Babi Hutan di Pulau Rabbit Island Jepang Kini Mulai Mangsa Kelinci Hidup

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Babi Hutan di Pulau Rabbit Island Jepang Kini Mulai Mangsa Kelinci Hidup ilustrasi(Magnific)

BABI hutan di Pulau Okunoshima, Jepang, sekarang tidak lagi sekadar mengais sisa makanan di antara kawanan kelinci nan biasa diberi makan oleh wisatawan. Para peneliti menemukan sebagian mini dari babi rimba di pulau tersebut sekarang mulai berburu dan memangsa kelinci nan tetap hidup.

Okunoshima, sebuah pulau mini di Laut Pedalaman Seto lepas pantai Hiroshima, terkenal dengan julukan "Pulau Kelinci" lantaran populasi kelincinya nan berkeliaran bebas. Kelinci-kelinci tersebut bukan jenis original Jepang, melainkan kelinci Eropa nan berulang kali dilepaskan oleh penduduk dalam beberapa dasawarsa terakhir. Keberadaan mereka menarik banyak visitor nan datang membawa pasokan makanan dalam jumlah besar.

Awalnya, penelitian nan dipimpin oleh Profesor Shingo Kaneko dari Universitas Fukushima ini bermaksud untuk melacak asal-usul kelinci dan memeriksa kesehatan satwa liar di pulau tersebut. Namun, tim peneliti justru menemukan perubahan perilaku babi rimba nan merupakan satwa original pulau itu.

"Ketika kami pertama kali mendengar seekor babi rimba telah memangsa kelinci hidup, kami terkejut," ujar Kaneko.

"Babi rimba dikenal suka mengais buntang hewan, tetapi mereka umumnya tidak dianggap sebagai hewan nan secara aktif berburu mangsa hidup."

Kaneko menjelaskan bahwa hubungan antara babi hutan, kelinci, dan manusia di pulau terisolasi tersebut sangat intens sehingga memicu kejadian nan tak biasa.

"Di dalam lingkungan terisolasi ini, peristiwa-peristiwa nan biasanya tidak kita amati di tempat lain tampaknya terjadi di seluruh pulau," tambahnya.

Lonjakan populasi kelinci di Okunoshima sangat berjuntai pada makanan nan dibawa wisatawan. Pada puncak kunjungan visitor tahun 2017, jumlah makanan kelinci nan dibawa visitor mencapai nyaris 27 ton dalam setahun. Melimpahnya pakan ini menarik babi rimba masuk ke area pemukiman padat kelinci untuk menyantap sisa pakan turis sekaligus buntang kelinci.

Kaneko memaparkan beberapa aspek nan berpotensi menjadi pemicu munculnya perilaku berburu ini.

"Makanan nan ditinggalkan oleh visitor mungkin menarik babi rimba ke area nan padat populasi kelincinya. Kepadatan kelinci nan tinggi dapat meningkatkan kesiapan buntang kelinci dan juga dapat menyebabkan seringnya pertemuan antara kedua jenis tersebut," jelas Kaneko.

Kendati demikian, para peneliti menggarisbawahi bahwa temuan ini menunjukkan sebuah pola, bukan bukti langsung bahwa pemberian makanan oleh visitor secara otomatis menyebabkan babi rimba berburu kelinci. Sejauh ini, belum ada info pasti mengenai seberapa sering upaya perburuan itu sukses alias berapa banyak babi rimba nan telah melakukan tindakan tersebut.

Riset nan dipublikasikan dalam Journal of Ecotourism ini tidak merekomendasikan penutupan wisata. Para peneliti menyarankan adanya pengelolaan penjualan dan pemberian pakan, pemantauan populasi kelinci dan pemulihan vegetasi, serta studi lebih lanjut mengenai dampaknya terhadap satwa liar lainnya di pulau tersebut. (Earth/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia