Artemis II Picu Ledakan Ekonomi Luar Angkasa, Bisnis Baru Bermunculan

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Momen awak misi Artemis II mengabadikan momen Bulan di luar angkasa. Foto: Dok. NASA

Misi Artemis II tak hanya berakibat pada pengetahuan pengetahuan melainkan juga kepada perkembangan ekonomi luar angkasa khususnya di bulan. Keberhasilan misi itu juga memunculkan banyak upaya luar angkasa baru seperti penambangan sampai pengembangan prasarana di bulan.

Dikutip dari Yahoo Finance pada Minggu (12/4), Brady-Estevez nan merupakan pendiri sebuah perusahaan investasi nan tertarik mendanai proyek-proyek bulan serta prasarana pendukungnya ialah American DeepTech menjelaskan beberapa potensi upaya baru mengenai bulan. Utamanya adalah penambangan di bulan.

“Perkiraan saya, ekstraksi sumber daya di bulan bakal jauh lebih berbobot dibandingkan produksi sumber daya di bumi. Jika Anda memikirkan puluhan triliun dolar di Arab Saudi dan Venezuela, lampau membandingkannya dengan sumber daya di luar planet seperti bulan, asteroid, dan barang langit lainnya, nilainya bisa acapkali lipat lebih besar,” ujar Brady-Estevez

Menurut Braddy, potensi itu bakal berkembang dalam 10 tahun ke depan. Hal ini lantaran sampel batuan bulan menunjukkan bahwa bulan juga bisa menjadi sumber unsur tanah jarang. Selain itu, konsentrasi pemerintahan Presiden Donald Trump pada eksplorasi bulan membuka kesempatan bagi semakin banyak kemitraan publik dengan swasta.

Helium-3 nan digunakan untuk pencitraan medis (MRI) dan pendinginan komputer kuantum juga terdapat di bulan. Nilainya mencapai USD 20 juta per kilogram.

Seorang anak laki-laki mengenakan kostum astronot menonton siaran langsung kembalinya personil kru Artemis II ke Bumi di San Diego, California, pada Jumat (10/4/2026). Foto: Apu Gomes/AFP

Artinya, membikin tambang di bulan dan pengangkutannya ke bumi menjadi layak secara ekonomi. Bahkan, perusahaan Finlandia, Bluefors sekarang telah bekerja sama dengan perusahaan Amerika, Interlune untuk tujuan tersebut. Keduanya merupakan perusahaan swasta.

Saat ini, China merupakan pemasok sebagian besar unsur tanah jarang secara global. Hal itu krusial untuk elektronik, daya bersih, produksi mobil, dan lainnya. China juga memanfaatkan posisi ini ketika Trump menakut-nakuti tarif 100 persen terhadap China, dengan memperingatkan bahwa pasokan bisa dihentikan sepenuhnya. Trump kemudian mundur.

Selain itu, potensi upaya lainnya di bulan adalah pembangunan infrastruktur. Hal ini lantaran Trump menjadikan pemukiman manusia permanen di bulan sebagai bagian dari kebijakan luar angkasa nasionalnya.

Permukiman manusia juga tidak bakal layak tanpa pasokan makanan. Maka, saat ini sudah muncul perusahaan-perusahaan nan meneliti jenis tanaman nan dapat tumbuh secara efektif di tanah bulan nan disebut regolit.

Selain itu, menurut Brady bulan juga bakal memerlukan jaringan internet dan komunikasi lunar. Perusahaan seperti Starlink milik SpaceX mempunyai teknologi nan berpotensi memenuhi kebutuhan ini.

Momen awak misi Artemis II mengabadikan momen Bulan di luar angkasa. Foto: Dok. NASA

Adapun saat ini AS memang tengah berfokus pada prasarana di bulan tersebut termasuk soal energi. U.S. Department of Energy dan NASA sedang mendanai pengembangan reaktor nuklir nan bakal ditempatkan di bulan pada tahun 2030.

Potensi upaya nan tak kalah krusial adalah pengembangan obat dan chip AI dalam mikrogravitasi. Brady menjelaskan bahwa mikrogravitasi nan terdapat di bulan dan di International Space Station (ISS) sangat berfaedah untuk penelitian medis, terutama kanker.

Penuaan tumor eksperimental nan memerlukan hingga 10 tahun di bumi bisa terjadi hanya dalam sembilan hari di kondisi mikrogravitasi. Dengan begitu, riset mengenai penyakit bisa lebih cepat.

“Hal ini memungkinkan penelitian ilmiah dan R&D berjalan jauh lebih cepat. Amerika Serikat menghabiskan beberapa triliun dolar per tahun untuk jasa kesehatan, sehingga mikrogravitasi diperkirakan bakal terus mempercepat pengembangan obat,” ujarnya.

Selain itu, mikrogravitasi juga merupakan lingkungan ideal untuk menumbuhkan kristal bebas abnormal nan dibutuhkan dalam semikonduktor dan chip AI. Ia mencatat bahwa satu kristal dapat diproduksi di luar angkasa dan dibawa kembali.

World Economic Forum memperkirakan pada tahun 2035, ekonomi luar angkasa dunia bakal berbobot lebih dari USD 1,8 triliun. Bahkan, SpaceX baru saja mengusulkan IPO dengan sasaran valuasi USD 2 triliun.

Terkait misi bulan, meski sebelumnya Trump mengemukakan pendapat untuk memangkas anggaran NASA sebesar USD 5,6 miliar menjadi USD 18,8 miliar dengan menghapus 40 misi. Program pendaratan bulan Artemis senilai USD 731 juta adalah salah satu program nan bakal tetap dipertahankan.

Para personil kru NASA Artemis II, Jeremy Hansen, Reid Wiseman, Christina Koch, dan Victor Glover menjawab pertanyaan dari wartawan selama aktivitas pengiriman info pertama misi mereka (2/4/2026). Foto: NASA TV/Handout via REUTERS
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan