
Api Perang nan Membakar Kemanusiaan (Dok Pribadi)
Penulis: Ridwan al-Makassary
Dosen Jurusan Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII.
HARI-hari ini, ironi besar terjadi di Teluk. Ketika hujan semestinya membasahi tanah nan gersang, namun nan turun adalah hujan rudal. Di saat para intelektual sedang berkompetisi menyembuhkan penyakit, para jenderal di Tel Aviv dan Washington DC sibuk merancang strategi dan strategi gimana memandulkan sebuah peradaban.
Perang Israel-AS versus Iran, nan sekarang tetap berlangsung, bukan lagi sekadar buletin utama, melainkan juga sebuah pengakuan bugil bahwa sejauh ini, umat manusia kandas belajar apa pun dari sejarah Perang Dunia I dan II, nan telah menghancurlumatkan martabat manusia.
Para analis militer Israel-Amerika Serikat menjustifikasi bahwa tujuan minimal dari perang ini adalah "menghancurkan keahlian militer ofensif Iran”. Dengan ujaran lain, program rudal Iran kudu dilumpuhkan, dan juga angkatan lautnya dibuat tidak berdaya. Di sini, ada sasaran militer nan terdengar sangat masuk logika di atas kertas.
Namun, ada pertanyaan nan krusial diajukan, ialah apakah kita sedang membangun perdamaian di atas puing-puing rumah sakit? Apakah keamanan Israel bakal lebih kokoh ketika anak-anak di Tehran dan kota-kota lain di Iran dirundung ketakutan mencari ibunya di tengah gedung nan runtuh?
Di sinilah letak kerapuhan kemanusiaan kita. Tampaknya Isreal dan AS berpikir bahwa ini soal kesempatan nan dianggap "tidak boleh disia-siakan” untuk menghancurkan Iran. Dalam logika realpolitik, memang masuk akal: rezim di Tehran sedang lemah, ekonomi hancur, protes terbit di mana-mana.
Namun, dalam logika kemanusiaan, tidak ada kata "kesempatan" untuk membunuh. Seorang ibu di Gaza, seorang anak di Ukraina, alias sekarang seorang pemuda di Tehran, mereka semua adalah "kesempatan" nan sama-sama tidak boleh disia-siakan untuk dilindungi, bukan dihancurkan.
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·