AS dan China Berlomba Bangun Pusat Data AI di Luar Angkasa

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

loading...

AS dan China Berlomba Bangun Pusat Data . Foto/ viet

JAKARTA - Gagasan mengirim pusat info AI ke luar angkasa, nan dulunya dianggap mustahil, sekarang menjadi perlombaan teknologi baru antara Amerika Serikat dan China

Travis Beals, seorang kepala senior dari golongan riset Paradigms of Intelligence di Google, mengatakan bahwa dia menghabiskan dua tahun mencoba untuk membantah proposal penempatan pusat info berkekuatan surya di luar angkasa.

"Akhirnya kami menyadari bahwa itu sepenuhnya mungkin,"kata Beals.

Setelah beragam kalkulasi dan penelitian di darat, Google memutuskan untuk meluncurkan Project Suncatcher, sebuah kerjasama dengan perusahaan pengamatan Bumi Planet Labs untuk menguji keahlian pemrosesan AI di orbit Bumi.

Sesuai rencana, satelit pertama nan dilengkapi dengan TPU, sebuah chip AI unik nan dikembangkan oleh Google, bakal diluncurkan pada tahun 2027 untuk menguji keahlian chip tersebut di lingkungan luar angkasa.

Luar angkasa dipandang sebagai sasaran baru dalam perlombaan membangun pusat data. (Gambar: Planet Labs)
Persaingan baru AS-China

Google bukanlah satu-satunya perusahaan nan mengejar ambisi ini. Perusahaan teknologi besar, perusahaan rintisan, dan lembagapemerintahdi AS dan Asia meningkatkan penelitian tentang pusat info berbasis ruang angkasa di tengah meningkatnya permintaan AI nan memberikan tekanan lebih besar pada jaringan listrik di bumi.

"Ini adalah front baru dalam persaingan antara AS dan China, di mana sektor kedirgantaraan, AI, dan semikonduktor bertemu,"kata Hong Shangguan, seorang penanammodal veteran dan mantan mitra di Legend Capital nan didukung Lenovo.

Menurut Hong, meskipun teknologi tersebut tetap dalam tahap awal dan memerlukan banyak modal dan waktu, China kudu mengamankan posisi strategisnya sekarang juga.

Selengkapnya
Sumber Tekno Sindonews
Tekno Sindonews