Jakarta, CNBC Indonesia - Iran menegaskan bahwa kesepakatan tenteram dengan Amerika Serikat (AS) belum bakal betul-betul tercapai jika Israel tetap mempertahankan pasukannya di wilayah Lebanon nan diduduki selama bentrok berlangsung. Pernyataan ini muncul di tengah upaya diplomatik untuk mengakhiri ketegangan di Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa penyelesaian bentrok tidak hanya berjuntai pada kesepakatan antara Teheran dan Washington, tetapi juga pada langkah Israel di Lebanon.
"Tanpa penarikan pasukan Israel dari wilayah nan mereka duduki selama perang ini, perang belum sepenuhnya berakhir," kata Araghchi, seperti dikutip The Guardian, Rabu (17/6/2026).
Pernyataan tersebut diperkuat oleh pejabat hubungan media Hizbullah nan menyebut Iran telah memberikan agunan bakal terus menuntut penarikan pasukan Israel dari Lebanon dalam fase lanjutan perundingan dengan AS. Sikap itu menunjukkan bahwa rumor Lebanon menjadi salah satu syarat krusial bagi Teheran dalam proses perdamaian.
Di saat nan sama, Presiden AS Donald Trump melontarkan kritik terbuka kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dalam pertemuan para pemimpin G7, Trump menilai Israel perlu bertindak lebih bertanggung jawab mengenai operasi militernya di Lebanon.
"Israel telah bertempur melawan Hizbullah terlalu lama dan terlalu banyak orang nan terbunuh. Anda tidak perlu merobohkan gedung apartemen ketika Anda mencari seseorang," ujar Trump, seraya menyebut serangan terbaru Israel di Beirut sebagai tindakan nan "kejam".
Meski demikian, Trump menegaskan hubungan pribadinya dengan Netanyahu tetap baik. Ia apalagi menyebut bentrok di Lebanon hanya sebagai "tusukan jarum" dibandingkan upaya mencapai kesepakatan nan lebih besar dengan Iran mengenai program nuklir dan stabilitas kawasan.
Pernyataan Trump memunculkan sinyal bahwa Washington mulai kehilangan kesabaran terhadap langkah Israel nan dinilai dapat mengganggu gencatan senjata selama 60 hari nan telah dinegosiasikan dengan Iran. Trump juga mengaku tidak menyukai serangan Israel ke Beirut nan terjadi hanya beberapa jam sebelum Iran dijadwalkan menandatangani nota kesepahaman perdamaian.
Di lapangan, ketegangan tetap berlangsung. Serangan pesawat nirawak Israel di Lebanon dilaporkan menewaskan sedikitnya empat orang. Salah satu kejadian terjadi di desa Mayfadoun, ketika sebuah kendaraan diserang sebelum serangan kedua dilancarkan saat penduduk berkumpul di letak kejadian.
Sementara itu, negara-negara Eropa semakin cemas terhadap keberlangsungan rencana perdamaian tersebut. Mereka mempertanyakan perincian nota kesepahaman nan menjadi dasar pembukaan kembali Selat Hormuz dan dimulainya kembali pembicaraan mengenai program nuklir Iran.
Salah satu poin nan menjadi sorotan adalah usulan investasi hingga US$300 miliar dari negara-negara Teluk ke Iran. Dana tersebut bakal diberikan sebagai insentif andaikan Teheran memenuhi komitmen untuk membatasi program nuklirnya secara terverifikasi.
Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan investasi itu hanya bakal melangkah jika Iran membongkar program nuklirnya, mengakhiri persediaan uranium nan diperkaya, dan membuka akses penuh terhadap rezim inspeksi internasional. Menurutnya, biaya tersebut bukan hibah, melainkan investasi komersial nan dapat mendorong pemulihan ekonomi Iran.
Selain investasi baru, Iran juga berambisi sebagian asetnya nan dibekukan akibat hukuman AS dapat dicairkan. Teheran diketahui mempunyai sekitar US$24 miliar aset nan tetap tertahan di luar negeri, termasuk sekitar US$8 miliar nan berada di Qatar.
Sumber-sumber Iran menyebut rancangan kesepakatan tetap mengizinkan negara itu memperkaya uranium untuk kebutuhan sipil dengan tingkat kemurnian maksimal 3,67%, sekaligus membuka opsi pembuangan uranium nan telah diperkaya tinggi. Ketentuan tersebut dinilai krusial lantaran mempertahankan kewenangan Iran untuk melakukan pengayaan uranium di dalam negeri, nan selama ini menjadi garis merah utama Teheran dalam setiap perundingan nuklir.
(tfa/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·