Dedi Mulyadi gelar rakor dengan Kasad dan BMKG.(Dok Diskominfo Jabar)
PERMASALAHAN sampah dan mitigasi akibat tandus panjang di wilayah Jawa Barat merupakan dua agenda nan perlu mendapat perhatian dan penanganan khusus, terutama oleh pemangku kebijakan di 27 kabupaten/kota.
Untuk menangani persoalan ini, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melakukan Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Persampahan Serta Mitigasi Dampak Kemarau Panjang di Wilayah Jabar Tahun 2026. Rakor berjalan di Markas Besar TNI Angkatan Darat (Mabes AD) pada Kamis (4/6) nan juga dihadiri Kasad Jendral TNI Maruli Simanjuntak dan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani. Bupati/wali kota se-Jabar juga datang mengikuti rakor secara langsung. Rakor juga diikuti Dandim di wilayah Jabar melalui video conference.
"Rakor membahas dua agenda krusial nan dalam waktu dekat bakal dihadapi masyarakat di Jabar. Pertama, ancaman penumpukan sampah lantaran kapabilitas TPA Sarimukti maksimal hanya bakal bisa menampung sampah dalam waktu 6 bulan lagi. Kedua, musim tandus pada tahun ini bakal cukup panjang lantaran munculnya El Nino. Jabar merupakan salah satu wilayah di Indonesia nan bakal terdampak oleh kejadian El Nino ektrem alias El Nino Godzila," paparnya.
"Kita kudu antisipasi akibat tandus panjang ini, kekeringan apalagi kebakaran. Informasi dari BMKG, puncak tandus di Jabar bakal terjadi Agustus dan September. Saya meminta masukan dan info dari bupati walikota, memetakan penanganan masalah," ucapnya.
Gubernur menyebut, langkah antisipasi kudu sudah dilakukan secepatnya tanpa menunggu musibah muncul terlebih dulu. Oleh lantaran itu, dia membujuk TNI dan juga masyarakat lainnya nan peduli untuk bersama-sama mengantisipasi tandus panjang dan persoalan sampah. Langkah nan kudu dilakukan secepatnya ialah mendata wilayah nan selalu kesulitan air saat tandus agar kebutuhan harian dan pertanian terpenuhi.
"Siapkan mobilisasi air dari sumber air menggunakan mobil tangki. Ini perlu support dan kerjasama dengan TNI dan pengusaha air kemasan. Percepat pembangunan jaringan air bersih dan siapkan toren penampung air di setiap desa langganan kekeringan, kudu sudah dimulai agar tidak ada rebutan air," tandasnya.
Terkait penanganan sampah, gubernur mendukung rencana TNI untuk membangun pengolahan sampah berbasis waste to fuel. Melalui metode Pirolisis, sampah plastik bakal diolah menjadi bahan bakar (BBM).
"Kota dan Kabupaten Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat terancam tidak dapat membuang sampah ke TPA Sarimukti nan bakal penuh 6 bulan kedepan. Sehingga perlu beragam upaya pengurangan pembuangan sampah dan pengurangan sampah eksisting nan menumpuk di TPA. Salah satunya melalui teknologi nan dipakai TNI," ungkapnya.
Upaya nan sama lanjut gubernur, juga perlu dilakukan untuk wilayah Cirebon Raya, Bogor Raya dan Tasikmalaya. Upaya jangka pendek dengan sosialisasikan pengurangan sampah sejak dari rumah tangga dan jangka panjang dengan memanfaatkan teknologi, seperti waste to energy dan waste to fuel.
"Provinsi konsentrasi di tiga perihal pada APBD perubahan ialah jalan desa, PJU desa dan air bersih serta pengelolaan sampah," imbuhnya.
Kasad Jenderal Maruli terkesan dengan mobilitas sigap Dedi Mulyadi, nan sudah memandang potensi masalah besar bakal terjadi lantaran persoalan sampah dan tandus panjang.
"Gubernur nan paling serius melakukan mitigasi masalah sampah dan ancaman kemarau. Kami laporkan jika TNI sudah membangun sedikitnya 500 titik pengedaran air bersih, namun memang belum terdata dengan baik, kami bakal segera lakukan pendataan untuk antisipasi tandus khususnya di Jabar," terangnya.
Menurut Maruli, keterlibatan TNI dalam penanganan sampah tampak dari pembangunan waste to fuel di beberapa letak di Jabar, seperti di TPA Bantar Gebang dan TPA Sumur Batu Bekasi, TPA Galuga Bogor dan di TPA Sarimukti KBB. Saat ini Waste to fuel di Sarimukti siap mengolah sebanyak 10 juta ton, alias nyaris separuh dari kapabilitas nan ada saat ini sebanyak 25 juta ton.
Pengolahan dengan insenerator bersuhu diatas 800 derajat celsius juga sudah mulai beraksi di Ciwastra Kota Bandung pada bulan Mei lalu. Insinerator tersebut mempunyai kapabilitas pembakaran sebesar 800 ton per hari.
"Mau di Bogor, Tasik, Bandung, Karawang kita siap bangun waste to fuel. Tinggal kesiapan lahannya, pembangunan perlu waktu sekitar satu tahun," ujarnya.
Kemarau Datang lebih Cepat
Sementara itu Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani membenarkan tandus panjang nan bakal terjadi di Jabar. Bahkan musim tandus sudah mulai terjadi diwilayah pesisir pantai utara Jabar.
"Tahun ini tandus datang lebih cepat, lebih panjang dan lebih kering lantaran kejadian El Nino. Bulan Juni ini di Pantura sudah terasa, dan bulan Juli hingga Oktober bakal merata di Jabar, dimana puncaknya di bulan Agustus dan September," bebernya.
Teuku menyebut, secara umum musim tandus di Jabar bakal berjalan 3 sampai 7 bulan, sehingga tentunya diperlukan antisipasi kemungkinan musibah kekeringan. (AN/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·