AS-Iran Gagal Capai Kesepakatan, Investor Antisipasi Dampaknya ke Pasar Keuangan

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Sebuah bendera Iran tergeletak di tengah reruntuhan gedung Universitas Teknologi Sharif, nan rusak akibat serangan udara, di tengah bentrok AS-Israel dengan Iran, di Teheran, Iran, Selasa (7/4/2026). Foto: Majid Asgaripour/WANA via REUTERS

Kegagalan Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan tenteram pada akhir pekan lampau diperkirakan bakal memengaruhi sentimen pasar finansial global. Analis menilai kondisi ini berpotensi mendorong peningkatan permintaan terhadap aset safe haven pada perdagangan Senin (13/4).

Mengutip Bloomberg, pembicaraan nan berjalan di Pakistan berhujung tanpa kesepakatan, mengecewakan penanammodal nan sebelumnya meningkatkan eksposur pada aset berisiko setelah adanya sinyal gencatan senjata. Wakil Presiden AS JD Vance menyebut delegasi negaranya kembali tanpa hasil, setelah Iran tidak memberikan komitmen mengenai penghentian pengembangan senjata nuklir.

Secara umum, dolar AS diperkirakan menguat usai melemah 1,4 persen dalam sepekan terakhir. Bersamaan dengan itu, nilai minyak juga berpotensi naik, sementara pasar saham diproyeksi mengalami tekanan. Adapun obligasi pemerintah AS diperkirakan bergerak variatif, dipengaruhi tarik-menarik antara permintaan aset kondusif dan kekhawatiran inflasi. Harga emas juga berkesempatan menguat.

Meski demikian, analis menilai reaksi pasar kemungkinan tidak terlalu besar jika penanammodal memandang kegagalan ini hanya sebagai halangan sementara dalam proses negosiasi menuju perdamaian.

Analis Capital.com Inc., Kyle Rodda, mengatakan permintaan terhadap obligasi pemerintah AS berpotensi meningkat di awal perdagangan, namun selanjutnya bergerak dua arah. Pergerakan ini bakal sangat dipengaruhi oleh dinamika nilai minyak, terutama jika terjadi gangguan di Selat Hormuz nan dapat memicu ekspektasi inflasi.

Menurutnya, kunci pergerakan pasar ada pada persepsi penanammodal apakah kegagalan ini berkarakter sementara alias mencerminkan keruntuhan upaya gencatan senjata. Jika dipandang sebagai masalah jangka pendek, sentimen penghindaran akibat bisa sigap mereda. Sebaliknya, eskalasi retorika antara AS dan Iran dapat memperpanjang tekanan pasar.

Sementara itu, Kepala Strategi Investasi Saxo Markets, Charu Chanana, menilai berakhirnya pembicaraan tanpa kesepakatan bakal mengikis reli pasar sebelumnya. Harga minyak berpotensi naik kembali, sementara sentimen akibat melemah, dengan Selat Hormuz tetap menjadi sumber ketidakpastian utama.

Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock

Wall Street Ditutup Beragam

Indeks saham AS alias Wall Street ditutup beragam pada Jumat (10/4) usai sempat mencatatkan pekan terbaiknya sejak November. Pasar ditutup dengan ketegangan menunggu hasil pembicaraan AS-Iran.

Mengutip Reuters Dow Jones Industrial Average (DJI) dan S&P 500 (SPX) masing-masing turun 0,6 persen menjadi 47.916.57, turun 0,1 persen menjadi 6.816,89, sementara Nasdaq Composite (XIC) naik 0,4 persen menjadi 22.902,89.

Sepanjang minggu, S&P 500 naik 3,6 persen, Dow Jones naik 3 persen, dan Nasdaq naik 4,7 persen, dengan ketiga indeks tersebut mencatatkan kenaikan persentase mingguan terbesar sejak November.

Harga minyak tetap tinggi, apalagi setelah ambruk drastis pada Rabu (8/4) setelah Trump membatalkan ancaman serangan terhadap Infrastruktur Iran. Lalu lintas melalui Selat Hormuz tetap berada pada sebagian mini dari tingkat sebelum perang, dengan sebagian besar kapal nan berlayar melalui selat dalam sehari terakhir

video story embed

Harga minyak berjangka turun dengan minyak mentah AS turun USD 1,30 menjadi USD 96,57 per barel dan Brent berhujung di USD 95,20 per barel, turun 72 sen.

Indeks dolar turun 0,2 persen menjadi 98,68, mengakhiri penurunan terbesarnya sejak Januari. Euro naik 0,25 persen menjadi USD 1,1728. Dolar AS menguat 0,2 persen terhadap yen Jepang menjadi 159,3.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS sedikit meningkat. Imbal hasil obligasi referensi AS 10 tahun naik 2,4 pedoman poin menjadi 4,317 persen, sementara imbal hasil obligasi 30 tahun naik 1,1 pedoman poin menjadi 4,909 persen.

Imbal hasil obligasi dua tahun, nan biasanya bergerak seiring dengan ekspektasi suku kembang Federal Reserve, naik 1,9 pedoman poin menjadi 3,802 persen.

Di pasar logam mulia, nilai emas spot turun 0,3 persen menjadi USD 4,747,88 per ons sementara nilai perak spot naik 1,4 persen menjadi USD 76,10 per ons.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan