ilustrasi(Magnific)
SELAMA ini, durasi tidur sering kali dianggap sepele dan elastis demi mengejar tenggat waktu pekerjaan. Padahal, sebuah studi berskala besar nan diterbitkan dalam jurnal PLOS Medicine memperingatkan bahwa perseorangan nan terbiasa tidur kurang dari lima jam semalam mempunyai akibat jauh lebih tinggi terhadap puluhan masalah kesehatan serius, mulai dari gangguan kognitif hingga penyakit metabolik.
Penelitian nan melibatkan nyaris 96.000 orang dewasa dari UK Biobank dan dianalisis oleh para peneliti dari Peking University serta Capital Medical University ini melacak catatan medis partisipan selama nyaris sembilan tahun. Hasilnya mengejutkan: lama tidur nan sangat singkat berkorelasi kuat dengan peningkatan kerentanan terhadap 37 kondisi medis nan mencakup beragam sistem tubuh.
Daftar Penyakit dan Temuan Tahapan Tidur
Dalam kajian rekam medis rumah sakit, para peneliti menemukan bahwa golongan "kurang tidur" mencatat lonjakan kasus nan signifikan pada sejumlah penyakit, di antaranya:
- Gangguan Otak dan Saraf: Risiko parkinsonism tercatat melonjak hingga nyaris enam kali lipat, sementara tingkat demensia meningkat hingga 2,6 kali lipat.
- Kesehatan Jantung dan Metabolik: Gagal jantung, fibrilasi atrium, glukosuria jenis 2, hingga kandas ginjal akut lebih sering ditemukan pada golongan ini.
- Infeksi dan Imunitas: Rentan terhadap pneumonia, jangkitan saluran kemih, hingga jangkitan SARS-CoV-2.
Selain lama total, studi ini menyoroti pentingnya arsitektur tidur, khususnya fase tidur REM (Rapid Eye Movement). Menariknya, lama tidur REM nan lebih tinggi dikaitkan secara signifikan dengan penurunan akibat beragam penyakit, termasuk penurunan tingkat kandas jantung hingga 26% dan demensia hingga 46%.
Sebaliknya, tidur nan sangat terfragmentasi alias sangat bervariasi dari malam ke malam justru memperburuk akibat kesehatan mental seperti kekhawatiran dan depresi.
Kendati demikian, para mahir mengingatkan perlunya kehati-hatian dalam membaca info ini. Penyakit-penyakit tertentu seperti demensia alias Parkinson terkadang mulai merusak pola tidur bertahun-tahun sebelum pemeriksaan klinis resmi tegak.
Walaupun penelitian ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, menjaga lama tidur ideal antara enam hingga delapan jam tetap menjadi langkah preventif nan esensial bagi kesehatan jangka panjang.
(FODMAP Everyday/P-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·