Jakarta, CNN Indonesia --
Nama Eddy Tansil kembali menjadi perbincangan usai Kejaksaan Agung (Kejagung) menyerahkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp1,029 triliun kepada Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.
Dari jumlah itu, terdapat aset terpidana kasus korupsi Eddy Tansil senilai Rp51,6 miliar.
"Dalam kesempatan ini juga dapat kami laporkan bahwa PPA (Pusat Penelusuran Aset) sukses melakukan penelusuran aset atas nama Terpidana Eddy Tansil berupa duit sebanyak Rp51.682.537.000," kata Kepala Badan Pemulihan Aset (BPA) Kejaksaan Agung RI, Kuntadi, dalam sambutannya di Kantor BPA Kejaksaan Agung, Jakarta, Senin (15/6) pagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kiprahnya, Eddy Tansil menjadi koruptor nan sukses mempermalukan Indonesia di tengah sorotan bumi atas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) rezim Orde Baru. Sudah 30 tahun Eddy Tansil 'menghilang' dan tak ada pertanggungjawaban norma atas kasus nan menjeratnya.
Pada tahun 1991, berbekal kedekatannya dengan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan saat itu, Sudomo dan Menteri Keuangan JB Sumarlin, Eddy Tansil mendapatkan angsuran dari Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) melalui PT Golden Key Group (PT GKG).
Berkongsi dengan Tommy Soeharto, angsuran itu digunakan Eddy Tansil untuk membangun pabrik petrokimia berjulukan PT Hamparan Rejeki, anak upaya PT GKG. Namun, perusahaan itu nyatanya hanya asal-asalan belaka. Uang pinjaman nan diperoleh dari negara masuk ke kantong pribadi.
Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat menjatuhkan balasan 20 tahun penjara dan denda sejumlah Rp30 juta serta duit pengganti Rp500 miliar atas pembobolan duit negara sebesar US$430 juta alias sekitar Rp1,3 triliun-kurs saat itu kepada Eddy Tansil satu tahun setelahnya.
Pada Senin, 6 Mei 1996, sekitar pukul 17.00 WIB, menjadi hari paling diingat oleh Pemerintah Indonesia dan juga masyarakatnya. Kabar Eddy Tansil nan sukses melarikan diri seketika membikin negara menjadi geger. Dia diduga kabur ke Singapura, lampau China. Eddy Tansil disebut mempersiapkan rencana pelarian dengan matang.
Dia menggunakan waktu untuk berobat jantung di Rumah Sakit (RS) Harapan Kita, Jakarta, pada 4 Mei 1996 sebagai alibi untuk memuluskan rencana pelarian.
Menurut aturan, Eddy Tansil nan berstatus tahanan semestinya dikawal oleh petugas polisi dan penjaga penjara saat berobat. Namun, ketika itu, tidak demikian nan terjadi. Saat kabur, Eddy Tansil disebut memberikan 'uang rokok' kepada komandan jaga agar dirinya tidak mendapat pengawalan.
Guna membantu proses pelariannya, Eddy Tansil diketahui menyiapkan Mobil Suzuki Carry. Berhasilnya rencana Eddy Tansil kabur diduga juga berkah adanya kerja sama dengan para penjaga pintu di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang nan tak memeriksa mobil. Setidaknya ada 10 orang nan diproses norma Polres Jakarta Timur atas kasus pelarian buron kakap tersebut.
Pemerintah Indonesia nan mengetahui peristiwa tersebut geram dan membentuk tim lewat Instruksi Presiden Soeharto. Perburuan terhadapnya dikembangkan dalam skala internasional dengan menggandeng Kroll Associates, perusahaan nan bermarkas di New York dan mempunyai konsentrasi menangani kejahatan penipuan.
Meski begitu, segala upaya perburuan nan dilakukan telah kandas total hingga hari ini.
Mengutip investigasi Tirto, detektif swasta nan dihubungi Steve Vickers selaku pemimpin Kroll Associates, James Filgo, mengatakan Eddy Tansil sangat mungkin kabur ke Singapura lewat Batam.
Eddy Tansil diduga dijemput sebuah perahu motor di wilayah pantai utara Jakarta nan membawanya ke Batam. Keluarga Eddy Tansil dilaporkan juga sudah berada di Singapura beberapa hari sebelumnya.
Informasi perihal keberadaan Eddy Tansil menjadi sunyi selama beberapa lama tahun dan kembali menyeruak pada tahun 2013 saat Jaksa Agung Basrief Arief menyebut buron tersebut terlacak di China.
Masih dilansir dari temuan Tirto, Eddy Tansil dikonfirmasi memang berada di China dan menjalani kehidupan normal-membantah narasi nan ketika itu berkembang dengan menyebutnya hidup secara sembunyi-sembunyi, memalsukan identitas dan berganti nama sebagaimana lazimnya seorang pelarian.
Informasi perihal Eddy Tansil alias Chen Zihuang (nama Tionghoanya) banyak ditemukan di mesin pencari khususnya Baidu, Shenma, dan Sogou nan merupakan produk lokal.
Saat berada di China, Eddy Tansil dilaporkan mengulangi perbuatannya lagi. Dengan menggunakan skema nan sama, kali ini, dia mengelabui Bank of China Limited.
Eddy Tansil dikabarkan menggunakan koneksinya dengan pejabat tinggi Cina untuk meminjam duit senilai 389,92 juta renminbi pada 2002.
Dia menjaminkan aset tanah dan dua pabrik miliknya ialah pabrik bir Golden Spoon Brewery dan pabrik kaca Golden Spoon Glass di Putian, sebuah kota di sebelah timur Fujian tempat moyangnya berasal.
Koruptor kelahiran Makassar itu tidak bayar tanggungjawab angsuran sehingga Bank of China menyeretnya ke jalur perdata. Pengadilan memenangkan bank, menyita aset, dan memutuskan agar segera dilakukan proses lelang pada putusan di bulan Juli 2003.
Namun, Eddy Tansil mengusulkan banding dan meminta waktu untuk menyelesaikan masalah utang piutang.
Dengan memanfaatkan semua jenis metode 'cerdik', Eddy Tansil ingkar janji untuk menyetor 2-6 juta renminbi dan menyerahkan aset tanah 325 hektare (jika diuangkan senilai 30 juta renminbi selama 31 Oktober 2003 sampai 31 Desember 2004).
Sengketa tersebut berlarut hingga Bank of China melimpahkan kasus Eddy Tansil kepada Great Wall Asset Management Co., Ltd.,-- lembaga finansial negara nan menangani aset-aset bermasalah dari angsuran macet bank-bank komersial berpelat merah di Cina.
Akan tetapi, lebih dari empat tahun bersengketa, Eddy Tansil akhirnya menyerah. Pabrik birnya diakuisisi Fujian Xuejin Beer Co., Ltd., dan pabrik kacanya diambil alih oleh Great Wall dan berganti nama menjadi Fujian Great Wall Huacing Glass Co., Ltd.
(ryn/dal)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·