Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena penutupan jaringan diler mobil Jepang, khususnya Honda, mulai menjadi sorotan dalam beberapa waktu terakhir. Tren ini bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan bagian dari dinamika industri otomotif nasional nan tengah mengalami pergeseran signifikan.
Salah satu kasus nan mencuat adalah penutupan diler Honda Triputra Bekasi nan berlokasi di Jalan Siliwangi Raya Narogong, Kota Bekasi. diler ini resmi menghentikan operasionalnya pada 1 Juli 2025. Tidak lama berselang, letak tersebut beralih bentuk menjadi showroom merek mobil asal China, ialah Chery dan Lepas, dengan nama baru Chery Trimegah Bekasi.
Fenomena serupa juga terjadi di wilayah Tangerang dan Serpong. Diler Honda Union Tangerang dilaporkan telah berakhir beraksi dan sekarang beranjak menjadi dealer BYD, salah satu pemain besar kendaraan listrik asal China nan tengah garang memperluas jaringan di Indonesia. Diler Honda Serpong pun sudah berubah menjadi Chery.
Jika ditarik ke belakang, tren penutupan dealer Honda sejatinya sudah mulai terlihat sejak awal 2025. Saat itu, Honda menutup secara permanen beberapa jaringan dealernya di kota besar, seperti area Jemursari di Surabaya dan Honda Pasteur di Bandung.
"Beberapa diler memang mengambil keputusan untuk menutup operasionalnya atas pertimbangan internal masing-masing. Bagi kami di HPM, nan terpenting adalah memastikan konsumen tetap mendapatkan pelayanan terbaik, dengan jaringan nan cepat, mudah dijangkau, dan dekat dengan kebutuhan mereka," katanya kepada CNBC Indonesia, beberapa waktu lalu.
Terbaru, diler Honda juga kembali tutup tepatnya di Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Langkah ini sempat memicu pertanyaan publik mengenai kondisi upaya ritel otomotif Honda di Tanah Air.
"Fokus kami tidak hanya pada jumlah dealer, tetapi pada kualitas jaringan dan efektivitas coverage di setiap area. Kami mau memastikan bahwa setiap jaringan dealer nan ada tetap kuat, relevan, dan bisa memberikan jasa secara optimal kepada konsumen," katanya.
Penutupan sejumlah diler ini menunjukkan adanya perubahan strategi dalam pengelolaan jaringan distribusi. Honda memberi sinyal bahwa penutupan diler tidak selalu mencerminkan penurunan kinerja, melainkan bagian dari efisiensi dan optimasi jaringan.
Dalam beberapa tahun terakhir, perilaku konsumen otomotif mengalami perubahan. Digitalisasi proses pembelian kendaraan, mulai dari pencarian info hingga transaksi, membikin peran dealer bentuk tidak lagi menjadi satu-satunya kanal utama. Akibatnya, sejumlah letak diler nan dinilai kurang produktif alias tidak strategis mulai ditinggalkan.
Selain itu, biaya operasional diler nan tinggi, mulai dari sewa lahan, tenaga kerja, hingga investasi fasilitas, menjadi aspek nan turut menekan keberlanjutan upaya jaringan tersebut, terutama di tengah persaingan nan semakin ketat.
Di sisi lain, momentum ini dimanfaatkan oleh merek-merek otomotif asal China nan tengah ekspansif di Indonesia. Nama-nama seperti BYD dan Chery garang memperluas jaringan dealer dengan memanfaatkan lokasi-lokasi eksisting nan sebelumnya ditempati merek Jepang.
Strategi ini dinilai lebih efisien lantaran tidak memerlukan pembangunan dari nol, sekaligus mempercepat penetrasi pasar. Terlebih, tren kendaraan listrik nan menjadi konsentrasi utama beberapa merek China turut mendorong kebutuhan bakal jaringan pengedaran nan luas dalam waktu singkat. Bos Chery nan baru membuka dilernya di Serpong menggantikan Honda mengungkapkan alasannya.
"Kami mau memastikan konsumen lebih dari sekadar mendapatkan akses nan lebih mudah dan responsif melalui sistem jasa 3S nan terintegrasi, tetapi juga mendapatkan pengalaman kepemilikan kendaraan hingga purnajual nan semakin nyaman dan andal," ujar Budi Darmawan Jantania, Vice Country Director Chery Business Unit.
Industri otomotif nasional saat ini tengah berada dalam fase transisi, di mana pergeseran menuju elektrifikasi, perubahan perilaku konsumen, serta tekanan biaya operasional menjadi aspek utama nan membentuk ulang peta persaingan.
Penutupan sejumlah dealer Honda dalam dua tahun terakhir menjadi bagian dari gambaran besar perubahan industri otomotif Indonesia. Di satu sisi, pemain lama melakukan efisiensi dan penyesuaian strategi, sementara di sisi lain, merek-merek baru, khususnya dari China sekarang memanfaatkan kesempatan untuk memperluas pangsa pasar.
(fys/wur)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·