Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) 2023-2028, di Jakarta(MI/Adam Dwi.)
KETUA Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menegaskan, kepercayaan investor menjadi aspek utama menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah perlambatan ekonomi dunia dan beragam tantangan eksternal.
Ia menilai capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29% secara tahunan pada triwulan II 2026 menunjukkan aktivitas ekonomi nasional tetap cukup kuat. Namun, momentum tersebut perlu dijaga melalui kepastian kebijakan dan suasana investasi nan kondusif.
"Di tengah kondisi tersebut, kepercayaan penanammodal menjadi aspek nan sangat penting," kata Shinta.
Ia menjelaskan, penanammodal memerlukan kepastian kebijakan, konsistensi regulasi, stabilitas makroekonomi, serta kebijakan fiskal nan prudent sebelum merealisasikan investasi jangka panjang. Karena itu, pemerintah perlu memastikan beragam halangan investasi dapat segera diselesaikan agar rencana investasi nan telah disusun pelaku upaya dapat terealisasi.
Di sektor industri, Apindo mencatat industri pengolahan tetap tumbuh sebesar 4,52% secara tahunan pada triwulan II 2026 dan tetap menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) dengan pangsa sekitar 18,5%. Industri pengolahan juga tetap menjadi motor utama perekonomian melalui aktivitas produksi, investasi, ekspor, rantai pasok, dan pembuatan lapangan kerja. Beberapa subsektor nan mencatat keahlian positif antara lain industri makanan dan minuman, industri peralatan logam, komputer, elektronik, optik dan peralatan listrik, serta industri kimia, farmasi, dan obat tradisional.
Meski demikian, Shinta mengingatkan pertumbuhan industri pengolahan tetap berada di bawah laju pertumbuhan ekonomi nasional nan mencapai 5,29%. Dengan kontribusinya nan besar terhadap PDB, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian lantaran industri manufaktur semestinya bisa tumbuh lebih sigap agar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nan lebih berbobot dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja formal.
Menurutnya, pertumbuhan industri juga belum merata lantaran tetap dibayangi sejumlah tantangan, seperti lemahnya permintaan di beberapa subsektor, perlambatan ekspor, tingginya biaya daya dan logistik, perubahan nilai tukar, ketergantungan terhadap bahan baku impor, hingga meningkatnya persaingan produk impor di pasar domestik. Di sisi lain, kenaikan biaya pembiayaan juga dinilai berpotensi menahan ekspansi bumi usaha.
Karena itu, Apindo memandang tantangan pada semester II 2026 bukan hanya mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 5%, tetapi juga meningkatkan kualitas dan keberlanjutannya.
"Pemerintah perlu menjaga daya beli masyarakat, stabilitas makroekonomi dan nilai tukar, serta kesiapan daya dan bahan baku dengan nilai nan kompetitif," tegas Shinta.
Selain itu, Apindo mendorong percepatan penyelesaian halangan investasi, penguatan kepastian dan konsistensi regulasi, perlindungan pasar domestik dari praktik perdagangan nan tidak adil, serta support terhadap peningkatan ekspor dan produktivitas industri.
Shinta menegaskan, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29% menunjukkan esensial permintaan domestik tetap terjaga. Momentum tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperkuat investasi produktif, mendorong pertumbuhan industri, meningkatkan ekspor berbobot tambah, serta menciptakan lapangan kerja nan lebih berbobot sehingga daya beli masyarakat dapat terus meningkat. (H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·