lama bentrok berlangsung, akibat negatifnya bakal semakin besar," kata dia.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News